
Brak
Edo dan Ratu sama-sama menoleh ke arah pintu masuk. Bahkan mereka belum sempat menutup mulut mereka karena sedang tertawa.
“ Ab-abang…” ujar Ratu.
Nampak seorang Arvin berdiri di ambang pintu dengan keringat bercucuran di pelipis dan sorot mata penuh kekhawatiran. Sudah bisa di pastikan kalau dirinya tadi berlari dari tempat parker ke ruang UKS yang letaknya berada di gedung paling belakang sekolah. Sedangkan tempat parker berada di bagian paling depan.
Tapi sorot kekhawatiran itu berubah menjadi tatapan tajam saat netra hezelnya melihat seorang laki-laki sedang bercanda bersama Queennya. Edo mengalihkan pandangannya ke samping karena tidak berani bersitatap dengan mata hazel itu.
“ Abang…” panggil Ratu karena ia masih mendapati Arvin tetap berada di posisinya. Berdiam tak bergeming di tempatnya.
Mendengar suara Ratu, Arvin kembali menolehkan pandangannya ke Ratu. Sorot mata kekhawatiran kembali menyelimuti mata hazel tersebut. Arvin melangkah dengan langkah lebar ke arah ranjang.
“ Queen, are you oke? “ tanya Arvin saat dirinya sudah berada di samping ranjang. “ Bagaimana kamu bisa terjatuh? Mana yang sakit? Bilang sama abang. “
“ Bang Ar, Queen baik-baik aja. Tadi hanya kecelakaan kecil. Kaki Queen Cuma keseleo dikit. “ jawab Ratu lirih.
“ Mana yang keseleo? Biar abang lihat. “ tanya Arvin sambil mengalihkan pandangannya ke kedua kaki mulus milik Queennya.
“ Kaki kanan bang. Pas di bawah mata kaki. Tapi tadi udah di pijit sama guru olahraganya Queen. “ jawab Ratu.
“ Laki-laki apa perempuan? “ tanya Arvin dengan suara datarnya. Pertanyaan yang membuat Ratu mengernyit dan memandang Arvin dengan pandangan bingung. Bahkan Edo yang masih ada di ruangan itu juga menatap Arvin dengan tatapan bingung.
“ Gurunya laki-laki apa perempuan? “ tanya Arvin kembali karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya yang pertama.
“ Laki-laki. Kan namanya pak Junet. “
“ Ck. “ Arvin berdecak kesal. “ Lain kali jangan mau di pegang laki-laki sembarangan. Kalau kaki kamu sakit, atau ada apa-apa, kamu bilang aja sama abang. “ lanjutnya dengan nada posesif sambil melihat kaki kanan Ratu yang keseleo.
Ratu hanya mengangguk meski dia tidak begitu mengerti maksud dari sang abang. Tapi beda dengan Edo. Sepertinya Edo menangkap sinyal-sinyal aneh dari abangnya Ratu ini.
‘ Ada hubungan apa mereka ini? Kenapa kalau Cuma abang sama adik kok posesif akut kayak gini. Jangan-jangan…laki-laki yang mengaku-ngaku abangnya Ratu ini ada udang di balik bakwan. ‘ batin Edo sambil mengusap daganya dan menatap interaksi Arvin memperlakukan Ratu.
__ADS_1
“ Kaki kamu bengkak. “
“ Cuma dikit doang bang. “
“ Sepertinya guru kamu itu Cuma modus mijit kaki kamu. Kakimu yang keseleo masih tetap posisinya. “ ujar Arvin setelah dia memperhatikan kaki Ratu dengan seksama tapi tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
“ Tapi kaki Queen udah baikan kok bang. Udah nggak sakit. Berarti udah nggak belok lagi uratnya. “ sahut Ratu.
“ Yakin? “
Ratu mengangguk. Tapi sesaat kemudian, ia menjerit, “ Aaaaa…..Sakit baaanggg….”
“ Katanya udah di pijit? Udah sembuh? Udah nggak sakit? “ sahut Arvin dengan nada suara entengnya, setelah ia selesaimemegang kaki Ratu pas di bagian yang sakit.
“ Tadi bilangnya pak Junet uratnya udah bener kok. “ sahut Ratu dengan cemberut.
“ Berarti gurumu tidak begitu pintar memijit. Pasti hanya modus. “ ujar Arvin. “ Kamu tahan sakitnya bentar. Abang pijit. “ lanjutnya. Sekarang Arvin nampak sedang mencari sesuatu di atas meja. Setelah mendapatkan barang yang ia cari, yaitu minyak zaitun, Arvin mengoleskannya sedikit ke kaki Ratu.
“ Ssssttt…Jangan kenceng-kenceng teriaknya. Entar di kira abang ngapa-ngapain kamu lagi. “ canda Arvin.
“ Sakit tahu bang. “ protes Ratu.
“ Tadi saat di pijit sama guru kamu, kamu juga teriak-teriak kayak tadi? “ tanya Arvin memandang ke arah Ratu.
Ratu menggeleng. “ Tadi pak Junet mijitnya nggak sakit. “ ujarnya lirih.
“ Itu karena dia hanya modus mijitin kamunya. “ sahut Arvin asal. “ Sekarang, abang yang mijit nggak pakai modus. Jadi jelas sakit. “ lanjutnya.
Ratu semakin cemberut saat mendengar ucapan Arvin. Bahkan bibirnya sudah ia manyunkan.
“ Siap-siap. Abang pijit lagi. Jangan teriak-teriak kayak tadi. Kalau sakit, mending gigit nih lengan abang. Eh, jangan gigit. Sakit. Peluk abang aja. “ canda Arvin.
“ Sama modusnya. “ gumam Edo lirih. Tapi sayangnya masih di dengar oleh Arvin.
__ADS_1
“ Lo ngapain masih di sini? Mau jadi satpam? “ tanya Arvin dengan tatapan tajamnya.
“ Abang ih. Kak Edo nih dari tadi udah nemenin Queen loh. Bukannya abang bilang makasih. “ protes Ratu.
“ Lagian saya di sini juga sambil nungguin si Paris bang. “ sahut Edo kesal.
“ Paris? Oh iya, kemana anak itu? “
“ Mintain ijin buat Queen biar Queen bisa pulang. “
“ Oh. “ Arvin hanya menjawab dengan oh ria dan mengangguk.
Arvin mengoles kembali minyak zaitun ke kaki Ratu. Ia mendudukkan pan*tatnya di atas ranjang. Ia mengambil posisi duduk menghadap ke Ratu.
“ Pelan-pelan adddja baang…” pinta Ratu sambil menahan rasa sakit saat tangan besar Arvin mulai mengurut kakinya yang keseleo tadi.
“ Iya, ini abang juga pelan ngurutnya. “ jawab Arvin sambil mengurut perlahan kaki Ratu. Tangan besar Arvin terus mengurut. Sedangkan Ratu meringis menahan sakit, ngilu dan entah apa lagi. Si Edo juga ikut-ikutan meringis ngilu melihatnya. Sesekali mata Arvin melirik ke arah ratu sambil tersenyum tipis. Melirik wajah yang hampir tiga minggu ini membuatnya hampir gila karena menahan rasa rindu.
Arvin menghentikan sesaat urutannya. Ia memberikan waktu sebentar kepada Ratu untuk menghela nafas panjang. Ia memandang wajah Ratu yang masih memejamkan matanya akibat menahan rasa sakit. Senyum tipis kembali terbit dari kedua sudut bibir Arvin. Edo kembali mengamati pandangan mata Arvin. Dan lagi-lagi ia harus mengernyit. Apalagi saat melihat senyum tipis penuh arti yang terkembang dari sudut bibir Arvin.
‘ Gue harus konfirmasi langsung sama Paris masalah ini. Nggak bisa di biarin ini mah. Bisa dosa besar kalau sampai apa yang gue pikirkan jadi kenyataan. “ gumam Edo dalam hati.
Rupanya Edo belum tahu jika Arvin bukanlah kakak kandung dari seorang Ratu Malvinia Adiguna. Ia mengusap wajahnya kasar. Ingin rasanya ia keluar dari dalam ruangan itu. Tapi ia kembali berpikir, apa yang akan terjadi jika dirinya keluar ruangan dan membiarkan Arvin bersama Ratu sendiri dengan tatapan penuh minat itu.
Ratu membuka matanya perlahan saat nafasnya tenang. Deg…
Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Arvin yang intens dan dalam. Tatapan mereka saling terpatri. Bahkan Ratu sampai lupa untuk berkedip dan bernafas. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang seperti habis marathon. Bahkan berdetak lebih kencang dari saat ia sedang lari tadi di lapangan.
Bersambung again…..
...Jangan marah dan kesal ya saat othor menulis kata bersambung…..Maklum lah…othor juga butuh rehat otak…Otak juga perlu di refresh…...
...Yang penting buat kelean semua , jangan lupa untuk menggoyangkan jari jempol kelean di lambang like…okeh??okeh??okeh??...
__ADS_1