
" Bang... Quiny, aku tinggal dulu. " pamit Rendra yang ia sudah berdiri dari duduknya. Rendra ingin segera meninggalkan tempat itu melihat aura mencekam dari sang abang.
" Ren.... " panggil Ratu sambil menggelengkan kepalanya ke Rendra karena tiba-tiba nyalinya juga menciut dan ia enggan di tinggalkan oleh Rendra.
" Aku ada janji dengan temanku. " sahut Rendra sambil tersenyum canggung. " I am sorry. " ucap Rendra ke Ratu hanya dengan bahasa bibirnya. Iapun sebenarnya tidak tega meninggalkan Ratu sendirian dengan sang abang.
Lalu Rendra segera meninggalkan Abang Arvin dan juga Ratu. Setelah Rendra pergi, Arvin duduk di kursi tempat Rendra tadi. Dan Ratu langsung menundukkan kepalanya dalam diam.
Arvin melihat ke sekeliling. Cafe itu nampak semakin ramai. Tidak mungkin ia mengajak Ratu berbicara di tempat ini dengan keadaan yang ramai begini.
" Sudah selesai makannya? " tanya Arvin sambil menatap Ratu yang masih menunduk.
Ratu menegakkan kepalanya sesaat lalu menundukkan kepalanya kembali sambil mengangguk.
Arvin menghela nafas berat sambil berdehem.
" Kita pergi dari sini. Ada yang harus kita bicarakan dan kita selesaikan hari ini. " ucap Arvin dengan nada tegas.
Ratu memejamkan matanya erat sesaat sambil mengumpat dalam hati, ' Sh*it ! '
" Emmm... Maaf bang... Ratu harus bertemu dengan teman Ratu. Kita udah janjian. " ucap Ratu dengan nada suara bergetar dan sambil menyelempangkan tasnya ke pundak.
" Tidak usah beralasan. Kita pergi bersama sekarang. " ujar Arvin sambil berdiri, lalu meraih tangan Ratu dan di genggamnya erat.
Mau tidak mau, Ratu mengikutinya dengan langkah kaki yang berat dan detak jantung yang tidak beraturan.
Masuk ke dalam mobil, lalu Arvin mulai menjalankannya dengan kecepatan standar menuju suatu tempat yang akan mereka gunakan untuk berbicara dari hati ke hati.
" Ayo turun. " ajak Arvin ketika mereka sampai di suatu taman. Hari sudah menjelang sore jadi taman itu sudah nampak beberapa orang yang sedang jalan-jalan.
Ratu mengikuti kemana Arvin melangkah. Ia sudah pasrah jika memang harus jujur sekarang. Mau Arvin marah, atau tidak akan Ratu pikirkan nanti.
" Duduk. " ucap Arvin. Ratupun mengikutinya. Ratu duduk di salah satu bangku yang ada di taman itu.
" Sekarang, apa yang mau kamu katakan sama abang? " tanya Arvin. Tapi Ratu masih tetap diam saja.
" Queen... " panggil Arvin.
Ratu menatap wajah Arvin sesaat dengan gugup. " Mengatakan apa bang? " tanya Ratu
Arvin menghela nafas berat. " Jelaskan saja apa maksud pembicaraan kamu sama Rendra tadi. Kebohongan apa yang sudah kalian lakukan sama Abang, hem? " tanya Arvin dengan nada suara tegas.
" Banyak. " jawaban Ratu membuat Arvin mengerutkan keningnya.
" Maksudnya? "
" Ya banyak abaaaanggg... Masak kata banyak aja nggak ngerti sih. "
" Iya, abang ngerti. Tapi kebohongan apa aja itu kok banyak. " ucap Arvin dengan kesabaran tingkat dewa.
Ratu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan sebelum berbicara.
" Susah buat di sebutinnya. " ucap Ratu yang membuat Arvin harus kembali menarik nafas dalam-dalam supaya tidak terbawa emosi.
" Ratu bakalan sebutin yang paling penting dulu. Tapi abang jangan pingsan ya kalau denger. " ujar Ratu asal.
__ADS_1
" Iya. Cepat katakan. " pinta Arvin.
" Queen sama Rendra mau nikah secepatnya. " ucap Ratu sambil menahan tawanya melihat raut wajah Arvin yang tiba-tiba memucat.
Mendengar ucapan Ratu, Arvin mengusap wajahnya kasar sambil menoleh ke samping. Ia lalu berdiri dari duduknya. Berjalan mondar-mandir untuk menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang dan rasa sakit di hatinya.
Greb
Tiba-tiba tubuh Arvin di peluk erat oleh Ratu dari belakang.
Deg .. Deg... Deg ..
Bunyi jantung Arvin. Ia jadi membeku karena tiba-tiba di peluk erat oleh gadis yang sangat ia cintai. Suasana menjadi hening. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Arvin dengan rasa terkejutnya dan tentu saja menikmati pelukan sang gadis.
Tiba-tiba Ratu mengendurkan pelukannya, lalu sedikit melongokkan kepalanya ke samping Arvin.
" Abang, kenapa diam saja? Queen salah ngomong ya? " tanya Ratu tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Arvin menunduk sambil menetralkan rasa sakit di hatinya. Lalu ia melepas tangan Ratu yang melingkar di perutnya. Arvin kemudian memutar tubuhnya hingga menghadap Ratu.
Ratu menengadahkan kepalanya menatap wajah Arvin dengan muka imutnya. Ia harus menengadah karena tingginya hanya sebatas dagu Arvin.
Arvin menatap dalam-dalam manik mata Ratu.
" Queen nggak salah ngomong. " ucap Arvin.
Ratu mengedipkan kedua matanya berkali-kali. " Lalu, kenapa abang diam aja? "
' Pura-pura atau serius sih nih anak? ' batin Arvin sambil mencari jawaban dari pertanyaannya itu dalam mata Ratu.
Hancur, jelas hati Arvin sangat hancur. Cinta pertamanya telah kandas karena kebodohannya sendiri. Sakit, tentu saja hati Arvin sangat sakit. Jika laki-laki yang menggantikan dirinya di hati sang gadis bukanlah adiknya, maka sudah pasti ia akan menculik gadis di depannya ini dan akan ia bawa ke luar negeri.
" Ihhh... Abang kok malah jawabnya gitu sih? Abang sebenarnya beneran cinta nggak sih sama Queen? Sayang nggak sih sama Queen? " tanya Ratu sedikit kesal mendengar ucapan Arvin barusan sambil bersidekap.
" Kenapa kamu masih menanyakan hal itu? Apa masih kurang rasa cinta dan sayang yang Abang tunjukkan selama ini ke kamu? Tapi sekarang semua itu sudah tidak ada gunanya kan? "
" Kok nggak ada gunanya sih? " ucap Ratu sambil cemberut.
" Kalau kamu menikah dengan Rendra, bukankah Abang cinta sama kamu atau tidak sudah tidak ada gunanya lagi, kan? " ujar Arvin.
" Iiihhh... Abaaaanggg.... " teriak Ratu makin kesal.
" Abang tuh udah kuliah sampai di luar negeri, kenapa malah nggak tambah pinter sih??? " geram Ratu.
" Queen... "
" Queen kesel sama Abang. Mending Queen pulang aja. " potong Ratu sambil membalikkan tubuhnya dan hendak berjalan, tapi tangannya di cekal sama Arvin.
" Queen, Abang sekarang jadi bingung deh. Abang makin nggak ngerti sama kamu. " ucap Arvin. " Abang hanya berusaha ngiklasin kamu bahagia sama Rendra. "
" Kenapa Abang ngikhlasin Ratu sama Rendra? " tanya Ratu.
" Karena kamu akan menikah sama dia. " jawab Arvin susah payah .
" Kenapa Queen harus menikah sama Rendra? "
__ADS_1
" Queen... Bukankah kamu sendiri tadi yang bilang?? "
" Iya, Queen emang bilang kayak gitu. Tapi itu karena Abang tanya, Queen buat kebohongan apa ke Abang. Ya udah, Queen buat kebohongan itu. Queen bohong mau nikah sama Rendra. " ujar Ratu asal.
" What? Are you serious? "
" Hem. "
" Jadi, kamu nggak akan menikah sama Rendra? " tanya Arvin dengan wajah berbinar.
" Kalau Abang pergi lagi tanpa pamit ke Queen, maka Queen beneran akan nikah sama Rendra. " ujar Ratu penuh dengan nada ancaman.
Arvin tersenyum. Senyum yang semula tipis, kini makin melebar. Lalu ia menutup wajahnya sambil bersyukur. Lalu membukanya kembali, dan memegang kedua bahu Ratu.
" Beneran? Tadi kamu bohong soal nikah? "
" He em. Queen nge-prank Abang doang. "
" Lalu, pertunangan kamu sama Rendra? "
" Queen nggak pernah tunangan sama siapapun, meskipun sama Rendra sekalipun. " jawab Ratu mantap.
" Lalu, selama ini... Kenapa kamu dan semuanya selalu bilang kalau kamu sama Rendra... "
" Cuma mau ngerjain abang. Abisnya Queen kesel sama Abang. "
" Kamu ya... " ujar Arvin sambil menggeram dan mengacak rambut gadis yang sangat ia cintai itu.
" Abang, rambut Queen berantakan ih! " protes Ratu sambil membenarkan rambutnya kembali dengan jari-jarinya.
Lalu Arvin menarik tubuh Ratu dan di peluknya erat. Ia benar-benar sangat merindukan gadisnya itu.
" Abang nggak marah sama Queen? " tanya Ratu masih dalam pelukan Arvin.
" Abang nggak akan bisa marah sama Queen. Karena Abang sayang sama kamu. Sangat. " jawab Arvin. Lalu ia melepas pelukannya. Ia membelai pipi Ratu sambil menatap wajah itu lama untuk menghilangkan rasa rindunya.
" Biarpun Abang tidak bisa marah sama kamu, tapi Abang minta, jangan pernah membohongi Abang seperti kemarin. Hati Abang sakit dan sedih tahu kamu bertunangan dengan laki-laki lain. " pinta Arvin.
Ratu tersenyum lalu mengangguk. Mata mereka saling mengunci. Lalu Arvin menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Ratu, hingga hidung mereka saling bersentuhan. Setelah beberapa detik, tidak hanya hidung mereka yang bersentuhan, tapi kini bibir merekapun saling bersentuhan.
Berawal dengan sebuah kecupan ringan. Tapi lama-lama, kecupan itu berubah menjadi luma-tan. Arvin bahkan menekan tengkuk Ratu untuk memperdalam ciu-mannya.
Merasa Ratu kehabisan oksigen, Arvin melepas pagutannya. Lalu mengusap bibir Ratu yang basah.
" Masih belum belajar bernafas jika sedang berci-uman? " goda Arvin.
Muka Ratu jadi memerah karena malu. " Emang abang boleh kalau Queen belajar berci-uman dengan tidak tahan nafas dengan laki-laki lain? "
Arvin seketika menajamkan tatapannya. " Awas aja. "
" Makanya jangan meledek Queen karena Queen belum bisa berci-uman dengan benar. Darimana dan dengan siapa Queen belajar kalau Abang justru malah menghilang? "
Arvin kembali merengkuh tubuh Ratu dalam pelukannya sambil berkata, " Maaf. "
bersambung
__ADS_1