
Dan di hari yang sama, bahkan di jam yang sama, Ratu juga mendatangi klinik tempat praktek Pipit. " Ontyyyyyy....." rengek Ratu.
" Salam dulu sayang. " ujar Pipit membenarkan.
" Assalamualaikum, onty. " Ujar Ratu sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.
" Waalaikum salam. " jawab Pipit sambil tersenyum membalas senyuman Ratu. " Ada apa nih ponakan onty yang cuantik tiada tara datang ke klinik onty? " tanya Pipit sambil merangkul pundak Ratu.
" Mmmmmm....Ratu mau periksa sama onty. " jawab Ratu lirih dengan kepala menunduk.
Piput mengernyitkan alisnya. " Kamu sakit, sayang?"
Ratu mengangguk perlahan sambil berucap, " Sepertinya onty. "
" Coba, duduk sini. Ceritakan sama onty, apa yang kamu rasakan. Kamu pusing, atau perut kamu sakit, atau apa? " ujar Pipit sambil meraih tangan Ratu dan mengajaknya duduk di kursi yang ada di ruangannya.
" Ratu nggak pusing kok onty. Perut Ratu juga nggak sakit. " jawab Ratu
" Lalu, apa yang kamu rasakan sayang? "
" Jantung Ratu kenapa sekarang jadi sering berdebar-debar? Padahal dulu nggak loh onty. " ujar Ratu sambil memandang Pipit takut.
Pipit kembali mengernyitkan dahinya. " Sejak kapan kamu mulai merasa seperti itu? " tanyanya.
" Mmm...." Ratu berpikir dan mengingat kembali kapan ia mulai merasa seperti itu. " Kalau tidak salah, semenjak pas Ratu habis keseleo dulu onty. "
" Pas waktu di sekolah dulu itu? " tanya Pipit memastikan. Dan Ratu mengangguk.
Pipit nampak berpikir. Masak iya keponakannya itu mengidap penyakit jantung? Ratu masih terlalu muda. Dan seingat Pipit, selama ini Ratu terlihat sangat sehat.
" Coba kamu baring di sana. Onty periksa. " ujar Pipit sambil menunjuk ke ranjang pasien. Ratu mengikuti perintah ontynya. Ia segera bangkit dari duduknya dan naik ke atas ranjang pasien.
Pipit mengeluarkan stetoskop dan memakai di kedua telinganya, dan mendengarkan detak jantung Ratu.
__ADS_1
" Normal, tidak ada masalah." ujar Pipit. Lalu ia sedikit menekan pergelangan tangan Ratu. " Iya, normal kok. "
" Masak sih onty? " tanya Ratu tidak percaya.
" Iya, sayang. Kamu tuh sehat. Sangat sehat malahan. " jawab Pipit sambil tersenyum hangat. " Kamu nggak perlu khawatir. Mungkin jika jantungmu berdebar lebih cepat, itu karena ada sedikit pemicu saja. Mungkin kamu sedang merasa ketakutan, atau kamu mungkin sedang jatuh cinta? "
Ratu sedikit tersentak. Kaget, sudah pasti. Masak iya dia sedang jatuh cinta? Sama siapa coba? Ratu sedikit mengingat -ingat, jika dirinya memang sedang jatuh cinta, saat di dekat siapakah jantungnya tiba-tiba berdebar lebih cepat?
Ratu mengendikkan bahunya. Dia masih bingung. " Ya udah deh onty, Ratu pamit dulu. " ucapnya lemas.
" Nggak di sini dulu sama onty? Nanti pulangnya sama onty sekalian. " tawar Pipit.
" Nggak ah onty. Ratu mau mampir ke Gramed dulu. " jawab Ratu sambil berdiri dari duduknya.
" Ya udah, kamu hati-hati di jalan. " pesan Pipit.
Ratu mengangguk. Ia lalu mengambil tangan Pipit dan mencium takzim. " Assalamualaikum, onty. "
Ratu keluar dari klinik Pipit dengan langkah yang lesu. Rasanya malas banget untuk jalan. Tapi ia tidak bisa hanya terus berdiri di depan klinik kan? Akhirnya Ratu memaksa kakinya untuk berjalan menyusuri trotoar. Bahkan ia yang tadinya hendak memesan taksi online, ia urungkan. Ratu memilih berjalan menuju halte busway. Ia ingin menaiki kendaraan umum saja.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya bus yang di tunggu tiba. Masih dengan langkah lesu, Ratu menaiki busway. Untung penumpang tidak begitu banyak. Jadi Ratu bebas memilih tempat duduk. Ia berjalan ke belakang, memilih duduk di jok paling pojok belakang.
Ratu menatap jalanan lewat kaca jendela sambil menyangga dagunya. Beberapa kali ia menghela nafas berat sambil terus berpikir dan mengingat. Sampai tiba-tiba ia terbersit sesuatu.
" TIDAK MUNGKIN...." teriaknya tanpa sadar. Hal itu membuatnya menjadi perhatian seluruh isi bus. Semua penumpang menoleh ke arahnya. Bahkan sang sopir ikut menoleh sesaat.
Ratu mengedarkan pandangannya ke sekeliling saat ia merasa banyak mata tertuju ke arahnya. Ratu tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Maaf...Maaf..." ucapnya sambil sedikit menundukkan badannya. " He...he...he..."
" Cantik cantik kok..." ujar salah satu penumpang sambil mengarahkan jari telunjuk dengan miring di depan dahinya.
" Maaf..." ucap Ratu kembali sambil kembali duduk di tempatnya.
' Hisss...apa yang aku pikirkan? Tidak mungkin kan kalau aku jatuh cinta sama abangku sendiri? Gila nggak sih? ' batin Ratu.
__ADS_1
Ratu menggigit kuku jarinya kesal. ' Tidak mungkin bang Arvin kan? Masak iya sih? Tapi kalau seingatku, memang saat bersamanya aku menjadi canggung, nggak nyaman, dan jantungkupun berdebar lebih cepat. Ih, tapi masak aku jatuh cinta sama bang Ar sih? ' batin Ratu kembali. Ratu menjadi galau sekarang. Tidak mungkin jika dia jatuh cinta dengan sang Abang tersayang.
' Mommyyyy....ini gimana? Cinta Ratu mu bertepuk sebelah tangan. Hiks...hiks... Sudah pasti kan? Nggak mungkin Abang mau membalas cinta Ratu?' jerit hati Ratu. Bahkan ia semakin kencang menggigiti jari-jari kukunya. Dan satu tangannya, ia gunakan untuk meremas gaun yang di pakainya.
' Mommyyyy...anakmu jatuh cinta...tapi langsung di tolak. Bahkan sebelum Ratu mengatakan cinta, Ratu harus merasakan sakitnya di tolak. Ratu harus gimana sekarang? Ratu tidak bisa bertemu dengan Abang lagi. ' tambahnya.
" Aaahhh.... berhenti baaaangggg....Aku mau turun. " teriaknya dari bangkunya saat ia menyadari jika busnya akan kembali berjalan padahal saat ini bus itu sudah sampai di tempat yang di tuju Ratu.
Ciiittt
Bus di rem depan mendadak dan membuat beberapa penumpang lain mengumpat.
" Maaf...Maaf...Permisi..." ucap Ratu sambil melewati beberapa penumpang yang ada di sampingnya. Ia menundukkan kepalanya berkali-kali saat melewati para penumpang itu.
" Makanya neng...Jangan banyak melamun. " pesan sang sopir.
" I-iya bang. Sekali lagi, maaf ya bang. " ucap Ratu sambil menundukkan kepalanya.
" Iya neng. Hati-hati. "
Ratu mengangguk lalu segera turun dari dalam bus. Ratu berjalan memasuki gedung tinggi nan besar. Sebuah toko buku langganan Ratu. Sebenarnya Ratu tidak ingin membeli buku. Ia hanya ingin menghabiskan waktu di tempat itu. Karena ia ingin menghindari sang Abang. Ratu tidak sanggup jika harus bertemu dengan Abang tersayangnya.
Ratu memasuki toko buku dan berjalan menuju ke deretan rak buku yang menjulang.
" Bagaimana aku harus pulang nanti? Aku tidak ingin bertemu dengannya. Abang pasti masih ada di rumah. Aku tidak sanggup jika harus bertemu dengannya. " gumam Ratu.
" Ah, apa sementara aku tinggal di tempat granma saja ya? Granma juga pasti akan sangat senang jika aku tinggal di sana. " gumamnya lagi sambil tersenyum.
" Tapi apa Daddy sama mom mengijinkan aku tinggal di rumah granma? Apalagi Daddy. Huh. " gumamnya kembali kali ini dengan wajah cemberut.
" Aaahhh...Aku punya ide. " ucapnya girang. Ratu segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Ratu yakin, dengan cara ini, sang Daddy pasti akan mengijinkan. Karena Daddy-nya pasti akan menuruti keinginan sang nyonya besar.
bersambung
__ADS_1