
" Emang kenapa dan mau ngapain ketemu sama gue? " tanya Paris.
" Gue kangen sama elo. " ucap Azkara dengan cepat.
Paris mengernyitkan dahinya lalu berkata, " Lo kangen sama gue? Nggak salah? Atau lo lupa kalau gue udah bukan gadis jomblo lagi? "
Azkara menundukkan kepalanya sebentar.
" Gue tahu, lo sekarang istri orang. Dan gue juga tahu, kalau lo terpaksa menikah dengan laki-laki itu. " ucap Azkara setelah ia menegakkan kepalanya kembali.
Paris tersenyum miris, mengingat masa yang telah lalu.
" Terus sekarang, mau lo apa? Mengungkit masa lalu kembali. " tanya Paris.
" Gue mau memperbaiki semuanya. " sahut Azkara cepat.
Paris kembali mengernyitkan dahinya sambil bertanya, " Memperbaiki apa? Apakah ada hal yang salah hingga harus di perbaiki? "
" Iya. " jawab Azkara pasti dengan menganggukkan kepalanya. " Gue ingin memperbaiki hubungan kita. Sekarang lo bisa pisah sama si Agam. Gue akan nikahi lo. Sekarang gue udah siap lahir batin buat nikahin elo. Gue udah punya penghasilan sendiri buat nafkahin elo saat elo jadi istri gue. " lanjut Azkara.
Paris kembali tersenyum tipis, tapi sedikit sinis.
" Azkara... Lo yakin mau nikah sama seorang janda? Sedangkan di saat gue masih gadis aja lo nggak mau nikahin gue. "
" Gue nggak peduli sama status elo. Yang gue peduliin, perasaan gue ke elo masih tetap sama semenjak kita masih duduk di bangku sekolah dasar. " ucap Azkara sambil meraih tangan Paris untuk di genggamnya.
" Nggak baik Ka, Lo megang tangan seorang perempuan bersuami. " tolak Paris sambil menarik tangannya secepat mungkin.
" Sorry. " ucap Azkara sedikit tidak enak hati.
" Gimana Ris? Kapan lo mau mengurus perceraian lo sama Agam? Kebetulan gue liburan panjang musim dingin. Jadi gue bisa nemenin lo buat urus semuanya. Setelah hakim memutuskan, kita bisa langsung menikah dan gue bakalan bawa lo ke Ausy setelah lo selesai kuliah. Atau lo mungkin mau pindah kuliah ke Ausy? Gue bakalan seneng banget. " cerocos Azkara.
" Ka, Lo belum tahu kondisi gue sekarang. Kalau Lo tahu, apa Lo masih tetap bisa bicara hal yang sama? " tanya Paris.
" Maksud lo apaan Ris? Emang lo kenapa? Buat gue, seperti apapun kondisi elo, gue tetap akan menerima elo, apa adanya. " jawab Azkara.
Tiba-tiba ponsel Paris berdering di dalam tasnya. Ia segera mengambil, dan ia membaca, Agam sedang menelepon dengan video call. Paris meletakkan tasnya di kursi kosong di sampingnya setelah mengambil ponselnya tadi.
" Bentar ya Ka. Gue angkat telepon dulu. " pamit Paris sambil memundurkan kursi yang ia duduki.
Azkara tersenyum dan mengangguk mempersilahkan. Paris berdiri, dan berjalan menjauh dari tempat duduknya tadi. Gerak gerik Paris tak lepas dari pandangan Azkara. Azkara mengernyitkan dahinya kala melihat tubuh Paris yang terlihat membengkak.
__ADS_1
' Bagaimana bisa Paris membiarkan tubuhnya menggemuk seperti itu? Bukankah meskipun dia gadis tomboi, tapi ia tetap memperhatikan berat badannya? Apakah karena kebiasaannya sekarang yang makan makanan berat saat malam hari? ' berbagai pertanyaan muncul dalam otak Azkara.
Paris menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
" Lagi dimana? " sebuah pertanyaan keluar dari mulut Agam saat panggilan video nya tersambung dan ia melihat ke sekeliling Paris.
Paris memanyunkan bibirnya mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sang suami.
" Assalamualaikum, masss... " ucapnya dengan penuh penekanan.
Agam menghela nafas panjang setelah melihat raut wajah Paris dan salam yang istrinya itu ucapkan. Karena sikap posesifnya, ia sampai lupa mengucapkan salam dan membuat istrinya cemberut.
" Waalaikum salam. " jawab Agam.
" Kalau telepon itu salam dulu... Jangan langsung kasih pertanyaan yang udah jelas jawabannya. " sela Paris.
" Iya, maaf. " sahut Agam. Dan bibir Paris sedikit menyunggingkan senyumnya.
" Kamu lagi ngapain di cafe malam-malam begini? " tanya Agam.
" Makan. " jawab Paris dengan suara sedikit manja. " Anak kamu malam-malam ngajakin makan mulu. Padahal tadi aku udah makan malam juga. " ceritanya ke sang suami.
Agam tersenyum mendengar cerita istrinya yang sekarang berubah menjadi sangat manja.
Seperti keinginan sang suami, Paris mengarahkan ponselnya ke perutnya. Lalu ia menyibak syal pasmina yang semenjak tadi menutupi bagian perutnya.
" Udah? " tanya Paris.
" Iya. " jawab Agam.
Lalu Paris mengangkat ponselnya kembali mengarah ke wajahnya. Agam terlihat tersenyum.
" Kangen sama mommy nya juga nggak? " tanya Paris.
" Ya kangen lah. Benget. " jawab Agam. Paris langsung tersenyum lebar.
" Makanya, kalau kangen cepetan pulang. " ujar Paris.
" Kan masih dua hari lagi. " jawab Agam. " Kangen banget juga ya? " tanyanya. Dan Paris mengangguk malu-malu.
" Sama siapa di cafe? " tanya Agam.
__ADS_1
" Sama anak-anak biasa. Jojo, Kevin, Edo. " jawab Paris.
" Mana mereka? " tanya Agam kembali.
Paris menoleh ke belakang ke arah tempat duduknya tadi. Dan tidak sengaja, kamera ponselnya mengarah juga ke meja tempatnya duduk tadi, dan membuat Agam mengernyitkan dahinya kala melihat bayangan seseorang berada di sana. Seseorang yang merupakan saingannya di masa lalu.
' Ngapain dia di sana? Jangan bilang, mereka sengaja bertemu di belakang aku. ' gumam batin Agam bergemuruh.
" Sepertinya Jojo sama Kevin belum kembali dari toilet. Tadi mereka bilang ada panggilan alam. " ucap Paris tanpa ia ketahui jika suaminya telah menemukan sesosok yang pernah dekat dengannya di masa lalu.
" Edo kemana? " tanya Agam dengan pandangan penuh kecurigaan.
" Oh, si Edo tadi di suruh mindah mobilnya. Sampai sekarang belum kembali juga. " jawab Paris.
" Udah, cuma sama mereka aja? Kamu yakin nggak ada orang lain lagi? " tanya Agam kembali.
" Hem? " sahut Paris dengan alis yang saling bertautan.
" Aku tadi seperti melihat orang lain di sana. "
" Oh... Iya aku lupa. Ada Azkara juga. Dia baru pulang dari Ausy langsung kesini tadi. Aku juga nggak tahu kalau dia juga mau datang. " jelas Paris yang tidak menginginkan sang suami salah paham.
" Kangen sama kamu pasti dianya. " sahut Agam.
" Apaan sih? Lagian ya, kalau dia kangen ya terserah sama dia. Aku juga nggak bisa melarang hatinya untuk tidak merindukan aku. Yang penting kan akunya nggak. Aku kangennya cuma sama kamu. " sahut Paris mencoba merayu sang suami karena ia melihat gelagat aneh dari raut wajah sang suami yang tiba-tiba suram dan berawan.
" Jangan pulang malam-malam. Cepetan pulang kalau makannya sudah selesai. " titah Agam dengan nada suara tak terbantahkan.
Paris mengangguk lalu panggilan segera di akhiri oleh sang suami.
" Kamu gemukan sekarang. " ucap Azkara saat Paris sudah berada di dekat kursinya kembali.
Paris tersenyum. " Ini yang gue maksudkan tadi. Apa setelah lo tahu kondisi gue yang sekarang Lo masih tetap menginginkan gue? " sahut Paris.
Azkara tersenyum. " Buat gue, mau elo kurus, atau gemuk, sama aja. " jawab Azkara.
" Kalau kondisi gue yang ini, gimana? " tanya Paris kembali sambil menaikkan syal pasmina yang sedari tadi menutupi area perutnya.
Doeng .... weng... weng ....
Bagaimanakah tanggapan Azkara saat mengetahui jika Paris sedang hamil??????
__ADS_1
Ikuti kisahnya, esok ya guysss☺️☺️😘😘
bersambung