
Tak terasa, kegiatan family gathering SMA Pelita masuk di hari kedua. Hari yang akan menjadi hari yang melelahkan. Karena hari ini mereka akan melakukan pencarian jejak di hutan lindung yang ada di daerah puncak. Paris sudah siap dengan tas ransel di punggung yang berisi minuman, sedikit makanan, lampu senter, dan segala peralatan lain yang biasa Paris bawa kala ia melakukan pendakian ataupun panjat tebing.
Memakai kaos oblong berwarna biru laut dengan rompi di luaran, kemiduan celana pendek di atas lutut, memakai topi kesayangannya dan rambut coklatnya ia kuncir kuda. Sepatu kets menutupi kakinya.
Azkara dan Agam juga sudah siap. Mereka juga memanggul tas ransel mereka. Mengenakan kaos oblong lengan pendek yang sedikit press body, membuat tubuh kekar mereka terlihat. Sama seperti Paris, mereka juga memakai celana pendek selutut. Jangan lupakan topi, juga terpasang di kepala mereka.
Kini mereka berada di lapangan bersama seluruh siswa. Tapi mereka bergerombol bersama masing-masing kelompoknya. Dari tempatnya, Agam bisa melihat semua penampilan seluruh siswa perempuan. Lalu ia melirik salah satu siswi yang dari pertama masuk ke sekolah telah mencuri perhatiannya. Agam tersenyum tipis kala melihat perbedaan penampilan semua cewek dengan satu cewek yang ada di dekatnya.
Paris memang lain daripada yang lain. Kalau siswi yang lain pada memilih untuk mengenakan celana panjang, kemeja berlengan panjang, jaket, sarung tangan, untuk menutupi tubuh mereka dari sengatan matahari dan hewan yang ada di hutan sana, Paris justru mengenakan celana pendek. Bahkan kaos panjangnya ia lipat sampai ke siku.
Ada juga dari siswi-siswi itu malah mengenakan rok pendek selutut dan kaos tangtop. Dandanan yang wow, lipstik lumayan tebal, pakai eyeshadow, eyelash, maskara, bahkan ada yang sampai menggunakan bulu mata pasangan. Gila, emang mereka mau ke mall? Pikir Agam sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“ Gimana, sudah jelas semuanya?” tanya sang ketua panitia ketika ia selesai menjelaskan.
“ Jelas. “ teriak dari seluruh peserta.
Dan tak lama kemudian, kegiatan itu mereka mulai. Mereka mulai berjalan menyusuri jalanan yang telah di beri tanda oleh panitia setempat. Mereka berjalan bersama dengan kelompok mereka masing-masing.
“ Ih, kenapa jalanannya jelek gini sih? Becek lagi. Kenapa nggak di aspal coba. Ck. Kalau tahu kayak gini jalannya kan gue bisa minta bokap buat aspal nih jalan sebelum sekolah kita adain acaraa kayak gini. “ gerutu salah satu anggota tim Azkara yang bernama Reina.
“ Namanya juga jalanan hutan, neng. Kalau mau cari yang nggak becek, terus aspalan, noh di jalan raya. “ sahut teman satu kelasnya yang bernama Max dengan nada sedikit kesal. Tadinya Max enggan satu tim dengan Reina. Karena Reina terkenal lebay dan manja. Jadi Max yakin jika dirinya akan di buat susah sama temannya ini.
__ADS_1
“ Lihat nih, sepatu gue jadi kena lumpur semua. Sepatu baru ini. Udah gitu nyamuknya banyak lagi. “ keluhnya lagi sambil mengangkat kakinya memperlihatkan sepatunya dan memukul lengannya karena di gigit serangga. “ Tuh, kulit gue jadi bentol-bentol gini. Mana panas lagi. “ tambahnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“ Lagian siapa suruh lo pakai sepatu baru warna putih lagi. Terus, siapa juga yang nyuruh lo pakai baju minim gitu? Udah tahu kita mau hiking. Panas-panasan, menelusuri hutan. “
“ Tapi kan kulit gue bisa jadi item entar. “
“ Ha…” Max tertawa mengejek. “ Kulit lo kan emang asli item. “
“ Eh, enak aja ya. Kulit gue putih ya. “ protesnya sambil terus berjalan. Agam, Paris, Azkara dan yang lain hanya mendengarkan percakapan dua orang itu sambil menggelengkan kepalanya.
“ Putih karena lo perawatan. Coba nggak. Makanya lo takut kena panas. Kalau kena panas, kulit lo bakal balik item lagi. “ timpal Kevin.
Reina langsung menoleh ke arah Kevin yang ada di belakangnya dan menatap dengan tatapan tajamnya. “ Apa lo bilang? “
“ Ck. “ Reina berdecak sambil melirik kaki Paris yang sedang berjalan di depannya. “ Azkara, kita istirahat dulu yuk. Capek gue. Haus. “ rengeknya ke Azkara sambil menarik lengan Azkara yang sedang berjalan di samping Paris.
“ Kita baru jalan dua puluh menit. Belum saatnya kita istirahat. Kalau kita nggak mau terlambat kembali ke camp. “ jawab Azkara sambil menoleh ke belakang sebentar.
“ Tau’ nih anak. Berisik aja dari tadi. “ protes Max.
“ Apaan sih lo. Lo tuh yang berisik. “ sahut Reina.
__ADS_1
“ Eh, neng. Dari tadi, di antara kita semua, lo tuh yang ngeluh terus. “
“ Ya wajar lah kalau gue ngeluh. Secara kan gue cewek. Wajar mengeluh mendapati kondisi yang kayak gini. “
“ Hellooo….Lo lihat, di sini yang cewek bukan Cuma lo. Lo lihat si Paris sama Yunita. Mereka juga cewek. Tapi nggak ngeluh mulu kayak elo. “ sahut Max sambil menunjuk Paris dan Yunita anggota tim mereka yang bergender cewek dengan pandangannya. Reina menatap ke arah Paris dan Yunita dengan kesal. Setelah itu, ia terdiam.
Mereka kembali meneruskan perjalanan dengan tenang. Jalanan di depan menyempit dan gerumbul serta agak naik. Mereka harus berjalan satu-satu, sambil menyibak rerumputan yang tumbuh di sekitarnya. Kembali suara Reina terdengar.
“ Azkara…bisa nggak kamu jalan di depan atau di belakang gue? Gue kesusahan nih jalannya. Lo tahu kan, kondisi kayak gini tuh yang pertama buat gue. “ rengeknya ke Azkara.
Azkara menghela nafas berat. Sebenarnya ia juga malas berada di tim yang sama dengan gadis satu ini. Karena Reina, gadis ini sudah semenjak kelas X selalu mendekatinya. Mengharapkan cintanya. Apalagi keluarga gadis ini mengenal keluarga Azkara. Bahkan kemarin sebelum berangkat, keluarga Reina sempat menitipkan Reina ke Azkara.
“ ka….” Panggi Reina lagi karena Azkara nampak cuek saja.
“ Ada Max sama Kevin di sana. Sama saja. Dia juga anak sering ikut kegiatan seperti ini juga. “ sahut Azkara menghentikan langkahnya sesaat.
“ Ihhh…Ka, kan lo yang di titipin sama papi buat jagain gue. Lagian Max sama Kevin mulutnya kayak petasan. Sekali bunyi, bikin telinga sakit. “ ucap Reina. “ Ayolah Ka…Paris kan udah biasa dalam keadaan kayak gini. Nggak perlu jagain juga dia nggak bakalan kenapa-kenapa. “ lanjutnya. Yah, sedari tadi Azkara memang selalu berada di dekat Paris.
“ Lo…”
“ Udahlah Ka, lo temenin dia aja. “ potong Paris. “ Daripada kita nggak nyampe-nyampe. Berisik mulu dianya. “ keluhnya.
__ADS_1
Nah, sekarang jika ibu Ratu sudah berbicara, mau tidak mau Azkara harus mengikutinya. Sambil menghela nafasnya kesal. Azkara berpindah di belakang Reina. Dan sekarang, Agam yang berada di posisinya tadi. Berada tepat di belakang Paris. Agam menimbulkan senyuman tipisnya. Ini yang dia tunggu sedari tadi. Kesempatan untuk bisa dekat dengan gadis pujaannya.
Bersambung