Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
115. Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Happy reading yess....


*****®


Langit, begitu kaget dia benar-benar tidak mendengar jika ada orang lain yang duduk di sebelahnya. Bahkan, hampir saja Langit, melompat dan mempermalukan dirinya sendiri.


"Kamu, sejak kapan di sini?" Langit, bertanya setelah dia bisa menguasai hatinya.


"Sejak lima menit yang lalu, kamu ngapain sih kak di sini sendiri? di dalam pesta adik kamu lho?" tanya Bulan, yang memang heran dengan kelakuan bosnya itu.


Ya, sejak resmi bekerja dan menjadi sekertaris nya, Langit, memang meminta Bulan, untuk memanggil nya dengan sebutan kakak, jangan pak. Entahlah, apa maksudnya, yang jelas Bulan, sempat menolaknya namun berakhir dengan sebuah ancam.


"Saya bosan di dalam," jawab Langit, tanpa mau melihat Bulan, dia masih tetap fokus pada kolam di depannya.


"Makanya, cari gandengan donk kak, masak iya kak Langit, yang selalu di idolakan banyak cewek di sekolah sampe sekarang masih sendiri," dengan tanpa dosa, Bulan malah mengejeknya.


"Belum ada yang cocok, Lan. Lagipula, dia yang saya suka, sudah ada yang punya," jawab Langit ambigu.


"Udh, kasihan. Kayaknya karma tuh kak, ups," lagi lagi, Bulan mengejek nya, bahkan seolah olah tanpa sadar.


"Terserah!" Langit, mulai jengah, wanita di sampingnya ini benar benar tidak peka.


"Ah elah, gak usah ngambek kak, tuh muka makin jelek kalo di tekuk," lanjut Bulan, bahkan kini wajahnya malah menghadap ke arah Langit, dengan senyuman yang mampu menular ke dia.


Tanpa sadar, sudut, bibir Langit, di angkat ke atas membentuk sebuah senyuman. Senyuman yang baru pertama kali, Bulan lihat. Bahkan Bulan, di buat tidak percaya, sosok dingin di depannya ini bisa tersenyum juga.


"Nah, gitu kan enak di lihat, kalo lagi senyum." goda Bulan, dengan isengnya.


"Apaan," Langit, dia sedikit salah tingkah, meski tidak terlihat oleh Bulan.

__ADS_1


"Serius kak, wajah tuh ya, jangan kaku kaku, senyum, yang cerah, secerah mentari, hahahaha," masih dengan setia menggoda Langit.


"Serah saya, kan wajah wajah saya," kilah Langit, agar rasa yang menjalar di hatinya tidak terlihat oleh Bulan.


"Iya ya, itu memang wajah kakak, tapi yang lihat kan jadi takut, wajah kok kayak ikan asin yang habis di jemur, eh." lagi lagi dan lagi, Bulan mengejeknya, seakan tiada takutnya.


"Berani mengejek saya, rupanya?" tanya Langit, dengan nada rendah.


Bulan, yang sadar, jika bosannya ini mulai di mode marah, langsung saja mengalihkan pembicaraan. Bukan karena takut, tapi dia masih sayang dengan pekerjaannya, bisa gawat dia, kalo tidak segera meminta maaf.


"Bukan begitu pak, eh kak. Huh, kan aku mulai takut," masih saja sempat sempat nya bercanda.


"Hem," hanya itu kata yang keluar dari bibir Langit.Karena sejujurnya, hatinya sedang bahagia, bisa sedekat ini dengan seseorang yang menempati tahta tertinggi di hatinya.


"Oh iya, kenapa kamu juga disini? lalu tunangan kamu kemana?" Langit, yang tiba-tiba teringat akan tunangan Bulan, merasa ada yang tidak beres.


"Oh, dia pulang duluan kak, ada tamu yang menunggu di rumahnya." jawab Bulan, santai.


"Tadinya mau ikut, tapi aku di tahan sama Tante Naya, jadinya ya aku di sini," jawab Bulan, dengan raut yang biasa saja.


"Rupanya, ini ulah Bunda. Bunda memang terbaik, hehehe," Langit, terkikis dalam hati, melihat kelakuan Bunda nya.


"Kenapa kakak malah senyum senyum begitu?" sayangnya, ekspresi Langit, tertangkap oleh Bulan.


"Gak, hanya lihat ikan itu, lucu saja," jawab yang tidak mencerminkan seorang Langit.


"Hah!" Bulan sampai merasa heran.


"Sejak kapan ikan lucu?" lanjut Bulan, saat dia sudah bisa menguasai rasa herannya.

__ADS_1


"Sejak hari ini," Langit, malah semakin tidak jelas, bahkan dia masih saja tersenyum memandang ikan di depannya, tapi ekor matanya melirik Bulan.


"Aku rasa, kak Lang, mulai aneh," nah ini salah satu kelebihan Bulan, dia selalu berbicara sesuka hatinya.


"Kamu yang aneh," jawab Langit, dan malai melangkah kakinya untuk masuk kedalam.


Sedangkan Bulan, dia masih terpaku, benarkah yang tadi berbicara dengannya adalah Langit, sang kulkas, pria dingin yang sayangnya menjadi bos di kantor nya bekerja.


"Kamu masih mau melihat Ika bertingkah lucu, atau mau ikut saya masuk? jangan lama lama di sana, nanti kamu kebanyakan tertawa," ucap Langit, dengan masih membahas ikan. Dia berhenti, saat menyadari Bulan, tidak ada di belakangnya.


"Hah, ngaco!" jawab Bulan, yang mulai kesal.


"Serah kalo tidak percaya," dengan santai nya Langit, kembali melangkah masuk.


"Tunggu kak," Bulan sedikit berteriak, dan mulai berjalan setengah berlari menyusul Langit.


Sedangkan Langit, dia memelankan jalannya dan mengulum senyum, tanda dia benar benar bahagia hari ini, dan semuanya berkat campur tangan sang Bunda. Sedangkan, di salah satu meja, tatapan dengan binar bahagia terlihat sangat jelas.


"Lihatlah, anak mu Yah, bukankah itu pemandangan langka?" Bunda, terharu melihat sang anak, dengan wajah berseri.


"Dan itu semua karena ulah Bunda, hebat seperti dirimu." Ayah Devan, tersenyum hangat, dengan tangan yang setia menggenggam tangan sang istri.


"I love you, sayang, Bunda Naya." lanjut Devan dengan tatapan penuh cinta.


"I love you to, ayah Devan," jawab Bunda, tak kalah hangat.


*****®


Bunda paling best deh, hehehehehe.

__ADS_1


Cie cie si Abang, yang kayaknya lagi senang, bang, traktir donk kan lagi senang 😅😅


Serbu, si Abang Langit yuh readers.


__ADS_2