
" Sayang, kamu nggak pengen gitu pindah ke apartemen aja? " tanya Agam di sela-sela kegiatannya mengemudi mobil menuju ke tempat kost sang istri. Agam menoleh sebentar ke sisi kiri di mana istrinya duduk.
Paris menjawab sambil mengendikkan bahunya. Ia masih asyik menggigiti kuku-kuku jarinya.
" Dulu... Alasan kamu nggak mau tinggal di satu tempat denganku, karena khawatir aku apa-apain. Lah, sekarang kan kita udah ngapa-ngapain aja. Apalagi sekarang yang kamu khawatirin? " ujar Agam sambil tersenyum menggoda ke arah sang istri yang membuat Paris terlihat malu karena pipinya merona.
Agam tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah. Ia mengulurkan tangannya mengelus pipi kanan Paris dengan punggung tangannya.
" Bagaimana? Hem? Kalau kamu tinggal di tempat kost, kalau tiba-tiba kamu ingin naik kuda gimana? " tanya Agam sambil mengerlingkan sebelah matanya.
" Apaan sih? " sahut Paris sambil menepis tangan Agam dan mengalihkan mukanya melihat keluar jendela dengan kedua sudut bibir yang tersungging.
Pikiran Paris melayang ke segala arah. Ia sedang berpikir menimbang dan menimbang apakah memang sebaiknya ia tinggal satu rumah dengan suaminya? Tapi, kampusnya terletak cukup jauh dari apartemen Agam. Ia harus menghabiskan waktu setengah jam untuk sampai di kampus.
" Kalau aku tinggal di apartemen, akan jauh kalau mau kuliah. " ucap Paris.
" Jangan pikirkan itu. Aku akan mengantar dan menjemputmu dengan senang hati. " jawab Agam.
" Akan terlalu merepotkan. Kamu juga harus kuliah. Kalau kita ada jam kuliah yang sama, akan repot jika kamu harus mengantarku dulu. " sahut Paris.
" Aku bilang tidak masalah, maka tidak masalah. Lagian kamu punya motor. Kamu boleh mengendarai motor kamu jika aku tidak bisa mengantarmu. " bujuk Agam.
Paris menghembuskan nafas lalu kembali mengendikkan bahunya. Suasana kembali lengang sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah kost yang selama satu tahun ini di tempati oleh Paris.
Saat mesin mobil sudah di matikan oleh Agam, mereka berdua turun dari dalam mobil.
" Yakin, nggak mau tinggal barengan aja? " tanya Agam saat Paris hendak membuka gerbang.
Paris menggeleng, " Besok aja deh. Tahun depan mungkin. " sahut Paris.
Agam tersenyum lalu menjawab, " Ya udah terserah kamu. Jika kamu berubah pikiran sewaktu-waktu langsung kasih tahu aku. "
Paris mengangguk. " Tungguin bentar di sini. Aku ambilin barang yang kamu minta tadi. " ucapnya dan di jawab anggukan oleh Agam. Lalu Paris segera masuk ke dalam pekarangan rumah kost.
Tak lama, Paris kembali. Saat ia akan keluar dari gerbang, Paris mendengar beberapa orang sedang mengobrol di luar gerbang. Paris menghentikan langkahnya dan mencoba mendengarkan siapa yang sedang berbincang - bincang kok sepertinya asyik itu.
__ADS_1
" Kamu kuliah di mana? " tanya seorang cewek yang entah ke siapa.
" Di Telkom. " jawab seorang laki-laki yang Paris sangat mengenali suara itu. Siapa lagi kalau bukan suara suaminya.
" Aku perhatikan kok sering kesini, saudaranya ada yang tinggal di sini? " tanya perempuan itu lagi.
" Lies, dia ini kan saudaranya Paris. Bule yang dari Jakarta itu. " suara seorang perempuan yang lain memberitahu.
" Oh, saudaranya Paris ya. Mmmm... boleh kenalan nggak nih? Siapa tahu masih jomblo. Aku juga masih jomblo kok. " terdengar suara perempuan yang pertama begitu lembut.
Paris mengepalkan tangannya di balik gerbang. Geram, sudah pasti. Cemburu, apalagi.
Sial. Nggak bisa di biarin nih cewek. Belum tahu apa dia kalau tuh cowok udah di klaim cewek paling cantik se Jakarta. batin Paris.
Paris memutuskan untuk keluar dari balik gerbang.
" Eh, Paris. Kenalin dong sama abangnya. " pinta cewek yang berusaha merayu Agam tadi.
Melihat muka tak bersahabat sang istri, Agam menekuk kedua bibirnya ke dalam menahan senyumannya.
" Abang kamu itu. Yang ganteng kayak artis Korea. " jawab sang gadis sambil menatap genit ke Agam.
" Ini? Dia? " tanya Paris lagi. Perempuan itu langsung mengangguk dengan cepat sambil tersenyum.
Paris tersenyum, lalu mengamit lengan sang suami manja.
" Maaf, dia udah sold out. Dia ini bukan Abang gue. Dia itu laki gue. " ucap Paris sambil memeluk lengan Agam.
Kedua perempuan itu membulatkan kedua matanya bersamaan.
" Paris, kamu bilang dulu, dia itu saudara kamu. " ucap perempuan yang lain.
Paris menggeleng cepat, " Maaf, karena dulu, gue masih mau tinggal di sini. Bukankah yang boleh tinggal di sini itu harus yang masih single? Jadi terpaksa gue bilang kalau dia Abang gue. " jelasnya.
" Dan sekarang gue akui kalau gue udah nggak single, karena gue bakalan pindah ikut tinggal sama dia. SUAMI gue. " lanjut Paris sambil menekan kata suami.
__ADS_1
Agam yang sedari tadi hanya diam, hanya tersenyum manis saja ke Paris.
" Sayang, kamu tungguin di sini ya. Aku mau beres - beres barang-barang aku dulu bentar. Aku mau pindah sekarang aja. " ucap Paris ke Agam sambil menyerahkan barang yang ia ambil dari dalam tadi.
" Aku tungguin di sini. Apa aku boleh ikut masuk bantuin beres-beres? " tanya Agam sambil tersenyum senang. Iya, Agam sangat senang saat mendengar jika istrinya mau tinggal sama dia. Entah apa yang membuat istrinya itu berubah pikiran dengan sangat cepat.
" Tidak usah. Aku bisa sendiri. Lagian barangku tidak terlalu banyak. " jawab Paris cepat karena ia tidak ingin suaminya ikut masuk ke dalam kost. Ia tidak ingin ada semakin banyak perempuan yang menggoda suaminya. Kebetulan teman-temannya sedang berada di dalam kost. Dan memang ada beberapa dari mereka yang sempat meminta di kenalkan dengan Agam.
" Kamu panggil aja kalau butuh bantuan. " ucap Agam.
Paris mengangguk. " Sayang, hati-hati sama jurik ya. " ucapnya sambil melirik ke arah dua temannya tadi.
Agam mengangguk dan tersenyum lalu sengaja mendaratkan sebuah kecupan di kening Paris. Paris pun tersenyum lalu ia berlalu ke dalam tempat kost dan memberesi barang-barangnya. Sedangkan Agam, menunggu di luar gerbang dan membuka bagasi mobilnya. Setelah Paris masuk, kedua teman Paris tadi juga masuk ke dalam rumah.
Setengah jam kemudian, Paris terlihat keluar sambil menenteng beberapa tas di tangan kanannya, dan menyeret sebuah koper besar dengan tangan kirinya.
" Yakin, mau pindah ke apartemen dan tinggal satu atap denganku? " tanya Agam meyakinkan kembali.
" Hem. Kata kamu, nanti kalau aku pengen naik kuda gimana. " jawab Paris dengan ketus. Ia masih kesal dengan kejadian tadi. Suaminya di goda perempuan lain dan menurut Paris, suaminya malah hanya diam saja.
Agam tersenyum dalam diam. Ia tidak berani berucap menjawab omongan Paris yang tadi. Karena ia tahu kalau istrinya itu sedang dalam mode tidak bersahabat. Tapi Agam tidak tahu karena hal apa.
Agam mengambil barang-barang yang ada di tangan Paris dan memasukkannya ke dalam bagasi.
" Masih ada barang yang lain lagi? " tanya Agam.
Paris menggeleng, " Udah semua. " jawabnya. Lalu ia membuka pintu penumpang sebelah kemudi, dan masuk ke dalam mobil.
Agampun mengikuti masuk ke dalam mobil.
" Motor kamu gimana? " tanya Agam sebelum menyalakan mesin mobil.
" Aku ambil besok habis kuliah. Lagian aku juga belum pamit sama yang punya kost. " jawab Paris masih dengan mode ketus.
Agam memilih diam sambil mengendarai mobil meninggalkan tempat kost Paris. Agam lebih memilih bertanya saat sudah tiba di apartemen saja, apa yang membuat istrinya itu kesal.
__ADS_1
Bersambung