
Happy reading yess....
*****®
Hari yang tak ingin di jalan mau tidak mau hadir juga. Langit sudah bersiap, meski hanya satu hari saja, tetapi dia ingin segala nya berjalan lancar dan sempurna. Meski hati gelisah, sebisa mungkin Langit, menepisnya.
"Hati hati ya selama aku jauh," ucap Langit, sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"CK, kebalik Abang, harusnya aku yang bilang gitu, dasar." jawab Bulan, dengan tawa yang menular ke Langit.
"Oh ya, ingat jangan pulang duluan kalo supir belum jemput, paham?" peringat Langit.
"Siap bos bawelnya minta ampun," lagi lagi Bulan, menjawabnya dengan senyuman dan tawa yang mampu membuat hati Langit menghangat.
"Dasar, kan jadinya makin berat," keluh Langit, yang malah kembali memeluk Bulan dengan erat.
"Sudah ah, kan cuma sehari saja, lagian nanti malam juga udah pulang, jarak Jakarta Bandung dekat, bang," Bulan sedikit risih karena ada beberapa karyawan yang melihat mereka.
"Bisa ikut aja gak sih, dek." bukanya melepaskan pelukan, Langit malah merengek bak anak kecil.
"Gak bisa bang, lupa ya nanti ada meeting di luar bareng pak Awan." Bulan mengingatkan jadwal lainnya.
"Sial, kenapa gak tuh anak aja sih," gerutu Langit, yang kini sudah mulai melepaskan pelukannya.
"Semangat ya Abang sayang, semoga gak sampai malam udah selesai," Bulan, menyemangati sang kekasih dengan mengusap pipinya lembut.
__ADS_1
"Siap Bu bos," jawab Langit, yang langsung mengambil tangan Bulan, dan mengecup nya lama.
"Sudah sana berangkat, nanti keburu kejebak macet," usir Bulan dengan tawanya.
"Ngusir eh," gerutu Langit dengan wajah memelas.
"Udah ah, gak usah ngedrama dong bang, cepat berangkat, cepat beres kan cepat pulang," bujuk Bulan.
"Baiklah, aku berangkat ya," pamit Langit dengan mengecup kening Bulan.
Cup
Setelah drama perpisahan ala Langit, akhirnya berangkat juga. Sepanjang perjalanan Langit benar benar di buat gelisah. Hanya doa yang dia panjatkan dalam hati, agar tidak terjadi apa apa dengan Bulan. Waktu terus bergulir, sore menyapa semua umat manusia. Semua karyawan Angkasa sudah bersiap untuk pulang kerumahnya masing-masing. Tak berbeda dengan Bulan, dia juga mematuhi semua yang Langit katakan.
Pulang bersama supir biasanya, hanya saja Bulan, merasa ada yang aneh dengan sang supir. Melihat penampilan yang jauh dari kata wajar, membuat Bulan waspada, Bulan dengan diam diam menelfon Langit, dengan tombol darurat. Sambil menunggu telfon diangkat, Bulan memberanikan diri untuk bertanya.
"Rupanya kamu peka juga!" ucap sang supir yang kemudian dia membuka topi dan masker nya.
Deg
"Kamu, kenapa kamu bisa di jadi supir ini!" tanya Bulan dengan nada yang meninggi.
"Karena, saya mau kamu!" jawab orang tersebut dengan tatapan benci.
"Berhenti, aku bilang berhenti!" teriak Bulan dengan takut.
__ADS_1
"Santai saja sayang, kita akan main main sebentar, apa kamu tidak setuju?" masih dengan sorot mata yang tajam dan ucapan yang dingin, laki laki itu menjalankan mobilnya dengan kencang.
"Berhenti aku bilang!" bentak Bulan dengan tatapan bencinya.
"Tidak sebelum kamu bersedia tanda tangan, diam di situ, jika tidak ingin orang tuamu mati!" ancam laki laki yang ternyata adalah Riyan.
"Kurang ajar, bang*at!" maki Bulan dengan kencang.
"Hahaha terserah apa katamu,yang jelas dia di sana, atau orang tuamu akan menerima akibatnya!" ancam Riyan lagi.
Bulan seketika diam di tempat, dia benar benar ketakutan, bayangannya orang tuanya pasti ketakutan. Tanpa Bulan, sadari, telfon itu sudah tersambung oleh Langit, dan di dengar semua. Di tempat berbeda, Langit terus mengumpat, bagaimana bisa dia kecolongan!
"Sial! rupanya dia mau bermain dengan ku!" maki Langit dengan penuh emosi.
Dengan segera, Langit menelfon semua anak buahnya, bahkan semua kena amuk diri nya, jika terjadi sesuatu pada Bulan. Langit sendiri yang akan menghukum semua yang sudah lengah menjalankan tugas.
"Bodoh! cepat lacak di mana mereka! jika sampai Bulan kenapa kenapa kalian saya bunuh!" maki Langit di sebrang.
Semua anak buahnya kalang kabut, mereka benar-benar merasa bodoh, karena bisa kecolongan, dan yang lebih mengerikan lagi, kemarahan dari seorang Langit. Dengan cepat, mereka bekerja keras, bahkan tidak ada yang bisa bernafas dengan normal sebelum tau di mana bajing*n itu membawa Bulan.
"Bersabar lah sayang, aku janji,aku akan sampai di sana, aku akan menyelamatkan mu, ku mohon kuatlah dan bersabar lah," desah hati Langit, mungkin ini jawaban dari kegelisahan nya selama ini.
*****®
Bagiamana ya nasib mba Bulan.
__ADS_1
Akankah Langit tepat waktu?