
“ Mas, kenapa abang sampai jam segini belum kelihatan yah? “ bisik Armell ke Seno.
“ Aku juga tidak tahu, baby. “ jawab Seno sambil berbisik juga.
“ Kasihan Ratu mas. Lihatlah, wajahnya sedih gitu. Aku nggak tega. “ ujar Armell.
Seno mengalihkan pandangannya ke Ratu, lalu mengangguk. “ Akan aku tanya bang Dion dulu. Kamu temanilah putri kita. “ ujar Seno sambil beranjak berdiri dan mengelus pipi sang istri lembut dengan punggung jarinya.
Lalu ia segera berlalu dan menghampiri keluarga Abraham berada. Kebetulan, Dion sedang berdiri di dekat meja makan bersama istri juga Rendra.
“ Bang, Arvin mana? “ tanya Seno setengah berbisik.
Dion segera menoleh. Ia menaruh sendok kecil ke atas piring yang sedang di pegangnya. Lalu ia memandang ke sekeliling.
“ Iya. Dimana tuh anak? Kenapa belum kelihatan ya? “ gumam Dion.
“ Kita sudah nunggu lama ini. Acara pernikahannya udah selesai dari tadi. Para tamu juga udah selesai makan. “ ujar Seno kembali.
“ Sayang, di mana Arvin? “ tanya Dion ke Leora. “ Coba kamu hubungi dia. “ lanjutnya.
Leora mengangguk lalu mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Ia segara menghubungi Arvin. Tapi hingga tiga kali panggilan, ponsel Arvin tidak aktif.
“ Yah, ponsel Arvin tidak bisa di hubungi. “ Leora memberitahu.
“ Waduh, kok bisa? Kemana tuh anak? Tadi pagi sudah aku wanti-wanti kalau jam 11 dia harus kesini. “ sahut Dion. Ia jadi bingung. Ia meletakkan piring kecil yang sedari tadi di bawanya ke atas meja.
“ Ayah, jangan-jangan abang….” Rendra tidak meneruskan omongannya.
“ Nggak mungkin Ndra. Ayah belum melihat abangmu packing. Memang tiket pesawatnya terjadwal hari ini. “ ujar Dion. Sejenak kemudian, Dion tiba-tiba mengumpat, “ Sh*it ! Jangan- jangan abangmu sengaja tidak mencantumkan jam keberangkatannya. “
“ Sebentar, yah. Rendra coba hubungi abang. Siapa tahu sekarang bisa. “ ujar Rendra, sambil mengambil ponselnya dari dalam saku kemeja batik yang ia kenakan. Sedangkan Seno, Dion, juga Leora nampak panik. Sesekali Seno memandang ke arah sang putri dengan pandangan sendu. Ia merasa sangat bersalah terhadap putri kecilnya.
“ Ada apa Dad? “ danique datang menghampiri Seno karena sedari tadi ia memperhatikan daddynya nampak panik.
__ADS_1
“ Abangmu belum datang. Ah, Daddy jadi merasa sangat bersalah kepada adikmu. “ ucap Seno.
“ AYAH ! ‘ pekik Rendra. Seno, Dion, Danique, juga Leora segera menoleh ke arahnya. “ Abang… “ Rendra memperlihatkan ponselnya ke Dion.
Dion segera mengambil ponsel Rendra. Ia melihat ada pesan yang di kirimkan oleh Arvin ssetengah jam yang lalu.
“ Pesan dari Arvin. “ ucap Dion. Lalu ia membacanya. “ Sepertinya kita kecolongn. “ ujar Dion setelah membaca pesan itu. Iapun memberikan ponsel Rendra ke Seno supaya Seno bisa membacanya sendiri.
Dalam pesan itu tertulis
‘ Ren, selamat ya atas pertunanganmu dengan Queen. Maaf abang nggak bisa menyaksikan pertunanganmu. Abang harus segera pergi. Pesawat yang abang mau tumpangi akan segera berangkat. Abang doakan semoga kamu dan Queen selalu berbahagia. Abang titip mama ke kamu. Abang juga titip ayah. Jaga mereka dengan baik. Dan satu lagi, abang juga mau titip … Queen sama kamu. Jaga dia dan sayangi dia dengan baik. Sekali lagi, selamat ya Ren. Abang pergi dulu. ‘
“ Kita ke bandara sekarang. Siapa tahu pesawatnya belum lepas landas. Dari sini ke bandara paling Cuma butuh waktu dua puluh menit. Aku akan menghubungi temanku supaya membukakan jalan buat kita. “ ujar Seno sambil mengembalikan ponsel Rendra ke pemiliknya. Lalu ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Sedangkan Danique, ia segera memberitahu sang mommy dan mengajak sang mommy juga adiknya menuju lobby hotel. Karena Damar telah menyiapkan mobil mereka di depan, berikut dengan beberapa mobil yang lain. Damar memang selalu bisa di andalkan sedari dulu.
Ratu mengikuti langkah sang kakak dan mommynya dengan pandangan bingung. Sedangkan Paris yang melihat gelagat aneh saudara-saudaranya, segera menghampiri Armelle dan Ratu.
“ Mau kemana mom? Bukankah acara pertunangan kak Ratu belum? “ tanya Paris ke Armell sambil mengernyit.
“ Mom, Ratu tadi udah bilang kan? Abang udah nggak perduli lagi sama Ratu. Udah lah mom, abang nggak kesini juga nggak pa-pa. Abang pergi juga nggak pa-pa. “ ujar Ratu.
“ Sayang, kita harus segera nyusul abang kamu sekarang. Nanti mom jelaskan di mobil, oke? “ ujar Armell tegas.
“ Paris ikut, mom. “ ucap Paris dengan cepat. Ia bahkan sudah mengangkat tinggi gaunnya dan berjalan mengikuti Armell dan Ratu. Armell tahu, percuma saja melarang Paris untuk ikut. Makanya ia hanya diam ketika Paris mengatakan ingin ikut.
Pipit dan Bryan yang melihat gelagat saudaranya juga putrinya, juga segera menghampiri danique dan bertanya. Dan akhirnya, mereka juga pergi mengikuti keluarga Adiguna setelah mereka meminta ijin ke keluarga Permana dan menceritakan sedikit masalah yang terjadi.
Keluarga Permanapun tidak mempermasalahkan kepergian keluarga besannya itu. Mereka justru mendukung. Mereka juga ingin ikut, tapi karena masih ada tamu di sana, mereka memutuskan akan menyusul nanti setelah tamu pada pulang.
Melihat sang istri akan pergi meninggalkan hall, Agam segera berlari menyusul dan meraih lengan Paris ketika istrinya itu sudah berada di ambang pintu.
“ Mau kemana? “ tanya Agam.
__ADS_1
Paris menoleh sesaat, “ Mau ke bandara. “
“ Ngapain ? Kenapa semua keluarga kamu juga pergi? “ tanya Agam sambil mengernyitkan keningnya.
“ Bang Ar mau pergi ke luar negeri. Kami harus segera menyusul. “ jawab Paris tanpa menoleh ke arah suaminya.
“ Aku ikut. “
Mendengar ucapan suaminya, paris segera menoleh dan mengernyit, “ Ngapain lo ikut? Di sini aja. Tuh, tamu lo masih banyak. “ ucap Paris sarkas. Dosa, dosa deh bicara kasar sama suami. Batin Paris sambil memalingkan wajahnya.
“ Keluargamu, berarti keluargaku juga sekarang. Lagian mana ada pengantin baru yang di tinggalin. “ gerutu Agam.
“ Serah deh. “ ucap Paris sambil kembali berjalan dengan sedikit susah karena gaunnya yang menjuntai panjang biarpun ia telah mengangkatnya. Di tamabh lagi high hells yang ia kenakan. Melihat sang istri kesusahan, Agam segera membantu Paris mengangkat dan memegangi gaun panjang itu. Paris menoleh sekilas, lalu kembali berjalan.
“ Lepas aja high heelsnya kalau ribet jalannya. “ ucap Agam yang berjalan di samping sang istri.
Paris menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke Agam, “ Boleh emangnya ? “ tanyanya.
Agam menyunggingkan senyum gemas melihat wajah polos istrinya. Lalu ia mengangguk.
“ Nyeker dong? Kan gue nggak bawa sandal. “ ucap Paris sambil melihat kakinya.
Agam berinisiatif melepas sepatunya. “ Pakai sepatu aku. “
Paris mengangkat kepalanya, “ Lo nyeker dong? Nggak lucu kali ke bandara nyeker. “
“ It’s oke. Entar di bandara aku belikan kamu sandal. Sementara, kamu pakai sepatu aku aja. Aku masih pakai kaos kaki ini. Jadi kakiku nggak kotor. “ jawab Agam lembut.
“ Oke deh, kalau lo maksa. “ jawab Paris seenaknya. Lalu ia melepas high heelsnya, memakai sepatu Agam, lalu ia berjongkok untuk mengambil high heelsnya dan di sodorkan ke Agam.
“ Bawain. “ ucapnya.
Agam menerima sepatu itu dengan tangan kirinya karena tangan kanannya memegangi gaun Paris. Ia hanya menggelebgkan kepalanya dan tersenyum tipis melihat tingkah sang istri.
__ADS_1
Bersambung