
Happy reading yess...
*****®
Langit yang sedang bersantai karena memang belum saatnya bekerja, memutuskan untuk pergi keluar sekedar jalan jalan sore saja. Dia hanya ingin melihat lihat perubahan apa saja yang sudah dia lewatkan selama dia berada di luar.
"Wah, ternyata banyak yang berubah. Sekarang sedikit lebih hijau kota ini." gumam Langit saat dia melihat beberapa pohon yang mulai tumbuh di pinggir jalan.
Dia terus saja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rendah. Karena memang itu yang dia inginkan, menikmati sore dengan santai tanpa gangguan dari ke dua bocah sableng itu.
"Ini gue, enaknya kemana ya? ah ke cafe kakek saja lah," akhirnya Langit memutuskan untuk ke cafe saja.
Dengan langkah santai, Langit langsung saja masuk ke dalam dan menuju kantor yang ada di lantai atas cafe tersebut. Karena karyawan belum tau siapa dia, jadilah Langit di tahan ketika akan melenggang ke atas.
"Maaf pak, hanya karyawan dan pemimpin yang bisa ke atas, karena di atas adalah ruangan dari pemilik cefe ini," salah satu karyawan menghadang Langit.
"CK, saya cuma mau keatas bentar, mau ketemu sama kakak saya," ucap Langit masih dengan santainya.
"Maaf pak, tapi kami belum pernah lihat bapak sebelumnya, jadi kami tidak bisa membiarkan sembarangan orang keatas pak." karyawan itu masih kekeh menahan Langit.
"Oke oke, bentar deh, saya telfon dia dulu." Langit mulai jengah dengan keadaan ini, apalagi dia sekarang di lihat banyak pelanggan cafe.
__ADS_1
(lah kamu mulai songong nya bang 🙄)
Setelah menelfon sang kakak sepupu, akhirnya Langit dengan santainya duduk sambil menunggu sang kakak turun, dia bahkan tidak memperdulikan tatapan memuja beberapa pengunjung wanita. Baginya hal itu sudah biasa dan malah membuat malas saja. Tak berselang berapa lama akhirnya yang di tunggu datang.
"Lo ngapain sih dek, datang datang bikin geger!" omel kak Aby yang sebenarnya ikut risih harus di lihat banyak mata, apalagi mata para wanita.
"Gue gabut kak, di rumah si kembar bikin pusing," keluh Langit yang malah mendapat gelengan kepala dari kak Aby.
"Ya sudah ayo masuk, gue risih di sini." ajak Kak Aby dengan segera.
"Oke," jawab Langit singkat dan langsung mengikuti kakaknya dari belakang.
Semua karyawan mengangguk patuh, mereka benar-benar tidak tau jika laki laki yang tak kalah tampan dari atasan mereka adalah adiknya. Pantas saja, wajahnya hampir mirip.
Setelah dua laki laki penebar racun itu pergi, para karyawan wanita tak kalah heboh, mereka benar-benar di buat meleleh dengan wajah dua pimpinan mereka.
"Gila, itu wajah pake apa ya, bisa mulus gitu?" ucap salah satu karyawan wanita.
"Mungkin gak ya, salah satu nya ngelirik gue," ucap yang lain.
"Kalo saja mereka nembak gue, gue mah langsung mau terus pingsan deh," sambung yang lainnya.
__ADS_1
"Ah bang, Adek meleleh bang. Mau donk bang nyender di dada yang lebar itu." ucap lagi yang lainnya.
"Wes gak usah pada ngehalu, cepat kerja, cafe lagi rame malah pada ngeces gak jelas." omel meneger cafe yang sudah jengah dengan para karyawan wanita nya.
"Ba baik pak," seketika semua menjadi gugup dan takut.
Setelah semua karyawan bekerja, lagi lagi hanya bisa menghela nafasnya kasar. Baginya hari ini adalah ujian terberat, saat di mana para bawahannya malah sibuk berkhayal.
"Benar benar racun tuh wajah, kalo bukan pemilik cefe, udah gue karungin tuh wajah pake karung beras, biar gak nyaingin gue." dumel sang meneger di dalam hatinya.
*****®
Wkwkwkkw ada yang merasa tersaingi gaes.
Tapi tenang saja, gak akan berbuat jahat kok.
Key lah Gift, Vote, like, komen, masih selalu aku tunggu ya.
Lope lope buat kalian.
note: FB (Ratna Kasiyanti)
__ADS_1