
Happy reading yess
******®
"Aku," Senja tidak bisa meneruskan kata kata nya, dia teramat bahagia, hingga hanya anggukan mantab sebagai jawaban atas pertanyaan Awan.
"Terimakasih sayang, sungguh terimakasih," Awan, sangat bahagia. Dia segera memegang tangan kiri Senja dan memakaikan cincin di jari manisnya.
Setelah itu Awan, langsung membawa Senja ke dalam pelukannya, dia peluk tubuh ramping yang tingginya hanya sebatas dagunya itu. Pelukan yang begitu hangat dengan status yang berbeda.
Saling mendengarkan irama detak jantung, yang ternyata sama sama berdetak begitu kencang karena luapan bahagia. Awan, terus saja mencium pucuk kepala Senja, dia bahkan lupa jika di sana ada banyak pasang mata yang menyaksikan momen indah itu.
"Hem!" lagi lagi Langit, menjadi pengacau dalam momen romantis.
"Udahan pelukannya, Lo lupa, di sini ada kita semua woy!" lanjut Langit, dengan segala ke isengnya.
Sejenak Awan, menutup mata dan menghela nafasnya. Dia benar benar, merasa gemas dengan kelakuan sahabat nya yang sebentar lagi akan jadi Kaka iparnya yang tengil.
"Kalo bukan calon kakak ipar, dah gue lempar tuk Abang kamu, ke Pluto." gerutu Awan, yang di jawab Senja dengan kekehan kecil.
"Apa Lo?, mau marah? mau gue cabut restu dari gue, gue dengan senang ha-" ucapan Langit terhenti karena cubitan sang bunda.
"Aw, sakit Bun," rengek Langit.
Yang malah di hadiahi tawa oleh semua. Senja, begitu bahagia, karena momen indah nya, di saksikan oleh semua anggota keluarga.
Dia tidak menyangka, jika Awan, akan melakukan ini semua, baginya ini terlalu indah untuk di kenang nantinya. Dan hal hebat hari ini akan dia ingat sepanjang masa.
"Selamat sayang, akhirnya penantian panjang mu berakhir indah," ucapan selamat dari sang Bunda, membuat Senja, menjadi terharu. Senja tidak tau jika sang Bunda, paham akan perasaannya.
"Bunda tau?" tanya Senja di sela sela pelukannya.
__ADS_1
"Apa yang tidak bunda tau dari anak anaknya, bunda yang melahirkan kalian, jadi bunda lebih tau segala hal tentang kalian di banding siapapun," jawab bunda sambil melerai pelukannya dan mencium kening Senja.
"Terimakasih untuk segala hal yang sudah Bunda dan Ayah berikan, maaf jika Senja selama ini banyak bikin Bunda dan Ayah pusing," sesal Senja dengan wajah sendu.
"Bagi Bunda, kalian adalah yang terbaik. Berbahagialah sayang, semoga kau selalu bahagia dalam setiap langkah mu," doa Bunda dengan tulus dan penuh cinta.
"Aamiin Bun, sayang Bunda," jawab Senja.
"Ayah," panggil Senja, dengan manja.
"Putri kecil ayah, yang selalu membuat ceria rumah, kini sudah besar, jadilah nanti istri yang patuh seperti Bunda mu, ayah hanya bisa mendoakan, kamu bahagia selalu, melimpah kasih sayang." Doa sang ayah dengan suara bergetar.
Dulu dengan kedua tangannya, dia angkat tubuh mungil tanpa dosa itu dengan begitu sayang dan hati hati, kini dengan kedua tangannya pula, dia akan menyerahkan putri nya kepada laki laki lain, selain dirinya.
"Ayah, adalah sosok terhebat dalam hidup Senja, ayah adalah cinta pertama Senja, dan akan selalu menjadi seperti itu, maafkan Senja, jika belum bisa menjadi anak yang membanggakan untuk Ayah dan Bunda." ucap Senja dengan Isak tangisnya.
"Ssst, kamu, kakak kakakmu, sudah memberikan kebahagiaan untuk kami, hingga tiada yang Ki minta selain kebahagiaan kalian nantinya," ucapan sang ayah begitu menyentuh relung hati semua orang.
Setelah memeluk Bunda, Ayah, dan juga sang kembaran, kini Senja, beralih menatap sang Abang. Abang yang tidak kalah luar biasa dari sang ayah. Abang yang selalu mengupayakan kebaikan dia dan sang kembaran. Abang yang terlihat begitu garang di luar sana hanya untuk melindungi dirinya.
"Hem," jawab Langit pura pura sibuk dan biasa saja.
"Gak mau peluk aku?" Senja, dengan iseng mengatakan hal itu, dia tau sang Abang, sedang berusaha untuk menyembunyikan rasa terharu nya.
"Apa Abang, masih ada tempat buat Abang, meluk kamu?" tanya Langit, namun tangannya sudah menarik Senja, masuk kedalam pelukannya. Dia begitu erat memeluk sang adik seakan, takut kehilangan. Langit bahkan masih asik mencium pucuk kepala Senja.
"Aku gak diajak bang?" Jingga yang merasa iri sudah ada di depan mereka.
"Oh, si biang onar kesayangan Abang," Langit, langsung membuka satu tangannya dan membiarkan Jingga, ikut masuk ke dalam pelukan hangat tersebut.
Momen itu, terasa sangat mengharukan bagi siapa saja yang menyaksikannya. Momen di mana, seorang Langit, yang biasa tangguh kini sedang menangis terharu. Bahkan Awan, dan Bintang hanya bisa melongo, melihat kelakuan Langit.
__ADS_1
"Sudah, sudah, kenapa malah sedih, sedih, begini sih, ayo kita segera makan malam," ajak sang Bunda, dengan tawa kecilnya. Meski dalam hati, dialah yang paling kehilangan, biar bagaimanapun, sang Bunda adalah yang mengandung dan melahirkan mereka.
"Jika ingin menangis, maka ijinkan hanya aku yang melihatnya," ucap Devan dengan bisikan dan usapan lembut di bahu Naya.
"Kamu terbaik sayang," jawab bunda dengan lirih.
Di saat, semua orang sedang asik bersenda gurau, ada hal yang menyita perhatian Langit. Di luar sana, entah benar apa tidak, nyatanya hal itu sudah membuat dirinya tanpa sadar melangkah keluar.
"Dia," lirih Langit dengan hati berdebar.
Langit bersiap untuk melangkah lebih jauh, tapi dia urungkan, saat dia melihat ada mobil yang berhenti di depan gadis itu. Langit bahkan di buat terdiam saat menyaksikan adegan di depannya. Di sana, di depannya, gadis yang berhasil masuk ke hati nya, sedang di cium keningnya oleh seorang laki laki yang Langit, taksir usianya di atas dirinya.
Deg
Deg
Deg
Langit, hanya bisa diam mematung, bahkan saat mobil itu sudah berjalan pergi dari pandangannya. Tangannya tanpa sadar mengepal dengan rasa sakit yang tak dapat dia kendalikan.
"Lo, terlambat kawan," ejek Awan, dengan seringai yang matikan.
"Diam Lo!" desis Langit dengan suara rendahnya.
"Lupakan, ingat dia punya orang." Awan mengingat kan.
Tanpa menjawab, Langit langsung saja pergi dari restoran itu, dia teramat sakit jika harus bergabung dan berpura-pura baik baik saja di dalam sana. Entah tujuannya akan kemana, yang jelas Langit, hanya ingin sendiri.
******®
Hayo bang.
__ADS_1
Kan telat to😁🤭
Sabar ya 😀