Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
101. Lamaran Yang Sebenarnya


__ADS_3

Happy reading yess...


*****®


Dua Minggu setelah acara lamaran dadakan ala Bintang, kini dia bersiap akan bertamu ke rumah Jingga beserta kedua orang tuanya. Jika di tanya gugup, sudah pasti jawabannya iya. Apalagi setelah mendengar ucapan papah nya.


"Dasar anak nakal, pulang baru beberapa hari sudah main lamar anak gadis orang, mana dari keluarga Angkasa pula." gerutu sang papah yang masih syok dengan permintaan anaknya.


"Mau bagaimana lagi pah, aku udah suka sama dia sejak SMA, tapi baru bisa kesampaian sekarang," Bintang malah curhat.


"Maksudnya nak?" tanya sang mamah.


"Jadi dari dulu Bintang, sudah suka sama dia, tapi dia malah selalu menghindar, bahkan kadang bersikap ketus sama Bintang. Bintang sempat berfikir jika dia tidak suka dengan Bintang, tapi ternyata aku salah mah. Dia melakukan itu karena dia tidak ingin cari masalah, dulu ada temen aku yang suka sama aku, Teru dia selalu cari gara gara sama Jingga. Nah Jingga, tidak mau kalo kena masalah lagi yang akhirnya dia harus pindah sekolah dan jauh dari ku. Bodoh nya aku yang gak paham malah setelah lulus milih kuliah jauh." cerita Bintang yang di dengar serius oleh kedua orang tuanya.


"Lah terus kenapa bisa balik balik malah kamu lamar dia? yakin dia gak ada yang suka? secara dia cantik, dari keluarga Angkasa pula." pancing sang papah.


"Jadi waktu itu aku gak sengaja bertemu dia, aku yang fokus Sam ponsel dan dia yang sedang cari kunci mobil, nah kita tabrakan. Dari situ awal semua kejadian, dari aku yang Nemu buku diary dia, dan ku baca semua, sampai aku cari info tentang dia semuanya dan berakhir menemui om Devan dan Bang Langit." jelas Bintang dengan binar bahagia dan bangga pada dirinya sendiri.


"Dih, udah sejauh itu, dan kita baru di kasih tau kemarin, dasar anak kurang ajar." sembur sang mamah yang merasa sedikit jengkel.


Bagaimana tidak, di pagi hari saat masih santai. Tiba tiba Bintang membuat kehebohan di rumah. Dia dengan tidak sabarnya meminta sang mamah dan papah belanja buat acara lamaran ke rumah Jingga, lusa.

__ADS_1


Mamah yang masih bingung hanya bisa pasrah saat di tarik anaknya ke mall. Bahkan sang Mamah masih mengenakan pakaian rumahan.


"Untung anak, kalo tidak sudah tak getok pake gayung beneran deh," omel sang mamah yang masih jengkel mengingat hal itu.


"Ampun mah, gak lagi." ratu Bintang dengan menangkup kedua tangannya di depan dada.


Sedangkan sang papah, hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya, melihat kelakuanku anak semata wayangnya itu.


"Untung om Devan teman Papah mu, coba kalo tidak, sudah pasti Papah mu menolak, karena malu." cerita mamahnya.


"Beneran pah? wah nanti dari teman jadi besan donk, kan enak pah," dengan santainya Bintang malah mengatakan hal itu.


"Enak enak gundul mu, papah jadi canggung tau gak, dulu kita memang teman di kampus dan ekskul yang sama, hanya saja tidak terlalu akrab, dan sekarang tiba tiba kita jadi besanan, duh jadi malu dengan mereka, keluarga besar yang luar biasa." keluh Papah dengan sedikit minder.


"Ya kamu benar, semoga saja semua berjalan lancar tanpa hambatan," doa sang papah demi kebahagiaan anak nya.


"Aamiin," Mamah dan Bintang mengaminkan dengan serempak.


"Ya sudah ayo berangkat, nanti telat lebih malu lagi kan," ajak sang mamah.


Akhirnya mereka berangkat dengan perasaan campur aduk, sang papah yang benar-benar merasa minder dan Bintang yang sudah tidak sabar ingin bertemu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," salam keluarga Bintang saat mereka sudah sampai di kediaman Devan.


"Waalaikumsalam, silahkan masuk." jawab semua keluarga besar dari dalam. Hal itu sukses membuat Papah Bintang semakin gugup. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan keluarga hebat ini. Meski mereka sangat kaya, tapi mereka tidak pernah sombong dan pamer sana sini. Mereka justru selalu terlihat sederhana dalam setiap kesempatan.


"Mari silahkan duduk, anggap saja rumah sendiri, jadi di buat nyaman saja ya," ucap ayah Ivan yang ternyata menyadari raut canggung calon besan dari anaknya.


"Terimakasih pak Ivan," jawab Papah Aditya dengan gugup.


"Santai saja, panggil saja saya kakek Ivan, kan sayang sudah kakek kakek." ayah Ivan, malah menanggapi dengan lelucon.


Akhirnya suasana menjadi lebih hangat dan santai, ya begitulah sang pemimpin Angkasa, dari luar saja terlihat garang, aslinya dia mah suka bercanda dan baik hati, apalagi kalo sudah menyangkut istri tercinta, ah hilang sudah wibawanya sebagai pemimpin.


Pembahasan demi pembahasan semua berjalan lancar, hingga di mana saatnya sang calon pengantin di minta turun untuk bertukar cincin secara resmi. Jingga yang gugup merasa semakin gugup saat semua tatapan mengarah kepadanya, meski di sebelahnya ada sang kembaran, tapi nyatanya mereka kembar tidak identik, sehingga masih bisa di bedakan.


Saat mereka akan memasangkan cincin, tiba tiba terdengar salam yang membuat semua orang jadi berhenti dan melihat siapa yang datang.


"Assalamu'alaikum," ucap salam dari seseorang.


*******®


Kabur,, mau nyuci dulu 🤣🤣🤣

__ADS_1


Silahkan di tebak siapa.


Hihihihi jangan teror aku ya 🤭


__ADS_2