
Mau aku kupaskan buah? Apel mungkin? Jeruk? Atau pir? “ Tawar Agam mencoba mencairkan suasana. Sepeninggal orang tua Paris, keadaan ruang rawat Paris memang sangat lengang. Antara Paris maupun Agam tidak ada yang mengeluarkan suara. Paris masih tetap berbaring membelakangi Agam semenjak tadi, padahal Agam berada di kursi di samping ranjang Paris.
Sedangkan Agam, sibuk mecari kata-kata yang pas untuk memulai pembicaraan dengan Paris. Setelah ungkapan cintanya beberapa waktu yang lalu tanpa ada jawaban dari Paris, memang antara Agam dan Paris sama sekali belum ada pembicaraan. Di antara mereka belum ada yang membuka pembicaraan. Sebenarnya ini bukan kemauan Agam. Ini murni Paris yang mau karena Paris selalu menghindar dari Agam.
Bohong jika jantung Paris saat ini tidak lagi berdebar kencang. Ia sengaja membelakangi Agam karena ia tidak ingin terlihat gugup karena saat ini mereka memang hanya berduaan saja di ruangan itu.
Paris tidak menjawab tawaran Agam.” Paris, kamu tidur? “ Tanya Agam. Ingin rasanya ia berpindah tempat ke depan Paris. Tapi kembali lagi, ia tidak ingin Paris menjadi semakin canggung dengannya. Merasa tidak nyaman dengannya.
Agam menghela nafas panjang. “ Mungkin kamu tertidur. Oke, baiklah. “ ucap Agam seolah-olah Paris akan mendengar ucapannya. Agam kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia mengambil ponselnya untuk bermain game untuk menghilangkan rasa bosan karena suasana kamar yang sangat sepi.
Satu menit berlalu, dua menit berlalu, sampai setengah jam kemudian.
‘ Si*al! Kenapa pake kebelet sih ah. Nih perut nggak bisa di ajak kompromi banget, elah. ‘ gerutu Paris dalam hati. Tapi Paris masih tetap menahannya. Paling tidak sampai Ratu datang. Hingga beberapa waktu berlalu. Perut Paris semakin terasa sakit.
‘ Nggak bisa di biarin ini. Uh, sh*it! Kenapa harus sekarang sih ah!Kalau gue nggak segera ke kamar mandi, bisa-bisa gue kencing di sini. ‘ umpat Paris. ‘ Gue harus bisa ke kamar mandi sendiri. Nggak mungkin juga kan gue minta tolong ke dia. Ah, nyusahin aja sih nih perban di kaki.’ Umpatnya kembali.
Paris mulai menggerakkan tubuhnya. Agam yang sedari sibuk memperhatikan pinselnya, segera menengadahkan kepalanya kala merasa Paris menggerakkan tubuhnya. Dengan susah payah, Paris bangun dari tidurannya.
“ Kamu mau kemana? Mau aku bantu? “ tawar agam. Kini ia sudah dalam keadaan berdiri. Tangannya bahkan hendak memegang tubuh Paris, tapi Paris segera menepis tangannya. Akhirnya Agam mengalah. Ia menurunkan kembali tangannya.
Paris berusaha turun dari ranjang dan mengambil infus yang tergantung di pojok ranjang dengan susah payah. Bahkan dirinya hampir saja tersungkur. Untung saja, tubuhnya masih berada di atas ranjang. Jadi ia bisa langsung menopang tubuhnya. Agam terus memperhatikan gerak gerik Paris sambil berjaga-jaga.
Ketika tangannya berhasil meraih infus, Paris segera turun dari ranjang. Tapi ia kembali kesusahan kala hendak berjalan. Kakinya terasa kaku karena perban yang sangat tebal. Seandainya ia tangan satunya tidak sedang memegang infus, mungkin Paris bisa berjalan merambat dengan berpegangan dengan apa saja yang bisa ia raih. Tapi karena tangannya yang satu ia gunakan untuk memegang infus, Paris jadi kesusahan.
Agam awalnya akan membiarkan menunggu Paris berbicara meminta tolong atau apa. Tapi ternyata, Paris memang sangat keras kepala. Ia bahkan lebih baik terjatuh daripada harus meminta tolong ke Agam. Mungkin jika yang ada di sini adalah Azkara, Paris tidak akan sesungkan ini.
Agam meraih tangan kiri Paris dan di kalungkan ke lehernya. Kemudian ia mengambil infus yang berada di tangan kanan Paris dan memegangnya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menggandeng pinggang Paris. Paris reflek menoleh dan melotot ke arah Agam karena kelakuan Agam.
__ADS_1
“ Udah, nggak usah marah dulu. Aku Cuma mau bantuin aja. Daripada kamu jatuh. Yang ada kamu bisa makin lama di sini. Makin lama di sini, makin seneng hantu yang mendiami kamar ini. Karena ia punya teman yang cantik kayak kamu. “ goda Agam.
Paris segera memalingkan wajahnya ke samping. Ia memegang dinding yang ada di sampingnya dengan tangan kanannya. Tanpa menunggu lama lagi, Paris segera beranjak dan Agampun mengikutinya. Ia tidak akan mengajak ribut sekarang karena panggilan alam yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.
Agam menyunggingkan senyuman tipisnya sambil membantu Paris masuk ke dalam kamar mandi. Sampai di kamar mandi, Agam mendudukkan Paris di atas toilet duduk yang tertutup. Lalu ia menyantolkan infus di tempat yang sudah pihak rumah sakit sediakan.
“ Bisa melepas celana sendiri? “ goda Agam dan langsung di pelototi oleh Paris. “ Jangan marah nanti cepet tua seperti yang di bilang Daddymu. Aku hanya menawarkan saja jikalau kamu kesusahan melepas celanamu, aku akan membantu dengan senang hati. “ lanjut Agam sambil terkekeh.
“ Keluar sekarang!” bentak Paris kesal.
“ Hei, aku bilang jangan marah-marah. Maksud aku baik loh. Aku hanya akan menopang tubuhmu, lalu kau buka celanamu. Bukan aku yang mau membukakan celanamu. Pikiran kamu ternyata jorok juga yah. “ goda Agam lagi.
“ Aku bilang keluar sekarang!! “ teriak Paris kembali. “ Keluar, nggak? “ lanjutnya sambil manatap tajam ke arah Agam.
“ Iya…iya aku keluar sekarang. Kalau butuh bantuan, teriak aja. Suara kamu kan kenceng banget kalau teriak. Jadi nggak usah pakai mic. “ sahut Agam sambil membuka pintu kamar mandi dan segera keluar,lalu menutupnya kembali.
Hingga sepuluh menit kemudian, Paris membuka pintunya setelah ia berhasil mengambil infusnya dan dengan melompat lompat kecil, ia berhasil meraih gagang pintu.
Agam yang sedari tadi bersandar di dinding dekat pintu kamar mandi sedikit terkejut melihat pintu terbuka dari dalam.
“ Kenapa nggak manggil tadi? “ tanya Agam sambil menghampiri Paris. Ia mengambil infus dari tangan Paris, dan mengalungkan tangan kiri Paris ke lehernya, lalu ia menggandeng pinggang Paris dan menuntun Paris hingga ke ranjang.
Setelah Paris terduduk di tepi ranjang, Agam memasang kembali infus di pojok ranjang. Lalu ia membantu Paris menaikkan kedua kaki Paris ke atas ranjang.
“ Makasih. “ ucap Paris pelan. Agam tersenyum tipis.
“ Cuma satu aja makasihnya? Nggak mau bilang makasih juga karena aku udah nolong kamu waktu kecelakaan? “ ucap Agam.
__ADS_1
“ Kalaupun bukan kamu yang nolong, teman-temanku pasti nolongin aku. “ sahut Paris masih dengan nada bicara yang tidak bersahabat.
“ Kamu yakin teman-temanmu yang akan pertama nolongin kamu? “ ucap Agam sedikit menyindir. “ Karena setahuku, Azkara dan yang lainnya berada cukup jauh dari lokasi kamu terjatuh. Dan yang di dekat kamu adalah Jesh. Jadi bisa di pastikan, jika aku tidak segera menolongmu, maka Jesh yang akan menolongmu. Dan percuma saja kamu membahayakan hidup kamu seperti itu untuk menhindari jesh. Karena pada akhirnya kamu akan berhutang budi padanya, dan mau tidak mau kamu harus membalasnya. “ lanjut Agam sambil menatap Paris dengan mengangkat sebelah alisnya. Membuat Paris langsung terdiam. Benar juga apa yang di bilang Agam.
Paris segera mengambil ponselnya yang ada di atas nakas untuk berpura-pura tak menghiraukan Agam yang sedari tadi ada di sampingnya. Sebenarnya bukan tidak menghiraukan Agam, tapi ia takut dengan detak jantungnya sendiri.
“ Kak, kapan sampai sininya? “ tanya Paris kala ratu sudah menerima panggilannya.
“ Iya, bentar lagi. “ jawab ratu.
“ Paris sendirian nih. “
“ hei, ada aku di sini. “ protes Agam.
“ Siapa itu Ris? “ tanya Ratu.
“ Jurik. “ jawab Paris ketus.
Bersambung
Maafkan ya kak.... update episode nya yang kemarin seharusnya update yang hari ini...dan episode ini seharusnya update kemarin... kemarin karena upload nya buru-buru jadi salah mengkopi file 🙏🙏🙏
Semoga kakak² nggak kecewa deh ya...
seharusnya baca ini baru yang kemarin...jadi ceritanya nyambung
sekali lagi, maaf ya kak🙏🙏
__ADS_1