
“ Good morning bestiiiiiiii……” sapa Paris ketika memasuki ruang ujiannya. Entah ini ada unsur kesengajaan atau tidak, tapi ia bisa satu ruangan dengan Edo dan Jojo sahabatnya. Sedangkan Azkara dan Agus ada di ruang sebelah.
“ Besti….Besti…” protes Jojo. Tak urung dia mengangkat tangannya untuk melayangkan salam persahabatn yang biasa mereka lakukan saat bertemu. Begitu juga dengan Edo.
“ Udah pada buat contekan belum? “ Tanya Paris membuat Jojo berdecak.
“ Gue Cuma nanya, oke? Calm. Jangan marah-marah, nanti cepet tua.
“ Lo kali yang buat contekan. “
“ Eits, sorry ya..Eyke nih punya otak encer..Kagak kayak ye…” ucap Paris dengan nada bicara bency sambil menunjuk Jojo.
Bug. Sebuah buku mendarat apik di atas kepala Paris. Untung aja buku itu tipis.
“ Jijay gue lihat lo kayak gitu. Hiiii ….” Edo menggidikkan tubuhnya.
“ Sakit, pe a’ !” umpat Paris sambil mengelus kepalanya.
“ Nj*rrr, Cuma buku sepuluh lembar doang. Sok dramatis lo. “ protes Edo.
“ He…he…he…” Paris menampilan deretan gigi putihnya. “ Eh, gue mau ke ruang sebelah dulu. Mau lihat bebeb dulu. Entar bebeb kalau nggak di tengokin sama gue, bisa nggak konsen ngerjain soalnya. “ ujar Paris. “ Lo pada mau ikut kagak? “ ajaknya.
“ Nggak. Kita mau belajar. Tadi sebelum kita ke kelas, kita udah nyamperin mereka. “
“ Yo uwis lah. Aku ameh ning sebelah disik yo. “ ucap Paris dengan bahasa Jawa karena sering mendengar Vion pakai bahasa Jawa, Paris terkadang jadi ketularan. ( Ya udah, aku mau ke sebelah dulu ya. )
“ Dasar bule nggak jelas. “ gerutu Jojo dan Edo hampir bersamaan. Tapi Paris sudah berlalu dari dalam ruangan mereka.
Di ruangan sebelah
“ Hai…Hai…Hai…My bebeeeebbbb…..” sapa Paris dari pintu masuk ruang sebelah. “ I am comingggg….” Ucapnya lagi dengan suara lantang. Membuat satu isi ruangan menoleh ke arahnya. Tak lama satu orang lai-laki juga menatap dengan senyum simpul di sudut bibirnya. Laki-laki itu adalah Agam.
__ADS_1
Ternyata ia satu ruangan dengan Azkara dan Agus. Tapi bukan Paris namanya kalau ia menghiraukan mereka. Dengan langkah sambil loncat-loncat kecil, Paris berjalan menuju meja Azkara.
“ Good morning, my bebeb…” sapa Paris ke Azkara sambil merangkul pundak Azkara. Jika ada orang yang tidak mengenal mereka, maka orang itu pasti mengira jika Azkara dan Paris mempunyai hubungan spesial. Karena mereka begitu dekat. Sama halnya dengan siswa yang baru bulan kemarin masuk di sekolah itu. Sampai saat ini, ia masih mengira jika Azkara adalah kekasih dari gadis yang diam-diam namnya sudah tersemat indah di hatinya.
“ Morning. “ sapa Azkara balik dengan senyum khasnya. Senyuman yang hanya ia perlihatkan pada Paris seorang.
“ Lagi belajar, lo? Udah, tutp aja bukunya. Lo tu entar ngerjain soalnya sambil merem juga nilai lo sempurna. “ ucap Paris sambil menutup paksa buku yang di pegang oleh Azkara.
“ Paris, gue lagi ngapalin kosakata. “
“ Ck. Entar kalau lo nggak ngerti artinya, lo tinggal chat gue. Gue transletin semua deh entar. “ Jawab Paris enteng. Mapel ujian hari ini adalah Bahasa Inggris. Dan Paris jelas tidak akan kesusahan. Secara dia paling ahli dalam hal bahasa Inggris.
“ Tapi besok tukeran. Lo ajarin gue kalau ada soal molekul-molekul, oke? “ lanjutnya sambil memamerkan giginya yang berderet rapi dan menaik turunkan kedua alisnya.
Obrolan mereka tak luput dari sepasang manik hitam pekat milik Agam. Sedari tadi, Agam mengamati dan mendengarkan percakapan dua orang itu. Ingin rasanya Agam berada di posisi Azkara saat ini. Boleh tukeran jiwa nggak sih? Gue ikhlas deh kalau tampang gue tukeran sama si Azkara itu. Batin Agam.
Azkara terlihat mengacak rambut Paris dan membuat gadis itu cemberut.
“ Nggak usah cemberut. Entar cantiknya hilang. “ goda Azkara.
“ Ya udah, sini gue benerin. “
Paris langsung tersenyum, kemudian memutar sedikit posisi duduknya hingga membelakangi Azkara.
“ Yang rapi loh. Awas kalau nggak. “ ujar Paris.
“ Iya. Lo tenang aja. Kalau Cuma nguncir kuda rambut lo, gue kan ahlinya. Lo masih inget nggak, dulu waktu kelas tiga SD, lo pernah nangis kejer gara-gara kunciran lo lepas, dan lo nggak bisa benahinnya. Gue kan yang akhirnya bikin lo kicep, gue berhasil kuncir rambut lo lagi. “ sahut Azkara sambil tangannya sibuk merapikan setiap anak rambut Paris dan di jadikan satu lalu ia kuncir pakai karet.
Paris mengangguk sambil tersenyum, “ Gue inget lah. Waktu itu, kita bahkan belum saling kenal. “
Azkara tersenyum, “ Nah, beres deh. “ uajrnya sambil mengelus rambut Paris.
__ADS_1
“ Makasih, my bebeb. “ ucap Paris sambil mengerjab-ngerjabkan matanya lucu.
“ Ih, apaan sih lo. Geli gue lihatnya. “ protes Azkara sambil meraup wajah Paris. Dan mereka tertawa bersamaan.
“ Ris, rambut lo bagus, warnanya coklat agak keemasan, panjang. Kenapa nggak lo biarin tergerai gitu. Pasti lo jadi tambah cantik. “ ucap Azkara sambil membelai rambut Paris yang terkuncir kuda.
Paris mengendikkan bahunya. “ Males. Entar gue jadi kayak abege-abege alay. Lo tahu kan, jiwa gue kayak gimana? Lagian, gue dasarnya udah cantik. Mau di apain aja juga tetep cantik. “ sahut Paris dengan pedenya.
“ PD banget lo jadi orang. “ protes Azkara.
‘ Yah. Lo emang cantik apa adanya.’ Itulah suara hati Azkara yang sebenarnya.
Sedangkan di bangku deretan sebelah Azkara, Agam nampak kesal melihat kedekatan dua anak manusia itu. Apalagi saat ia melihat Azkara menguncir dan membelai rambut Paris. Ingin rasanya ia menarik tangan Azkara.
“ Eh, si Agus belum datang ya? “ tanya Paris sambil celingak-celinguk. Tapi mata birunya malah bersitubruk dengan mata hitam pekat milik Agam. Paris segera mengalihkan pandangannya saat si pemilik mata hitam pekat itu memberikan senyum manisnya kepadanya.
Paris sempat tercekat dan membatu sesaat. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Seperti saat ia sedang melakukan panjat tebing.
“ Ka, gue balik ke kelas dulu ya. Udah mau bel juga. “ pamit Paris.
“ Hem. “ sahut Azkara sambil mengangguk. “ Entar kita ke kantin barengan. Tungguin gue di ruangan lo. “
“ Ashiaapp, my bebeb. Ya udah gue ke sebelah dulu. “ Ucap Paris sambil beranjak dari duduknya.
“ Jangan rindu sama gue. Karena rindu itu berat. Ha…ha..ha…” lanjut Paris sambil berjalan mundur meninggalkan bangku Azkara sambil mengerlingkan sebelah matanya juga. Azkara hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah sahabat sekaligus pemilik hatinya itu. Gadis yang sudah lama ia sukai dalam diam.
“ Kalian pacaran? “ tanya Agam setelah melihat Paris berlalu dari ruang ujiannya.
Azkara menoleh, lalu menggeleng. “ Pengennya gitu. Cuma sayang, dia nggak tertarik dengan yang namanya pacaran. “
“ Tapi aku lihat, kalian deket banget. Nggak kayak kalau sama temen-temen kalian yang lain. “
__ADS_1
Azkara kembali tersenyum miris. “ Itu karena Paris hanya bisa terbuka tentang banyak hal sama gue. Karena kita bersahabat udah sepuluh tahun lamanya. “ Azkara kembali membuka buku yang tadi di tutup oleh Paris.
Bersambung