
Happy reading yess....
*****®
Jingga yang kaget dengan banyak nya cahaya lilin, membuat dia sedikit berteriak, mata yang semula tertutup kain hitam langsung terasa silau. Hingga dia benar benar kaget di buatnya.
"Jangan berteriak Jingga, CK kamu merusak suasana saja." gerutu Bintang yang sedikit jengkel karena Jingga malah membuat dia dan yang lain kaget.
"Maaf, maaf, aku benar-benar kaget." sesak Jingga dengan perasaan tak enak.
"Ayo kita duduk," ajak Bintang yang langsung di turuti Jingga.
Masih dengan perasaan campur aduk, Jingga menatap sekeliling, restoran yang sudah di tata sedemikian rupa, sehingga terkesan romantis dan indah pada malam ini.
Dalam hati, Jingga masih bertanya tanya, akan ada acara apa, sehingga Bintang menyiapkan tempat seindah ini.
"Apa kamu suka?" tanya Bintang yang membuat Jingga langsung menatap kearahnya.
"I iya," Jingga menjawab dengan gugup.
"Sayang," panggil Bintang dengan suara pelan.
"Apaan sih, dari tadi manggil sayang sayang, ada hubungan juga enggak, ketemu juga baru, udah main panggil sayang saja." Jingga menggerutu dengan memalingkan wajahnya yang sebenarnya sudah sangat malu, dia sadar sejak tadi, Bintang terus menatapnya dengan intens.
"Jingga," kali ini Bintang memanggil namanya, di sertai gerakan tangan yang memegang dagu Jingga agar menghadap kepadanya.
"Mungkin, selama ini aku tidak begitu paham akan arti sikapmu, aku hanya terus mengejar mu, tanpa tau apa yang sebenarnya kamu ingin sampaikan lewat sikapmu, maaf bukannya aku berjuang, tapi aku malah pergi menjauh, maaf karena sikap bodoh ku, yang akhirnya membawamu pada rasa rindu yang tak pernah kau ucapkan. Saat ini, ijinkan aku menebus semua waktu yang telah terlewati dengan percuma. Ijinkan aku menjadi penawar bagi rindu yang ternyata sama sama kita rasakan." Bintang sejenak menjeda ucapannya, dia tatap mata itu dengan hangat dan penuh cinta.
"Jika, cintamu masih milikku, maka begitu juga dengan cintaku, dia masih sama dan bahkan tak pernah tergantikan. Entah harus bahagia atau sedih, dengan lambatnya ungkapan ini, namun satu yang pasti, cintaku tak pernah terbatas sampai kapanpun." lanjut Bintang yang kini menggenggam erat tangan Jingga.
"Jingga Kania Angkasa, mau kah kamu menjadi teman hidupku, menjalani hari hari bersamaku, melewati suka dan duka bersama, menjadi tempat ku berpulang ketika lelah mendera jiwa, menjadi tempat ku berkeluh kesah, menjadi ibu dari anak anakku, menjadi tujuan ku untuk selalu bahagia, berada di samping ku saat ku ingin menutup dan membuka mata? Jingga maukah kamu menjadi istri ku?" di akhir kalimat yang terangkai panjang, Bintang melamarnya dengan penuh cinta.
Jingga yang mendengar nya hanya bisa diam dengan air mata yang sudah membasahi pipinya, dia bahkan tak sanggup untuk sekedar bersuara, sedang Bintang, dengan lembut menghapus air mata yang masih setia mengalir dari mata sang pujaan hati.
"Bersediakah kamu mengisi celah kosong di setiap jemariku? menggenggam nya erat meski badai ujian datang?" lanjut Bintang dan kini mendapat jawaban dengan anggukan kepala oleh Jingga.
Setelah melihat jawaban yang di berikan Jingga, dengan segera, Bintang menarik Jingga ke dalam pelukannya. Dia peluk wanita yang sangat dia rindukan selama ini, pelukan yang akhirnya mencairkan segala rasa rindu yang selama ini membelenggu.
Setelah puas meluapkan rasa rindunya, Bintang melerai pelukannya, dia dengan segera memasangkan cincin yang begitu cantik di jari manis Jingga. Dengan senyum lebar, Bintang mengecup jari yang kini sudah di hiasi cincin pemberian dari nya.
"Terimakasih sayang, terimakasih untuk malam yang indah ini." ungkap Bintang dengan binar yang begitu bahagia.
__ADS_1
"Aku yang harusnya berterimakasih, karena kamu masih mau mencintai aku yang selalu membuat mu sakit atas penolakan yang aku berikan waktu itu, aku-" dengan segera Bintang menutup bibir Jingga dengan tangannya.
"Jangan di ingat, biarlah itu menjadi kenangan, sekarang aku hanya ingin bahagia bersamamu, menjalani hari hari indah berdua." ucap Bintang dengan lembut.
"Sejak kapan sih kamu jadi pinter gombal gini," Jingga yang masih malu berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Yah, malah di bilang gombal, tidak tau apa, selama ini aku mempersiapkan semuanya dengan susah payah, agar kamu terkesan." gerutu Bintang, karena Jingga lagi lagi merusak momen indah yang dia buat.
"Jangan marah, ntar gantengnya ilang lho," kali ini Jingga berniat menggoda Bintang, sang calon suami, eh.
"Apaan sih," dan benar saja Bintang mulai salah tingkah.
"Iya gantengnya calon suami aku, cup." dengan berani jingga mengatakan itu dan seakan membalas semua yang sudah Bintang lakukan, Jingga juga mengecup pipi Bintang.
Bintang yang mendapat perlakuan itu sontak berteriak senang dalam hatinya, tapi sebisa mungkin dia bersikap baisa saja. Jingga yang melihat respon Bintang biasa saja jadi malu sendiri, dia kini memilih menundukkan wajahnya.
"Jangan menunduk, aku masih ingin terus melihat wajah cantik ini selamanya, jadi jangan pernah menundukkan wajahmu di depan ku sayang," dengan perlahan Bintang, mengangkat dagu Jingga dan detik berikutnya.
Cup
Bibir yang sejak tadi menggoda untuk Bintang, akhirnya dia sapa juga, terasa manis meski tanpa madu sebagai perasanya. Sapaan yang awalnya hanya sebentar dan tenang, kini berubah sedikit berjalan seirama, meskipun masih sama sama terasa kaku.
"Manis," ucap Bintang seraya mengusap lembut bibir yang baru saja dia sapa.
"Makanlah sayang, kamu pasti sudah lapar kan, ini sudah lewat dari jam makan malam kami biasanya." dengan penuh pengertian Bintang mengatakan hal itu.
"Kamu tau?" tanya Jingga heran.
"Iya, karena aku sudah banyak bertanya kepada Om dan juga Abang." jawab Bintang dengan santai.
"Sejak kapan?" masih berusaha untuk tau.
"Sejak-, makan dulu nanti aku ceritakan." dengan sengaja Bintang menggantungkan kata katanya, dia hanya ingin calon istrinya makan terlebih dahulu.
(cie calon istri)
"Hem baiklah," pasrah Jingga.
"Gadis manis," puji Bintang dengan mengusap sayang rambut sang kekasih.
Cup
__ADS_1
"Hadiah karena sudah menjadi gadis penurut," dengan santainya Bintang kembali menyapa bibir tipis itu.
" Hais, udah makanlah," Jingga yang menjadi semakin gugup akhirnya memilih segera makan.
"Hati hati sayang, jangan buru buru," peringat Bintang.
"Iya Bintang." jawab Jingga dengan mulut yang sedikit penuh, karena makanan yang baru saja dia masukkan.
"Duh, calon istri ku, gak ada manis manisnya kalo manggil dan makan," keluh Bintang yang sengaja di buat buat.
"Lah memang harus panggil apa?" kali ini Jingga menanggapi dengan sedikit serius.
"Ya senyaman kamu lah, yang penting gak nama juga kali," gerutu Bintang yang sekarang sudah sama sama selesai makan.
"Kan aku jadi bingung, mau panggil apa," tanpa rasa bersalah, dia malah asik melanjutkan makan makanan manis di depannya.
"Nasib nasib, punya calon istri, gak ada romantis romantis nya, padahal kalo lagi nulis di buka saja manisnya ngalahin gula." Bintang kini semakin merasa kesal.
"Jangan ngambek Aa' sayang, ini aku panggil Aa' lho, lebih kalem dan eeee manis kan." ucap Jingga yang tiba tiba saja duduk menghadap nya dan menopang dagunya.
"Duh dek, kok hati Aa' jadi adem ya," Bintang menyambut dengan antusias.
"Jadi mau di panggil Aa' kan?" tanya Jingga dengan usilnya.
Emang ya, dasarnya usil ya tetap usil, bahkan di momen romantis saja dia masih saja berbuat usil kepada calon suaminya. Sedangkan yang di usilin benar benar harus siap setiap saat.
"Hufth, serah kamu sajalah," pasrah Bintang pada akhirnya.
"Jangan ngambek lagi Aa' sayang, Adek bercanda lho ini," dengan santai nya, Jingga malah menusuk pipi Bintang dengan jarinya.
******®
Ah elah yang lagi bucin 🙄🙄 gak ingat yang lain.
Balik woi, udah jam sepuluh lewat, eh malah udah jam sebelas.
Balik, segera tidur, kena timpuk ayah sama bunda baru tahu rasa.
Tapi jangan lupa dukungannya dulu ya,,, biar mereka segera naik pelaminan.
Eh kasih yang mudah apa gak ya 🤔🤔
__ADS_1
Hihihihi kabur....