
Sandiwara lain juga tengah di mainkan oleh Agam. Ia tiba-tiba mencium bibir Paris tanpa permisi. Suatu hal yang juga aneh. Karena Agam sangat jarang memperlihatkan kemesraan di depan orang lain, apalagi di tempat ramai seperti ini.
Paris membelalakkan matanya kala bibirnya tiba-tiba di cium dan di ***** oleh sang suami. Semua yang ada di sana, menyaksikan aksi Agam dengan membulatkan matanya dan menelan saliva mereka sendiri-sendiri.
Paris sedikit mendorong tubuh suaminya agar sang suami melepas pagutannya. Dan berhasil. Agam menjauhkan bibirnya dari bibir Paris, lalu mengusap bibir Paris yang basah karena ulahnya.
" Manis, dan sedikit pedas. " ujar Agam dengan santainya sambil menghenyakkan pan-tatnya di atas kursi yang berada di sebelah Paris dan menjilat bibirnya.
" Ada bumbu di bibir kamu, sayang. Jadi aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Tidak baik kan, menyia-nyiakan makanan? " lanjutnya setelah melihat tatapan tak bersahabat dari sang istri. Agam bahkan mengerlingkan sebelah matanya yang membuat Paris mengulum senyumnya geli melihat tingkah suaminya yang tidak seperti biasanya. Ternyata cemburu bisa merubah perangai seseorang sebesar 270 derajat.
" Modus. " sahut Paris mirip gumaman, tapi tetap di dengar oleh Agam. Yang membuat Agam tersenyum tipis.
" Sayang, bukankah sudah aku bilang, jangan makan makanan yang pedas. Tidak baik untuk anak kita, sayang. " ujar Agam sambil mengelus perut buncit Paris dan dengan tatapan penuh perhatian.
" Cuma pedas dikit doang kok. Nggak banyak-banyak. " jawab Paris.
Setelah mendengar ucapan Paris, Agam baru sedikit memutar tubuhnya ke samping dan pura-pura baru melihat keberadaan Azkara di sana.
" Loh... Azkara? Kapan datang? Kok aku nggak lihat? " sapa Agam. Pertanyaan yang sangat basi menurut Arvin. Dan terlihat begitu sandiwara.
" Hai, Gam. Apa kabar? " sapa Azkara balik sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Alhamdulillah, aku baik. " jawab Agam sambil menerima jabatan tangan Azkara. " Istri aku juga baik. Anak kami juga baik. Betul kan sayang? " lanjut Agam sambil menatap Paris dan merangkul pundaknya.
Paris tersenyum dan mengangguk kaku. Dalam hati, ia begitu heran dengan sikap sang suami. Heran, sekaligus menggelengkan kepala.
" Kapan datang Ka? " tanya Agam.
" Kemarin. Kebetulan sedang ada liburan sebentar. " jawab Azkara sambil tersenyum kaku. Sedangkan Richi, masih menyimak pembicaraan sepupunya dengan laki-laki yang menjadi rivalnya sambil sesekali melirik ke arah Ratu.
" Janjian ketemu di sini, sayang? " tanya Agam ke Paris dengan tegas yang membuat Paris sedikit terkejut. Ia sampai blank, tidak tahu mau menjawab apa.
" Tidak. Bukan. Kami tidak janjian sama sekali. Kebetulan gue ada janji sama kakak sepupu gue, mau nyamperin dia di mall ini. Dan ketika gue sampai sini, sepupu gue lagi ngobrol di meja ini sama Paris sama Ratu. Jadi gue ikut gabung. " Azkara menjawab pertanyaan yang di tujukan Agam ke Paris. Karena ia tahu, maksud Agam adalah bertanya kepadanya.
" Oh, jadi ini sepupu kamu? " Arvin menyela. Hati Arvin sudah memanas sedari tadi karena ia melihat Richi, sepupu Azkara itu selalu mencuri pandang ke istrinya.
" Iya bang. " jawab Azkara.
__ADS_1
" Halo, kenalkan, saya Richi Ahmet. " Richi memperkenalkan diri ke Arvin langsung. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Arvin menerima uluran tangan Richi dengan sedikit malas.
" Saya Arvin, suaminya Ratu. Kalau saya lebih suka memanggilnya Queen. " ujar Arvin setelah melepas jabatan tangannya Richi. Ia mengelus dan mengecup puncak kepala Ratu. " Karena bagi saya, dia adalah Queen di hati saya. " lanjutnya.
" Apa anda sudah lama mengenal istri saya? " tanya Arvin dengan aura wajah yang menggelap.
" Oh, tidak. " jawab Richi sambil menggeleng dan tersenyum ramah. " Kami baru bertemu dan berkenalan hari ini. Kebetulan tadi saya hendak mencari kado buat keponakan saya yang baru lahir. Karena kesusahan, saya meminta bantuan nona Ratu untuk memilihkan. " jelas Richi.
Percakapan mereka terjeda karena Agam memanggil seorang pelayan.
" Abang mau makan tidak? Aku sih mau makan . Lapar. " ujar Agam dengan nada kesal karena sedari tadi, ia juga melihat Azkara sering mencuri pandang ke istrinya.
" Bukannya kamu tadi udah sarapan ya? Yakin, mau makan siang sekarang? Baru jam 11 loh ini. " ucap Paris.
" Iya. Aku lapar karena tiba-tiba badanku terasa kurang enak. Sepertinya perjalanan dari kantor kesini cukup menguras energi. " jawab Agam sambil membuka dan membaca buku menu.
" Gue juga mau makan siang sekarang karena energi gue juga terkuras. " tambah Arvin yang juga membuka dan membaca buku menu.
" Kak, kasih saya makan sama seperti yang di makan istri saya. " ucap Agam dan Arvin bersamaan.
Pelayan sedikit bingung dengan permintaan pelanggannya ini. Ia bahkan melihat ke arah Paris dan Ratu, lalu melihat ke arah piring yang ada di depan kedua wanita itu.
" Sayang, apa yang kamu makan tadi? " tanya Arvin ke Ratu.
" Yakin abang mau makan yang sama seperti yang aku makan? " tanya Ratu. Arvin mengangguk mantap.
" Iya dong sayang. Apapun yang kamu makan, aku juga ingin memakannya. Kita kan sehati. " sahut Arvin.
" Tapi aku tadi makan tongseng sama gulai kambing loh bang. " ujar Ratu.
" Nah, kak. Denger kan apa yang di makan istri saya tadi? Catat. Saya pesan yang sama. " ucap Arvin tanpa berpikir panjang.
Si pelayan mengangguk lalu mencatat pesanan Arvin.
" Saya pesen spaghetti carbonara dengan level pedas yang sama. " ucap Agam.
Paris mengernyit. " Bagaimana kamu tahu kalau aku tadi makan spaghetti carbonara? " tanya Paris sambil meneliti piring kosongnya. Tidak ada sedikitpun bumbu yang tersisa. Bagaimana suaminya bisa tahu.
__ADS_1
" Sayang, aku tadi sudah mencicipi dari bibirmu. Apa kamu lupa? Mau aku ingatkan lagi? " ujar Agam sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Paris mencebikkan bibirnya melihat tingkah mesum suaminya.
Si pelayan mencatat pesanan Agam juga.
" Maaf, tuan. Mau porsi biasa atau jumbo? " tanya pelayan karena ia melihat piring yang tersaji di depan Paris itu untuk porsi seberapa.
" Tentu saja sama seperti istri saya. Bukankah tadi saya bilang, buatkan makanan yang sama seperti yang di makan istri saya? " jawab Agam.
" Mas... " Paris hendak berucap, tapi Agam berbicara kembali.
" Cepat siapkan ya kak. Saya sudah lapar. " ucap Agam.
" Baik, tuan. Kalau begitu, saya permisi. " pamit si pelayan.
" Mas, nggak tanya dulu ke aku, porsiku yang mana? " tanya Paris.
Agam tersenyum, lalu berucap, " Kita kan sehati sayang. Jadi apa yang di inginkan oleh kamu, oleh anak kita, akupun merasakannya. "
" Tapi mas... Spaghetti loh itu. Spaghetti kan sama kayak mi. Yakin kamu... "
" Yakin. " jawab Agam sambil mengangguk mantap.
" Oh, maaf menganggu. Kami mau undur diri dulu. Masih ada hal lain yang harus kami selesaikan. " Azkara memotong perbincangan Agam dan Paris.
" Oh, iya tentu saja. Silahkan. " jawab Agam to the point. Ia pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Azkara dan Richi bergantian. Begitu juga dengan Arvin, iapun melakukan hal yang sama.
Baru setelah itu, Azkara mengulurkan tangan ke Paris, dan Richi mengulurkan tangan ke Ratu. Dengan sedikit ragu, Paris dan Ratu menerima uluran tangan untuk berjabat tangan dengan Azkara juga Richi.
" E Hem. " Agam dan Arvin berdehem keras bersamaan kala melihat Azkara maupun Richi kelihatan enggan untuk melepas tangan istri mereka.
Azkara dan Richi segera melepas tangan Paris dan Ratu dengan sedikit salah tingkah. Lalu mereka tersenyum dan sedikit menundukkan kepala memberi hormat dan salam sebelum akhirnya mereka meninggalkan pasangan aneh itu.
Setelah kedua orang itu pergi, pelayan kembali dengan membawa pesanan Arvin dan Agam. Pelayan menyajikan makanan itu di depan Agam juga Arvin.
Arvin dan Agam sama-sama terkejut saat melihat makanan yang sudah tersaji di hadapan mereka. Mereka sama-sama menelan salivanya dengan susah payah.
__ADS_1
" Yakin mau makan ini? " tanya Ratu dan Paris bersamaan ke suami mereka masing-masing.
bersambung