Cinta Datang Karena Terbiasa

Cinta Datang Karena Terbiasa
Panik


__ADS_3

" Ini kenapa ranjang punya Arvin berantakan kayak kapal pecah begini? " tanya Armell kala baru masuk ke dalam kamar rawat inap bersama sang suami.


" Bukan kapal pecah, mom. Tadi ada kapal selam yang mampir kayaknya. " jawab Paris sambil menyisir rambutnya yang panjang.


" Kapal selam? " tanya Armell sambil mengernyitkan dahinya.


" Iya mom. Kapal selam... Yang bentuknya tumpul itu. Sepertinya tadi kapal selamnya habis menyelam. Makanya peraduannya berantakan kayak gitu. " jawab Paris.


" Mommy makin nggak ngerti sama omongan kamu deh Ris. " sahut Armell sambil mengusap tengkuknya.


" Udah, baby. Nggak usah di pikirin omongan Paris. Dia kan sebelas dua belas sama si burung emprit. " sela Seno.


" Awas ya Daddy El. Entar Paris aduin loh sama bunda sama Daddy bule Paris. " ujar Paris. " Entar Paris bilangin ke Daddy, kalau besok Daddy El bakalan kasih Ferrari ke Daddy bule dengan senang hati. " lanjutnya.


" Maksud kamu? Bagaimana aku bisa kasih Ferrari ke Daddy bule kamu itu? Sedangkan bayi kamu sama bayi Ratu belum keluar. "


" Tentu saja bayi Paris yang akan keluar lebih dulu, Uncle Daddy El.... " sahut Paris jumawa. Jika sebutan panggilan Seno dari dirinya sudah lengkap seperti itu, itu artinya Paris sedang dalam hati yang bahagia.


" Emang kamu tahu bayi kamu mau keluar sebelum bayi Ratu keluar apa tidak? " ejek Seno .


" Paris akan memaksanya keluar sebelum bayi kak Ratu keluar. Jadi Daddy bule akan mendapat mobil limited edition itu. " kekeh Paris.


" Dasar! Nggak anak, nggak bapak sama. " vonis Seno yang di sambut kekehan oleh Paris. Sedangkan Agam dan Armell hanya menggelengkan kepalanya malas mendengar perdebatan mereka.


" Kemana Ratu sama Arvin? " tanya Armell.


" Mereka sedang di kamar mandi, Tante. " jawab Agam.


" Oh. " sahut Armell. " Bagaimana keadaan kamu, Gam? " tanya Armell sambil mengusap pundak Agam.


" Alhamdulillah sudah baikan tante. Nanti siang infusnya juga sudah bisa di lepas, kata suster. Nunggu habis aja. " jawab Agam.


" Syukurlah kalau begitu. " ucap Armell sambil tersenyum.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka dari dalam. Muncullah dua orang anak manusia berlainan jenis. Ratu memegangi infus Arvin tinggi-tinggi.


" Mommy.. Daddy.. " sapa Ratu. Setelah ia meletakkan infus Arvin di tempat yang telah tersedia, ia lalu menyalami tangan kedua orang tuanya.


Armell dan juga Seno mengecup puncak kepala Ratu bergantian juga memeluknya. Ratu juga memeluk mereka bersamaan.

__ADS_1


" Bagaimana kabar cucu Daddy? " tanya Seno sambil mengelus perut Ratu.


" Dia sehat Daddy. Sesehat mommy nya. " tutur Ratu sambil tersenyum dan mengelus perutnya.


" Daddy tidak menanyakan kabarku? Ah, Daddy sama mommy melupakanku. " protes Arvin sambil merajuk karena tidak mendapat pelukan dari kedua orang tua angkatnya yang kini telah menjadi mertuanya.


Armell tersenyum, lalu mendekat ke arah Arvin. Ia lalu merengkuh tubuh kekar anak sulung sekaligus menantunya dan memeluknya.


" Anak mommy... " ucap Armell tersenyum tipis dan menepuk punggung Arvin.


" Sudah, jangan lama-lama meluk mommy kamu. " ucap Seno seolah tidak rela istri kesayangannya di peluk orang lain.


" Uncle udah tua masih suka cemburuan. Sama anak sendiri lagi. " ledek Paris.


" Ck. " Seno berdecak kesal.


Tak urung, Arvin melepas pelukannya ke sang mommy. Setelah pelukan itu terlepas, Seno memeluknya, dan menepuk pelan punggungnya.


" Baru di tinggal Daddy dua hari udah sakit aja kamu. " ucap Seno.


" Keadaan, Dad. " jawab Arvin.


" Sebenarnya apa yang terjadi sampai kalian berdua bisa sakit bersamaan begini? " tanya Armell.


Brakk


Pintu ruang rawat inap terbuka sedikit kasar dari luar. Muncullah Pipit yang di ikuti oleh Bryan dari belakang.


" Honey, awas... Pelan-pelan nanti kejedot " pekik Bryan memeringati istrinya yang begitu tergesa-gesa.


" Agam?? Bagaimana keadaan kamu nak? " tanya Pipit dengan tidak sabaran. Membuat semua yang ada di sana termasuk sang suami mencebikkan bibirnya.


" Agam udah baikan kok bund. " jawab Agam.


Pipit memang orang paling panikan jika ada anggota keluarganya yang sakit. Mungkin rasa trauma kala sang ibu meninggal karena sebuah penyakit ganas yang selalu di sembunyikan sang ibu, membuat dirinya tidak mengetahui tentang penyakit itu, dan akhirnya ibunya meninggal dalam kondisi dirinya yang baru mengetahui penyakit sang ibu.


Pipit selalu parno an kala anggota keluarganya sakit secara tiba-tiba seperti ini.


" Rileks, honey. Menantu kita baik-baik saja. " ucap Bryan menenangkan istrinya sambil mengelus pundaknya.


" Nggak, bang. Aku nggak akan tenang sebelum mengecek sendiri keadaannya. " sahut Pipit yang langsung mengeluarkan stetoskop dan peralatan medis lainnya dari dalam tasnya.

__ADS_1


" Abang periksa Arvin, aku periksa Agam. Cepetan. " Pipit mendorong tubuh suaminya agar mendekat ke Arvin. Semua yang ada di sana di buat cengo dengan sikap berlebihan Pipit.


" Tapi kami sudah di periksa dokter, Tante. " sahut Arvin.


" Tante ingin memastikan sendiri kondisi kalian. Titik. Jangan membantah. " sahut Pipit dengan nada suara tak terbantahkan. Armell lalu menggelengkan kepalanya ke Arvin supaya Arvin tidak menolak lagi.


" Honey, mereka baik-baik saja. Mereka hanya alergi sama makanan. Kamu sudah dengar sendiri kan tadi? Tadi kita sudah menemui dokter yang menangani mereka. " ucap Bryan.


" Aku tidak terlalu yakin dengan temanmu itu. " ucap Pipit sekenanya. Ia tetap sibuk mengeluarkan semua peralatan medisnya. Dan Bryan hanya bisa menghela nafas panjang, lalu mengikuti kemauan sang istri. Ia pun mendekat ke arah ranjang Arvin.


" Kita lakukan saja, Dud. " ucap Bryan ke Arvin sambil mengambil stetoskop dari tangan istrinya.


Akhirnya, Arvin hanya bisa pasrah. Ia membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Sedangkan Agam, masih loading dengan yang terjadi. Ia merasa tubuhnya sudah baik-baik saja.


" Agam, ayo cepat baring. " titah Pipit dengan suara tegas.


" Ta-"


" Mas, mending berbaring aja deh. Ikuti kemauan bunda. Nanti aku ceritain kenapa bunda bisa seperti itu. " bisik Paris di dekat Agam sambil mendorong tubuh Agam supaya berbaring. Agampun hanya bisa mengikuti kemauan sang mertua.


Pipit memeriksa Agam dengan serius. Begitu juga dengan Bryan yang memeriksa Arvin.


" Hah. " Pipit bernafas lega setelah memeriksa keadaan Agam. Lalu ia menoleh ke arah suaminya.


" Gimana Arvin, bang? " tanyanya.


" Everything is fine. " jawab Bryan yang sebenarnya telah selesai sedari tadi memeriksa Arvin. Ia sengaja menunggu sang istri bertanya.


" Oh, syukurlah. " ucap syukur Pipit. Ia lalu kembali memasukkan semua peralatan medis ke tasnya. Semua juga ikut mengucapkan syukur.


" Sekarang, ceritakan sama bunda, kenapa kalian bisa sakit bersamaan begini? Memangnya kalian makan apa? " tanya Pipit setelah ia selesai membereskan peralatan medisnya.


Kini, ia duduk di kursi di sebelah kursi yang di duduki oleh Paris. Bryan berdiri di sampingnya.


" Ka-"


Ceklek


Pintu ruang inap itu kembali terbuka dari luar sebelum Arvin selesai berucap. Muncullah Ameera dan Attar. Lalu di susul oleh Dion, Leora, juga Rendra. Dan di belakang mereka, nampak opa juga oma Permana.


" Bagaimana kalian bisa datang bersamaan begini? " tanya Pipit.

__ADS_1


" Kebetulan, kami bertemu di lobi. " jawab Ameera.


bersambung


__ADS_2