
“ Kalau gitu, lo mau nggak tolongin gue? “ tanya Paris sambil membalas tatapan Azkara.
“ Minta tolong apa? “ tanya Azkara dengan pandangan yang tak kalah serius.
“ Lo mau nggak, nikahin gue? “ tanya Paris dengan tatapan penuh harap.
Nafas Azkara bagai tercekat di tengorokan mendengar permintaan Paris. “ Lo jangan bercanda, Ris. Ini masalah serius. Pernikahan itu bukan suatu permainan. “ ujar Azkara.
“ Gue tahu itu. Tapi Cuma lo yang bisa bantu gue lepas dari perjodohan sama si Agam. Bokap gue bilang, gue nggak perlu melanjutkan perjodohan sama Agam kalau gue bisa nemuin calon gue sendiri. Dan lo satu-satunya cowok yang paling deket sama gue selama ini. Dan lo juga bilang kalau lo cinta sama gue. Jadi gue yakin, gue juga pasti bisa ngebales cinta lo kalau kita udah nikah besok. “ jawab Paris.
Azkara menyenderkan kembali punggungnya di sandaran kursi. Ia malah jadi bingung. Seharusnya dia senang karena dirinya punya kesempatan menikahi gadis yang selama ini mengisi hatinya. Tapi kenapa malah ia jadi ragu dan bingung begini. Jika di tanya bagaimana hatinya, maka Azkara tidak akan ragu lagi.
Tapi menikah, berarti menyatukan dua keluarga. Bukan hanya dua hati. Apakah orang tuanya akan mengijinkan dirinya menikah di usia yang sangat muda? Bahkan SMA saja baru lulus. Baru menerima ijazah kemarin. Mau di kasih makan apa istrinya kelak. Dan lagi, ia adalah anak tunggal. Tumpuan keluarganya, kebanggaan keluarganya. Ia yang akan mengusai seluruh bisnis otomotif milik sang papa. Apa mungkin orang tuanya mengijinkan dirinya menikah dalam waktu dekat?
“ Lo nggak mau ya Ka? “ tanya Paris dengan memelas.
Azkara menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kasar. “ Paris, kalau lo tanya gue, gue mau nikah sama lo atau nggak, tentu gue bilang, gue seneng banget bisa nikah sama lo. “ sahut Azkara. Lalu ia menjeda omongannya sebentar. “ Tapi, menikah, bukan hanya menyangkut kita berdua. Ada orang tua kita. Gue.. Gue harus bicara dulu sama bokap nyokap gue sebelum gue ambil keputusan. Soalnya bagaimanapun juga, gue belum kerja. Gue nggak belum bisa kasih makan sama lo kalau gue nggak ngandelin bokap. “ lanjut Azkara.
Muka Paris jadi mendung. Meskipun ia sangat tahu jika jawaban seperti yang akan di berikan oleh Azkara, tapi tetap saja dirinya sedikit kecewa.
Paris mengangguk lemah. “ Gue ngerti kok Ka. Permintaan gue ini emang berat. “
“ Hey, don’t be so sad. Gue akan berusaha bantu lo. Jujur, gue nggak rela jika lo di miliki laki-laki lain. “ hibur Azkara sambil mengelus puncak kepala Paris. “ Gue akan segera bicara sama bokap sama nyokap gue. Gue harap mereka setuju dengan permintaan gue. Secepatnya, gue akan kasih kabar ke lo. Oke? “ lanjut Azkara.
__ADS_1
Setelah beberapa hari menunggu kabar dari Azkara, akhirnya malam ini, tepat lima hari sebelum acara pernikahannya dengan Agam, Azkara menghubunginya.
“ Halo, Ka. “ sapa Paris dengan suara lesu. Ia sudah tidak mengharap banyak kepada Azkara.
“ Halo, Ris. Gimana kabar lo? “ tanya azkara.
“ Nggak perlu gue jawab, lo pasti tahu gimana kabar gue sekarang. “ sahut Paris tak bersemangat.
Mendengar jawaban dari Paris, Azkara menghela nafas kasar. Mau tidak mau, ia harus tetap memberikan keputusannya ke Paris.
“ Paris, gue ngubungi lo, buat kasih tahu jawaban dari permintaan lo. “ ujar Azkara hati-hati.
“ Hem. “ Paris sepertinya sudah tahu jawaban dari Azkara.
“ Maaf. “ ucap Azkara.
“ Maafin gue, Ris. Gue udah berusaha minta restu sama bokap nyokap, tapi mereka nggak kasih restu. Mereka bilang, kalau lo mau, lo harus nunggu sampai gue lulus S1. “ ujar Azkara lirih.
“ Lo tahu kan Ka. Gue nggak bisa nunggu selama itu. Bahkan buat nunggu satu minggu aja gue nggak bisa. “ sahut Paris.
“ Maaf. Gue juga sebenarnya berat buat lepasin elo, Ris. Tapi…”
“ Kita kawin lari aja yuk, Ka. Nggak dapet restu dari orang tua lo juga nggak pa-pa. Kan yang bakalan nikahin kita itu bokap gue. “ pinta Paris dengan ide konyolnya.
__ADS_1
“ Nggak bisa gitu juga, Ris. Gue ini anak tunggal. Cuma gue yang bokap sama nyokap gue punya. Gue nggak boleh egois. Maaf. “ sahut Azkara.
Yah, Azkara memang sangat mencintai Paris. Tapi ia juga mencintai kedua orang tuanya. Dan cinta serta baktinya terhadap kedua orang tuanya melebihi cintanya terhadap Paris.
“ Ya udah deh Ka. Mungkin emang udah jalan hidup gue harus nikah sama Agam. “ ujar Paris memupus semua harapannya. Lalu ia memutus panggilan Azkara. Ia menenggelamkan kepalanya ke kedua lututnya sambil menangisi takdirnya yang terasa sangat miris. Ia harus menikah di usia yang masih sangat muda. Usianya baru menginjak delapan belas tahun dua hari yang lalu. Dan lima hari ke depan, ia akan menyandang status baru yaitu seorang istri.
Sedangkan di kamar yang lain di rumah yang lain, Azkara juga sedang menangis. Menangis karena ia akan kehilangan kesempatan untuk memiliki gadis yang ia cintai sejak lama untuk selamanya.
Dan di rumah yang lain lagi, Agam tengah tersenyum sumringah membayangkan lima hari lagi dirinya akan menyandang status resmi menjadi suami dari Paris Adorabella Ernest. Gadis yang telah berhasil mencuri hatinya mulai semenjak pandangan pertama. Ia berjanji terhadap dirinya sendiri, jika ia akan membuat Paris juga mencintainya dan ia juga berjanji akan membahagiakan Paris dengan caranya sendiri.
Agam terus memandangi gambar paris yang ia ambil dari medsos Paris. Paris terlihat sangat cantik dalam gambar itu. Agam juga sudah berlatih mengucapkan ijab kabul semenjak orang tuanya memberitahunya jika ia akan segera menikah dengan Paris setelah Paris berusia genap delapan belas tahun. Agam tidak ingin jika ia sampai mengulang dalam mengatakan ijab kabulnya.
“ Dih, yang mau merid, bawaannya pengen senyum terus. “ ledek Thoriq yang tiba-tiba datang ke dalam kamarnya.
“ Ngagetin aja kamu, Riq. “
“ Seneng ya kak mau merid? Kak Agam tuh paling muda sendiri di keluarga kita, tapi nikahnya paling duluan. Berarti entar kak Agam jadi paling tua sendiri jadinya. “
“ Kok bisa? Ya nggak lah. Tetep aku paling muda. “
“ Ya bisa lah. Kak Agam kalau udah merid, terus punya anak, kan bakalan jadi bapak. Sedangkan aku sama kak Kyra masih belum di jadi orang tua. Tua kan kalau udah punya buntut? “ ledek Thoriq kembali.
“ Ah, biarin deh. Yang penting umur aku tetap yang paling muda. “ bela Agam.
__ADS_1
Bersambung
Maaf ya guysss.... othor baru up lagi...nggak papa kan ya??? telat...yang penting hari ini tetap update double seperti janji othor...okeh...okeh...okeh....