
“ Lo ngapain hari gini udah nongkrong di kost an gue? “ sapa Paris saat ia melihat suaminya berdiri di samping motor KLX milik Agam sambil menyilangkan kedua kakinya.
Sungguh istimewa bukan, menyapa laki-laki yang sudah berstatus sebagai suami semenjak satu tahun yang lalu dengan gaya bicara seperti itu. Kalau bukan si Paris, mungkin tidak ada yang berani.
“ Baru pulang? “ tanya Agam dengan senyum terbaiknya. Berbanding terbalik dengan raut wajah judes dan ketus sang istri.
“ Lo lihat sendiri nih, gue masih pakai seragam, masih bawa tas kayak gini. “ jawab Paris ketus. Tapi Agam tetap memberikan senyumannya.
“ Udah makan siang? “ tanya Agam kembali.
“ Belum. Mau ganti baju sama naruh tas dulu baru cari makan. “ jawab Paris.
“ Ya udah, ganti baju dulu sana. Aku tungguin di sini. Kita cari makan siang bareng. “ ujar Agam. Tanpa menjawab Agam, Paris masuk ke dalam kostannya. Tak sampai lima belas menit, Paris keluar sambil membawa motornya. Waktu ke kampus tadi, Paris memang tidak membawa motor kesayangannya karena posisi kampus dan tempat kost nya yang berdekatan.
“ Kenapa bawa motor ? “ tanya Agam.
“ Katanya mau cari makan. “ jawab Paris santai.
“ Balikin motornya. Kita perhi bareng. Pakai motor aku. “ ujar Agam tegas tak terbantahkan. Dan akhirnya Paris membawa motornya kembali ke dalam. Paris paling tidak bisa membantah Agam jika Agam sudah dalam mode serius dan tidak terbantahkan. Senyuman tipis terbit dari kedua sudut bibir Agam saat melihat Paris membawa motornya masuk kembali. Agam bersyukur, setidaknya, Paris sudah mau mendengar ucapannya saat ini. Sungguh perkembangan yang luar biasa buat Agam.
“ Ya udah, ayo buruan berangkat. Keburu laper. “ ucap Paris ketus.
Agam tersenyum, lalu ia memakai helm full facenya dan menaiki motor, lalu menstarternya. Setelah mesin motor hidup. Paris segera naik ke jok belakang. Karena motor Agam trail, jadi Paris harus duduk dengan sangat dekat dengan Agam. Membuat Paris sedikit kesal.
“ Udah tahu mau ngajakin makan siang. Kenapa nggak bawa mobil aja sih. “ gerutu Paris sambil membenarkan posisi duduknya di belakang Agam.
“ Duduk aja yang bener. Terus jangan lupa pegangan yang kenceng. Jangan menggerutu aja. Awas, entar jatuh. “ sahut Agam yang mendengar gerutuan istrinya. Memang hari ini Agam sengaja membawa motor trailnya.
“ Apaan sih. “ protes Paris. Ia tidak berpegangan ke Agam. Ia menaruh kedua tangannya di atas kedua pahanya sendiri.
__ADS_1
Agam yang ingin menjahili istrinya, dan memang ia ingin istrinya mau memeluknya, mulai menjalankan motornya dengan sedikit kencang dan membuat Paris terkejut, serta hampir jatuh ke belakang. Untung saja ia segera berpeganganga di pinggang Agam dengan memegang kaos yang di kenakan Agam.
“ MAU BIKIN GUE CELAKA, LO ? “ pekik Paris. “ SENGAJA MAU BIKIN GUE PATAH TULANG, IYA? “ lanjutnya tak kalah keras dari ucapanannya yang pertama.
“ Makanya pegangan. Biar aman. Nggak jatuh terus patah tulang. “ sahut Agam sambil terkekeh pelan.
“ Pelan-pelan kenapa sih? “ gerutu Paris.
“ Entar kalau aku ngejalanin motornya pelan-pelan, di bilang kayak siput? Di katain aku nggak becus bawa motor. Serba salah deh. “ protes Agam pura-pura.
“ Mau pegangan nggak ? “ tanya Agam.
“ Ini juga udah pegangan, bawel. “ sahut Paris yang memang sedari tadi ia memegang kedua ujung kaos Agam.
Agam menghentikan kembali motornya. “ Mau jatuh lagi? “ tanyanya. Lalu ia mengambil kedua tangan Paris dan di lingkarkan ke perutnya dengan sedikit menarik tangan Paris sedikit kencang. “ Kayak gini pegangannya biar nggak jatuh. “ ucapnya.
Paris mengerucutkan bibirnya. Dan hal itu di lihat dari kaca spion oleh Agam. Agam tersenyum melihatnya. Meskipun Paris terlihat kesal, tapi ia tidak melepas tangannya yang melingkar di perut Agam. Agam lalu menjalankan kembali motornya dengan lumayan kencang. Sesuai dengan kesukaan Paris tentu saja. Agam menjalankan motornya meliak liuk membelah jalanan kota Bandung yang lumayan padat. Sedangkan Paris memeluk pinggang Agam erat.
Setelah merapikan helm, Agam segera masuk kedalam rumah makan menyusul Paris yang terlihat sudah duduk sambil memlilih menu makan siangnya tanpa menghiraukan suaminya yang baru tiba dab duduk di depannya.
“ Buruan lo mau makan apa. Gue udah kelaparan ini. “ ucap Paris sambil menyodorkan buku menu yang tadi di pegangnya ke hadapan Agam. Lalu ia menulis menu yang dia pilih di selembar kertas yang tadi di berikan oleh seorang pelayan. Agam segera membuka buku menu itu.
“ Lo mau makan apa? “
“ Sama kayak yang kamu pesan aja. “ jawab Agam.
“ Emang lo tahu gue mau makan apaan ? “ tanya Paris sambil memicingkan sebelah matanya.
“ Double tenderloin steak, sama milkshake coklat. Benar kan ? “ ujar Agam.
__ADS_1
“ Sok tahu. “ gumam Paris sambil menundukkan kembali kepalanya sambil kembali menulis menu.
‘ Kok dia bisa tahu gue kalau di sini pasti pesan menu itu sih? Sengaja atau gimana? ‘ gumam Paris dalam hati. ‘ Ah, bodo amat. ‘ lanjutnya.
“ Paris, kita nikah udah satu tahun loh ini. Kamu kapan bisa bicara sama aku tanpa lo gue. Kapan kamu bisa pakai aku kamu kayak kalau kamu lagi bicara sama keluarga kamu? Hem ? “ tanya Agam setelah pelayan mengambil catatan pesanan mereka.
Paris mengendikkan bahunya cuek. “ Entaran. Kalau gue udah mood. “ jawabnya.
Agam menghela nafas berat mendengar jawaban dari Paris. Sudah berkali-kali dirinya meminta Paris untuk berbicara tanpa lo gue. Tapi jawaban Paris selalu sama.
“ Kapan kamu bisa nerima aku sebagai suami kamu? “ tanya Agam kembali.
“ Kapan-kapan. “ jawab Paris asal.
Sakit, tentu saja. Kecewa, jangan di tanya lagi. Itulah yang di rasakan Agam saat ini. Kesabarannya menghadapi seorang Paris selama satu tahun ini masih belum menghasilkan apa-apa. Semuanya masih sama.
“ Paris, dulu kamu setuju saat aku mengatakan kalau kita akan berteman dulu, baru setelah itu kita akan berpacaran, dan setelah itu baru kita jalani pernikahan kita. Tapi sampai satu tahun pernikahan kita, hubungan kita sama sekali tidak berkembang. Jangankan berpacaran. Menjadi teman kamu saja kamu tidak mengijinkan aku. “ ucap Agam dengan nada suara penuh kekecewaan.
“ Bukankah selama ini kita sudah berteman? “ sahut Paris masih dengan nada suara cuek.
“ Berteman macam apa yang kamu maksud? Jika kita memang berteman, kenapa kamu selalu marah dan tidak suka saat aku mendatangimu? Kamu selalu bicara ketus sama aku. Tidak bisakah kamu bicara dengan nada suara yang biasa aja sama aku ? “ protes Agam.
“ Dari dulu gue memang sudah seperti ini. Nada bicara gue juga seperti ini. Muka gue juga judes kayak gini. Lo aja yang lebay. “
“ Tidak. Aku melihat sikap kamu dan gaya bicara kamu ke aku sama ke teman-teman kamu yang lain berbeda. Apakah sebenci itu hatimu kepadaku ? Hingga untuk bersikap sedikit manis saja kepadaku begitu sulit ? “ tanya Agam sambil memandang wajah Paris yang sedari tadi enggan untuk memandangnya.
Paris terdiam kali ini. Ia bingung harus menjawab apa. Bukannya dirinya membenci Agam. Tapi harga dirinya dan keegoisannya yang terlalu tinggi untuk mengakui jika sebenarnya dirinya juga menyukai sosok Agam.
Sosok yang sudah satu tahun lebih ini selalu ada untuk dirinya. Selalu memperhatikannya. Selalu menomor satukan dirinya. Tapi benteng Paris terlalu tinggi untuk bisa melihat semuanya itu.
__ADS_1
Bersambung