Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Gajebo


__ADS_3

Azkara, Agam, dan anggota Eagle hair juga Jesh dan anggotanya berdiri di depan pintu UGD. Dokter sedang menangani Paris di dalam. Azkara juga sudah menghubungi orang tua Paris. Agam dan Azkara mondar mandir di depan pintu UGD. Mereka berdua adalah orang-orang yang paling terlihat cemas.


“ Abang, gimana nasib putri kita?? “ ucap Pipit kala mereka sampai di halaman depan rumah sakit tempat Bryan bertugas sekaligus tempat Paris di rawat.


“ Tenanglah, honey. “ sahut Bryan sambil merangkul pundak istrinya yang menangis sesenggukan. “ Paris tidak seperti gadis-gadis yang lain. Dia gadis yang kuat. Dia pasti baik-baik saja. Aku juga udah minta tolong ke pihak rumah sakit supaya memberikan penanganan yang terbaik untuk putri kita.


“ Semua ini gara-gara kamu sih bang. Kamu pakai kasih ijin Paris bawa keluar motornya lagi. Tah ieu nasib putri urang. Sanggeus ieu, Pipit teh nngak akan membiarkan Paris bawa motor lagi. “ ancam Paris dengan nada sedih di campur kesal sambil mengusap air matanya kasar.


Bryan menghela nafas kasar, lalu ikut-ikutan menghapus air mata Pipit. Tapi karena Pipit kesal sama sang suami, Pipit segera menepis tangan kekar suaminya yang sudah berada di pipinya.


“ Awas, jauh-jauh dari Pipit sana. Pipit masih kesel sama abang. “ protes Pipit.


“ Mana mungkin aku bisa jauh dari kamu. Jauh dari kamu itu berat loh honey. Aku mana kuat. Kalau di suruh gendong kamu baru aku kuat. “ sahut Bryan sambil mengeratkan rangkulannya.


Pipit melirik sejenak ke arah Bryan, “ Apaan sih! Gajebo. “


“ Gazebo? Di rumah sakit mana ada gazebonya honey. “


“ Heh, begini nih nasih kawin sama orang yang udah tua. Nggak gaul sama sekali.” Keluh Pipit. “ GAJEBO, abang…Bukan GAZEBO…GAJEBO, ga jelas boooo’” jelas Pipit.


Bryan mengusap tengkuknya. “ Udah tua tapi tetep kamu kang*kan*in kalau malam. “ gumam Bryan lirih. Tapi sayang, ternyata gumamannya masih terdengar sang istri.


Sontak Pipit memberikan tatapan tajamnya. “ Awas aja kalau besok minta. Nggak bakalan Pipit kasih. “ ancam Pipit kesal. Lalu ia berjalan mendahului sang suami, sehingga rangkulan Bryan terlepas. Bryan hanya bisa bernafas panjang.


“ Azka….” Panggil Pipit kala melihat Azkara.


Azkara langsung menengok, dan setelah melihat Pipit datang, Azkara segera menghampirinya. “ Tante…” sapa Azkara.


“ Gimana keadaan Paris? “ tanya Pipit.


“ Belum tahu, tan. Dokter yang menangani belum keluar dari ruangan. “ jawab Azkara.


“ Om…” sapa Azkara saat melihat Bryan juga sudah ada di sana. Semua yang ada di sanapun menoleh, termasuk Agam.


‘ Oh, jadi ini orang tua Paris. ‘ batin Agam.


‘ Oh, ternyata bokap gadis itu bule asli. Pantesan wajah gadis itu blasteran. Nyokapnya juga cantik. Makanya Paris juga cantik dan imut. ‘ batin Jesh.


“ Bagaimana bisa Paris sampai kecelakaan ? “ tanya Bryan ke Azkara.

__ADS_1


“ Maafin Azka om. Azkara yang lalai nggak bisa jagain Paris dengan baik. “ jawab Azkara sambil menunduk.


Bryan menghela nafas panjang, lalu menepuk pundak Azkara perlahan. “ It’s oke. Parisnya om gadis yang kuat. Dia pasti baik-baik saja. “ sahut Bryan.


“ Honey, aku akan masuk melihat kondisi putri kita. Kamu tunggu di sini dulu. “ pamit Bryan ke Pipit. Pipit menganguk, lalu sebelum masuk ke dalam ruangan, Bryan mengecup kening sang istri dan membelai pipi sang istri. “ Jangan terlalu khawatir. Berdoalah semoga putri kita baik-baik saja. “ ujar Bryan dan Pipit menganggukkan kepalanya pelan.


Bryan masuk ke dalam ruangan. Ketika ia masuk, keadaan sedikit gaduh. Bryan semakin melangkah mendekat ke brankar yang tertutup korden sambil mengernyitkan kedua alisnya.


“ Nggak mau! “ terdengar suara seorang gadis yang sangat ia kenali. Bryan segera membuka korden yang menutupi tadi.


“ Sayang…” panggil Bryan.


“ Daddyyy….Paris nggak mau di infus. Jarumnya gede, daddy…” rengek Paris sambil mengulurkan tangannya ke arah sang Daddy untuk minta di peluk. Paris memang paling manja dengan sang Daddy. Baru setelah itu dengan sang bunda.


Bryan menerima uluran tangan putri cantiknya dan memeluknya sambil berucap syukur karena sepertinya sang putri baik-baik saja.


“ Bagaimana kondisinya dok? “ tanya Bryan ke dokter yang menangani Paris setelah ia melepas pelukan sang putri.


“ Semua baik dok. Hanya ada luka lecet-lecet, terus sedikit memar. Luka paling dalam ada di lutut. “ jelas dokter yang menangani Paris. “ Kalau organ dalam, semua baik-baik saja. Tidak ada keretakan tulang atau pendarahan, dan semacamnya. Kami juga sudah melakukan citiscan, dan hasilnya bagus. Tidak ada yang terluka. Hanya sedikit otot kakinya terkilir.” Lanjut dokter itu.


Bryan nampak manggut-manggut.


“ Kamu ini katanya jagoan…Tapi sama jarum infus aja jiper. “ ledek Bryan.


“ Jarumnya gede loh Dad. “ bela Paris. Membuat dokter dan perawat yang ada di sana menahan senyumnya. Kebanyakan dokter dan perawat di rumah sakit itu tahu siapa Paris. Putri dokter spesialis dalam dan bedah, yang sikapnya mirip laki-laki. Jago berantem, jado balapan, jago panjat tebing bahkan panjat pinang.


“ Bisa tinggalkan kami dulu sebentar? Nanti kalau saya butuh, saya akan panggil dokter lagi. “ pinta Bryan dan di jawabi anggukan oleh sang dokter. Lalu dokter itu meninggalkan ayah dan anak itu berdua.


“ Sayang, coba ceritakan sama Daddy, bagaimana bisa kamu yang jago balapan bisa jatuh kayak gini? “ tanya Bryan lembut. “ Bundamu marah-marah sambil nangis dari tadi. “


“ Daddy, Paris tadi balapan. Taruhan sama geng motor lain. Duitnya lumayan gede kalau paris menang. Lumayan bisa kita sumbangin ke panti yang ada di daerah jakarta barat. Kasihan loh Dad mereka. Mereka kekurangan dana banyak karena jumlah anak pantinya banyak. Tapi geng motor itu maunya kalau mereka yang menang, Paris harus mau jadi ceweknya ketua geng itu. Gila aja. Kenal aja nggak. Asal minta jadi kekasih. “ cerita Paris.


“ Terus? “ tanya Bryan masih menyimak dengan baik cerita sang putri.


“ Nah kan di awal lap Paris berada di depan terus. Pas di lap akhir, tiba-tiba motornya dia kenceng banget larinya. Paris yakin nggak bakalan bisa ngalahin dia. Jadinya ya…Paris mengorbankan diri biar taruhannya batal. Paris sengaja membuat motor Paris di tabrak sama dia. “ lanjut Paris.


Bryan menggelengkan kepalanya mendengar cerita Paris. “ Sayang, apa yang kamu lakukan ini sangat berbahaya. Jangan pernah melakukan hal nekat kayak gini lagi. “


“ Daddy tenang aja. Paris sudah memperhitungkan semuanya. Makanya luka Paris nggak parah. Paris nggak bakalan bunuh diri, daddy. “

__ADS_1


“ Bagaimana seandainya perhitunganmu meleset ? “


“ No, Dad. Paris udah yakin. Oh iya Dad, apa teman-teman Paris masih ada di sini? “


“ Masih. Banyak banget tuh di luar. “ jawab Bryan sambil menunjuk arah luar denagn dagunya karena sedari mendengarkan cerita dari Paris, Bryan menyilangkan kedua tangannya di dada.


“ Apa yang berwajah India juga masih ada? “ tanya Paris pelan.


Bryan mengangguk. Lalu Paris menepuk jidatnya sendiri.


“ Why? “ tanya Bryan sambil mengernyitkan dahinya.


“ Dia lawan paris tadi Dad. Yang mau jadiin Paris kekasihnya. “


“ Dia tampan. Kenapa kamu nggak mau jadi kekasihnya? Bundamu pasti sangat bahagia kalau kamu punya pacar. “ goda Bryan dan Paris segera mencebikkan bibirnya.


“ Daddy, Paris lagi serius loh ini. Paris mau minta tolong sama Daddy. Daddy jangan bilang sama mereka kalau keadaan Paris baik-baik aja. Paris beneran nggak mau jadi pacarnya tuan takur. Tadi Paris bela-belain pura-pura pingsan loh. Paris tadi emnag beneran pingsan sih, tapi waktu di angkat ke ambulans, Paris udah sadar. “


“ kenapa harus pura-pura? Bukannya taruhannya udah gagal? “


“ No, dad. Mereka akan menuntut jika tahu kondisi Paris nggak parah. Mereka akan mengatakan kalau Paris licik. “


“ Tapi bukankah memang seperti itu? “ goda Bryan.


“ Daddyyyyy…” rengek Paris.


Bryan tertawa perlahan. “ Kalau kamu ingin berakting, berarti kamu memang harus rawat inap di sini. Paling tidak tiga hari. Dan harus pakai infus biar mereka percaya kalau kondisimu buruk.” Ucapnya sambil mengangkat tiga jarinya.


“ Paris nggak mau di infus, daddy. “ rengek Paris kembali.


“ Sayang, berakting itu juga butuh pengorbanan. Mana ada mereka percaya kondisimu buruk kalau kamu pulang ke rumah dan tidak diinfus. “


Paris terdiam dan berpikir, lalu manggut-manggut.


“ Tapi Daddy temenin Paris. Paris takut sama dokter yang tadi. “


“ Daddy yang akan memasang infusnya. “ sahut Bryan.


Bersambung

__ADS_1


Kalau baca episode yang kemarin tegang, baca episode ini pasti ngakak ..🤭


__ADS_2