Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Masih bahas cemburu


__ADS_3

" Sekarang, ceritakan. Bagaimana kalian bisa sakit perut secara bersamaan? Apa kalian makan makanan yang sama? " tanya Bryan setelah semua keluarga berkumpul di dalam ruang rawat inap rumah sakit.


" Mereka tidak memakan makanan yang sama, Dad. Tapi mereka sedang berada di suasana hati yang sama. " jelas Paris.


Semua anggota keluarga sama-sama mengernyit bingung.


" Suasana hati yang sama? " tanya Bryan.


" Hem. " Paris dan Ratu mengangguk dan mengiyakan bersamaan. Agam dan Arvin sama-sama memandang tajam ke arah istri-istri mereka. Tentu saja mereka tidak ingin istri mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya. Karena sudah pasti, mereka akan mendapatkan ejekan.


" Mereka sama-sama di buatkan oleh rasa cemburu. " ucap Paris dan Ratu bersamaan. Semua yang ada di sana sama-sama menahan tawanya.


" Cemburu? Sama siapa? Emang kalian berdua habis jalan atau ngobrol sama siapa? " tanya Seno .


" Sama Azkara. " jawab Paris.


" Sama sepupunya Azkara. " jawab Ratu. Paris dan Ratu menjawab di waktu yang bersamaan.


" Apa? Azkara datang ke rumah? " kini Pipit yang bertanya.


" Nggak bund. Jadi gini ceritanya. Paris sama kak Ratu kemarin pagi kita jalan ke mall. Nah, karena mas Agam sama bang Ar lagi ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal, kita berdua jalan sendiri. Nah, di mall sepupu Azkara minta tolong sama kak Ratu buat milihin kado. Habis itu, nggak sengaja lagi kita ketemu sepupu Azkara itu di resto. Pas kita baru aja duduk, Azkara nya dateng buat nyamperin sepupunya itu. Akhirnya, kita duduk berempat di meja yang sama. " jelas Paris.


" Dan ternyata, bang Arvin sama Agam sama-sama nyuruh anak buahnya buat ngikutin kita. Mereka kayaknya dapet laporan deh dari anak buah mereka itu. Terus, datanglah mereka nyamperin kita di resto. " lanjut Ratu .


" Karena suasana hati yang panas, pesanlah mereka makan siang yang bikin perut mereka sakit. " tambah Ratu


" Emang makanan apa yang mereka pesan? " tanya Ameera dan Armell bersamaan.


" Mas Agam pesen spaghetti carbonara dengan porsi jumbo, ma. " jawab Paris.


" Dan bang Ar, pesen tongseng sama gulai kambing, mom. " jawab Ratu


" Ya Allah Agaaaammm ... Kamu kan paling nggak bisa makan makanan dari terigu. Udah gitu porsi jumbo lagi. " omel Ameera sambil memukul lengan Agam. " Ke belakang terus kan kamu pasti? Kamu ini. Udah mau punya anak juga kelakuan masih kayak anak kecil. " tambah Ameera dengan membara. Sehingga Attar sang suami merangkul pundaknya dan mengelusnya untuk menenangkan.

__ADS_1


" Sabar, sayang. " bisiknya di telinga Ameera.


" Kamu juga Arviiinnn.... " pekik Armell sambil menjewer telinga Arvin. Tidak ada mertua yang mampu menjewer telinga menantunya jika bukan Armell. Bahkan Leora, sang mama kandung hanya diam saja sambil menahan senyumannya.


Arvin, memang lebih dekat dengan ibu angkatnya yang sekarang menjadi ibu mertuanya ketimbang dengan ibu kandungnya.


" Mommmyyyy.... Sakiiit... " pekik Arvin.


" Biarin, habis mommy kesel sama kamu. Badan doang yang gede. Tapi pikiran masih kayak anak kecil. Pakai cemburu-cemburu nggak jelas. " omel Armell.


" Kenapa kok kalian bisa cemburu sama istri kalian? Apa kalian pikir anak-anak mommy ini bukan istri yang setia? Apa kalian pikir mereka mau selingkuh? Punya suami satu aja nggak habis-habis mau cari laki-laki lain? " umpat Armell kesal dengan sikap kekanak-kanakan putra menantu juga keponakan menantunya.


Jantung Armell berdetak kencang karena ia sedang emosi. Bahkan dadanya terlihat naik turun. Seno mengusap punggungnya lembut.


" Baby, jaga emosi kamu. Jangan terlalu emosi. Calm down, oke. " pinta Seno menenangkan istrinya.


Armell melipat kedua tangannya ke atas dada sambil menetralkan rasa kesalnya.


" Sumpah ya mas. Aku kesel banget sama mereka. Udah tahu alergi sama makanan. Tapi tetap aja di makan. Kalau terjadi hal yang serius sama mereka gimana? " gerutu Armell.


" I am sorry, mom. " ucap Arvin sambil memeluk erat pinggang sang mommy.


" Eh... Nggak usah peluk-peluk istri orang. " ujar Seno sambil menepuk lengan Arvin yang melingkar di tubuh istrinya.


" Hiss... Daddy. Masak iya cemburu sama anak sendiri. Sebelum Daddy kenal sama mommy, Arvin dulu yang kenal sama mommy. " ledek Arvin. " Kalau nggak ada Arvin, Daddy juga nggak bakalan ketemu dan kenal sama mommy. " lanjutnya yang membuat Seno menatap kesal ke arahnya. Dan akhirnya tawa semua orang yang ada di sana pecah begitu saja.


" Ck. " Seno berdecak kesal. Dan tuan besar Adiguna menepuk pundaknya beberapa kali sambil tertawa.


🌷


🌷


🌷

__ADS_1


Hari terus berganti. Dua bulan telah berlalu dari kejadian yang lucu sekaligus memalukan itu. Cemburu buta yang akhirnya membuat tubuh kalah.


Agam mengelus perut buncit sang istri. Mereka sedang duduk bersandar di headboard ranjang. Paris memeluk pinggang sang suami, dan Agam mengelus perut buncitnya.


" Sayang, apa dia sudah memberi tanda-tanda kalau dia mau keluar? " tanya Agam setelah ia mengecup puncak kepala Paris.


Paris menggeleng. Lalu ia membalas kecupan sang suami. Paris mengecup rahang tegas sang suami, lalu tersenyum sambil mendongak menatap mata indah sang suami.


" Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. " ucap Agam dengan tatapan penuh cinta.


" Aku juga. Sangat mencintaimu. " sahut Paris sama dengan tatapan penuh cinta.


Agam menangkup wajah Paris dengan tangan kanannya. Ia membelai pipi putih sang istri. Ia mengecup sekilas bibir ranum sang istri.


" Aku benar-benar masih tidak menyangka jika saat ini, kamu berada di sisiku. Mengandung anakku. Buah cinta kita. Aku sungguh masih belum percaya jika kamu, gadis yang pertama kali menempati relung hatiku, menjadi milikku seutuhnya. Dan aku berdoa, akan menjadi milikku untuk selamanya. " ungkap Agam dengan tatapan yang masih melekat di mata sang istri.


Paris tersenyum. " Pasti Tuhan akan mengabulkan doa kamu. Karena aku akan selamanya hanya menjadi milikmu. Selamanya. Kita akan terus bersama. " jawab Paris.


Lalu bibir mereka saling beradu kembali. Tapi kali ini, bukan hanya kecupan, tapi juga luma-tan. Hingga menimbulkan suara decapan. Saling bertukar saliva, lidah saling berbelit. Kepala bergantian miring ke kiri, lalu ke kanan.


" Sayang, apa masih boleh aku melakukannya? " tanya Agam dengan suara beratnya karena hawa panas dan gelenyar aneh sudah merasuki tubuhnya hanya karena merasakan bibir ranum sang istri.


" Bukannya dokter mengatakan, saat mendekati HPL, akan lebih baik kalau kita sering melakukannya? Asalkan jangan kamu muntahkan di dalam. " jawab Paris dengan tatapan lembut dan kedua sudut bibir yang selalu tersungging.


Tanpa basa-basi lagi, Agam langsung menyerang Paris dengan cepat. Ia melahap bibir Paris dengan penuh semangat. Dengan tangan yang sudah merayap kesana dan kemari. Menanggalkan pakaian sang istri satu persatu sampai tak bersisa, lalu melepas pakaiannya sendiri.


Sepanjang, hanya desa-han dan decapan dari bibir Agam yang sedang bekerja kesana kemari.


" Kau mau di atas? " tanya Agam saat dirinya sudah tidak tahan untuk menenggelamkan kapal selamnya ke dasar lautan.


Paris mengangguk. Lalu, masih dengan posisi duduk, Agam menempatkan diri dengan bersandar di headboard ranjang. Lalu Paris naik ke atas pangkuannya, dan perlahan ia membantu kapal selam milik suaminya untuk masuk dan menyelam ke dalam lautan luasnya.


Suara cepak - cepok terdengar nyaring di kamar luas dengan lampu temaram dan suasana sunyi malam hari. Hanya desa-han dari bibir kedua anak manusia itu yang kadang terdengar.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2