
Happy reading yess...
*****®
Pagi ini entah kenapa Senja merasa ada yang lain, dia begitu bersemangat dan ingin melakukan aktivitas di taman sebelah rumah nya.
"Gue kenapa kayak gini, gak bisanya gue bangun pagi pagi seperti ini, dan ini apa? gue olahraga? ini bener gue? lah? ini apaan sih?" Senja malah bergumam dengan heran akan dirinya sendiri.
"Lah kalo kamu aja gak paham, gimana sama bunda? hayo ada apa?" sang Bunda yang tiba tiba sudah ada di sampingnya.
"Bunda! ngagetin ih!" jerit Senja yang sedikit malu dan kaget dengan adanya sang Bunda.
"Lah Bunda, sejak tadi di sini, bahkan sebelum kamu datang, Bunda udah si ini," Bunda berkata dengan santai namun penuh rasa curiga.
"Hah! apa iya?" Senja masih saja tidak percaya dan lagi lagi dia hampir saja berkata dengan keras.
"Hayo kamu kenapa?" tanya Bunda, masih dengan tatapan intimidasi.
"Mati aku!" batin Senja.
"Hem, jawab dek, bukan malah diam." Bunda mulai geram, tingkah sang anak benar benar bikin geleng kepala.
__ADS_1
"Gak ada apa apa Bunda, mungkin Senja mau jadi lebih baik lho ini," jawabnya meski masih dengan susah payah.
"Mungkin? kok gak yakin?" lagi lagi pertanyaan sang bunda seperti susah di jawab.
"Hehehe, kan lagi usaha Bun," berusaha mengelak dengan cepat adalah cara terbaik pikir Senja.
"Oke, semoga saja. Bunda mau masuk ah, bentar lagi mau ada tamu, masak iya masih bau asem, kan lucu. Apalagi tamunya ganteng, muda banget, uhh jadi gak sabar." Bunda berucap dengan nada keras dan berjalan masuk ke rumah.
Sedangkan Senja, dia hanya bisa melongo takjub dengan apa yang bundanya katakan, tamu? masih muda, Senja bingung dan mungkin tamu untuk sang ayah. Ia akhirnya memilih mengabaikan ucapan sang bunda dan kembali menjalani olahraga kecil ala Senja.
Menit berlalu, Senja yang masih asik di taman tidak menyadari jika tamu yang bunda maksud sudah sampai di rumah, dia masih asik melamun di pinggir kolam ikan. Hingga deheman seseorang yang sangat dia hafal hampir membuat nya hilang keseimbangan.
"Hem!" deheman keras dari seseorang yang tak di duga sama sekali.
"Kamu ngapain sih dek, melamun di pinggir kolam ikan, mana duduknya kek tadi, untung kakak tarik kalo gak, jatuh kesana mau balapan renang sama koi?" ejek Awan dengan gelak tawa yang tidak bisa dia tahan.
"Ish, siapa yang melamun, kakak saja yang bikin kaget," omel Senja yang sebenarnya dia sedang menutupi rasa malunya.
"Itu namanya sedang melamun, orang dari tadi di panggil lho sama Tante." Awan menjelaskan masih dengan sisa tawanya.
"Iya kah?" Senja malah merasa heran sendiri.
__ADS_1
"CK, makanya jangan banyak melamun, lagian bocil ini lamunin apa sih? cowok?" lagi lagi Awan, masih saja mengejeknya.
"Ngarang, siapa juga yang mikirin cowok! sembarangan!" Senja berusaha menutupi semua dengan berkata ketus.
"Cie yang marah? yang sewot gara gara lagi melamun di ganggu," bukanya berhenti, Awan malah semakin menjadi.
"Kak Awan! udah ya!" Senja mulai ngambek dan menghentakkan kakinya tanda dia sebal.
"Iya Senja, bocil, suka bikin ulah, tapi gemesin," Awan semakin senang melihat adik sahabatnya ini ngambek.
"Tau ah, aku mau masuk!" setelah mengatakan itu, Senja langsung berlari sedangkan Awan, laki laki itu berjalan masuk dengan tawa yang semakin kencang.
Bagi Awan, melihat Senja yang sedang ngambek adalah hal yang lucu saja, seperti hiburan di tengah rasa sakit akan sebuah penghianatan. Meski berusaha lupa, nyatanya tidak semudah yang dia bayangkan. Bagiamana pun, hubungannya dengan mantan sudah lebih dari dua tahun, dan hal itu tidak mudah di lupakan begitu saja.
"Setidaknya, aku masih bisa tertawa melihat kelakuan si biang onar, dan ternyata itu memberikan dampak baik buat hati ini." batin Awan yang kini tengah duduk santai di ruang tamu.
*****®
Maaf ya gak bisa up rutin.
Sibuk di dunia RL, selain itu Bapil lagi mengganggu aktifitas menghalu hehehehe.
__ADS_1
Jaga kesehatan ya semua, di saat cuaca sedang ingin bermain seperti ini.
Terimakasih untuk yang masih setia.