
" Adduuhhh.... Kenapa perih banget gini sih? " keluh Paris sambil berusaha turun dari ranjang. Ia berniat mengenakan baju sebelum suaminya keluar dari dalam kamar mandi.
Membayangkan suaminya keluar dari dalam kamar mandi dengan berte-lanjang, membuat otak miring Paris kembali berselancar. Otot perut sixpack, dada yang kekar, dan ular yang gede... Uuuhhhh... Dasar otak si Paris yang sebelas dua belas sama emaknya.
" Stop, Paris... Stop!!! Jangan di bayangin mulu. Malah bikin lo baper dan pengen ngerasain gimana yang semalem. Malu Rissss kalau lo minta lagi... " gumamnya sambil menonyor kepalanya sendiri.
Paris mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari segitiga bermudanya setelah ia berhasil meraih gaun dan br@nya. Tapi naas, segitiga bermudanya tak terlihat oleh penglihatannya.
" Ah, yang penting pakai baju. Kagak usah pakai can-cut juga kagak apa-apa. Kalau dia mau lagi tinggal kasih ini. Kesempatan ngerasain yang semalam kayak apa. " ujar Paris sekenanya sambil memakai br@ dan kemudian mengenakan gaunnya yang semalam lagi.
Setelah ia selesai mengenakan baju dan hendak menarik resleting gaunnya, ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Paris segera meraih ponselnya dan membuka aplikasi hijaunya.
📩 Gimana semalem, Ris? Lancar nggak? Enak nggak rasanya?
Ternyata pesan dari sang bunda.
📩 Lancar apanya bund?
📩 Minuman dari bunda...😊🤭
" Jadi kerjaan bunda sama Daddy nih pasti... Emang semalam gue di kasih minuman apaan sih sama bunda? Semalam badan gue rasanya kayak panas, gerah gerah aneh gitu. " ujar Paris bermonolog.
Ceklek
Pintu kamar mandi di buka dari dalam. Paris segera mengangkat pandangannya dan menatap laki-laki yang baru keluar dari dalam kamar mandi. Tapi beberapa saat kemudian, Paris terlihat kecewa.
' Loh, kok dia udah pakai baju aja sih? Kan gue masih pengen lihat ular purbanya. Pengen lihat tubuh atletisnya. ' kesal Paris dalam hati.
" Kamu kenapa? " tanya Agam saat melihat perubahan mimik wajah Paris.
" Hem? " Paris sedikit terkejut. " Ng-nggak pa-pa. " Paris segera merubah raut wajahnya dengan senyuman manisnya. Senyuman yang mungkin selama ini belum pernah ia perlihatkan ke siapapun.
Agam mengernyitkan dahinya melihat perubahan mimik wajah Paris. " Kamu mau mandi dulu? Atau mau kita sarapan dulu? " tanya Agam.
" Ya mandi dulu lah. Masak iya mau sarapan dulu. Jorok kali. " jawab Paris. Lalu ia segera berdiri, dan lagi-lagi ia merasakan perih di bagian bawahnya.
Paris terlihat memejamkan matanya sesaat.
' Ugh, sakit bener. Ah, Paris... Lo masak cuma sakit gini aja lebay. Biasanya lo kena tonjok aja nggak pernah ngeluh. ' Paris mencoba memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
" Paris, kamu nggak pa-pa? " tanya Agam yang melihat raut wajah Paris seperti menahan rasa sakit.
' Apa yang semalam bikin dia sakit? ' tanya Agam dalam hati.
" It's oke. Aku nggak pa-pa. " jawab Paris lalu ia buru-buru berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi.
🌷🌷🌷
Sedangkan di kamar sebelah. Drama pagi pun terjadi.
" Hiks.... Hiks... " Ratu menangis tersedu-sedu.
" Udah dong sayang... Jangan nangis terus... " pinta Arvin entah sudah yang ke berapa kalinya. Ia di bikin bingung oleh kelakuan istri kecilnya.
Plak
Ratu malah memukul lengan Arvin dengan keras.
" Abang jahat!!! Hua ... Hua.... " seru Ratu.
" Kok, abang jahat? Jahat gimana? " tanya Arvin kebingungan.
" Abang bilang semalam, abang juga kesakitan sama kayak Queen. Tapi abang bohong. Abang nggak ngerasain sakit kayak Queen kan? " ujar Ratu.
" Ab-abang sakit juga kok kayak kamu. " jawab Arvin agak tergagap.
" Bo'ong. Kalau emang abang sakit sama kayak Queen, kenapa tadi abang minta lagi? Abang ngajakin gituan lagi? Hiks... abang jahat.. Abang nggak sayang sama Queen. " seru Ratu kembali.
" Lah... Abang sayang lho sama Queen. Sayang banget malahan. "
" Kalau Abang sayang sama Queen, kenapa abang bikin ini Queen sampai bengkak dan merah. Bahkan semalam sampai berdarah??? " ujar Ratu.
" Sayang, kamu harusnya seneng kalau pertama melakukan itu sama suami kamu terus berdarah. Itu tandanya memang kamu masih ting-ting. Kalau soal bengkak.... " Arvin serba salah. Kalau itu memang salah dia karena ia yang terlalu bersemangat menggempur istrinya semalam sebanyak dua kali, dan pagi tadi ia meminta lagi.
Arvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meneruskan ucapannya dengan lirih, " Kalau yang bengkak .. Abaaaang... minta maaf. "
" Kamu pakai baju dulu, berhenti nangisnya, nanti masuk angin kalau kamu pakai handuk terus kayak gini. Nanti habis kita sarapan, Abang beliin salep biar bengkaknya cepet hilang. Sakitnya juga cepet hilang juga kalau di kasih obat. " rayu Arvin.
" Nggak adil ini namanya. Kalau punya Queen sakit sampai bengkak gini, punya Abang kan mesti nggak. " ucap Ratu dengan wajah sendunya.
__ADS_1
" Sama kok. Punya abang juga bengkak. " jawab Arvin sekenanya.
" Bohong. Mana coba Queen lihat bengkak apa nggak. "
" Ha??? " Arvin terbengong karena terkejut dengan permintaan istrinya.
" Kok malah bengong sih? Ayo cepetan Queen lihat. Buktiin ke Queen kalau punya Abang juga bengkak dan merah. " pinta Ratu sambil menarik celana pendek Arvin.
" Ya ampun sayang .. Jangan di tarik gini. Emang kamu nggak malu lihat punya abang? " tanya Arvin berusaha menghindar.
" Ngapain malu? Kan abang tadi juga lihat punya Queen. Queen tadi kasih lihat ke abang punya Queen. Sekarang abang juga harus kasih lihat punya Abang. "
Arvin menyunggar rambutnya lalu mengusap wajahnya kasar. Kesempatan itu di gunakan Ratu untuk membuka paksa celana Arvin, dan terpampanglah apa yang ingin di lihat oleh Ratu.
" Tuh, kan.... Punya abang nggak bengkak. " protes Ratu. Dan Arvin masih bingung harus bagaimana.
" Punya abang juga nggak merah. Punya abang.... Kok letoy gitu bang? " pertanyaan absurb dari mulut Ratu dan tampang polosnya membuat Arvin ingin tertawa terbahak-bahak.
" Sayang, punyaku ini cuma kamu sentuh aja pasti akan langsung bengkak. Kalau udah bengkak, dia juga pasti nggak letoy lagi. " jawab Arvin tak kalah absurb.
" Bo'ong. Mana mungkin cuma di sentuh bikin bengkak. " jawab Ratu.
" Beneran. " sahut Arvin sambil hendak membetulkan celananya.
" Jangan di tutup dulu. Queen mau pegang dulu. Beneran nggak bisa bengkak. " larang Ratu.
" Queen, no. " pekik Arvin kala tangan Ratu hendak menyentuhnya. " Jangan di pegang. Abang bisa pening kalau kamu pegang dia. "
" Haisss.... Abang pasti pengen bohongin Queen ya. Nggak bisa! Pokoknya Queen pengen pegang. Queen pengen buktiin. " kekeh Ratu.
" Queen.... " belum juga Arvin berucap utuh, Ratu sudah memegang si dedek emes.
" Wuaaahhhh.... Kok bisa bang? Tuh... Kok bisa kayak transformer? Kok bisa bang??? " Ratu terlihat terkejut dan terkesima sambil menutup mulutnya tapi dengan mata yang membelalak.
Bukannya berhenti, tapi ratu malah memegang kembali si dedek Arvin membuat Arvin mengerang.
" Sayang, stop. Kamu lagi sakit! Jadi jangan bangunin si dedek. Kalau dedek mau bangun, nidurinnya susah. " keluh Arvin sambil mencekal tangan istrinya yang malah terlihat senang memegang si dedek.
" Bagus loh bang. Aneh deh... Kok bisa gitu ya? Ha.... ha... ha... " Ratu malah tertawa terbahak-bahak. Dan Arvin segera berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk menidurkan si dedek emesnya kembali.
__ADS_1
Pusing.... Pusing deh lo Vin.... Nasib punya bini masih kecil dan terlalu polos.... 🤦🏽♀️🤦🏻♀️
bersambung