
Happy reading yess...
*****®
Hari yang di nanti, kedua pasangan sableng akhirnya datang. Tepat pada pagi ini, Senja, akan resmi menjadi istri dari laki laki yang sudah dia cintai sejak dia duduk di bangku SMP. Cinta yang awalnya dia kira tidak akan pernah terwujud, akhirnya kesampaian juga. Air mata haru, senantiasa mengiringi langkah kakinya menuju meja akad. Dimana, di sana, laki laki yang sudah SAH, dan menyandang sebagai suami nya, beberapa menit lalu, sedang menatap nya penuh cinta.
"Hai, istri," sapa Awan, begitu Senja, sudah berada di sisinya.
"Hai juga suami," jawab Senja, dengan sangat pelan dan sangat malu.
"Cantik," ucap Awan, saat dia menaikkan dagu sang istri, yang sejak tadi menunduk saja.
Pandangan keduanya bertemu, ada cinta yang begitu besar di mata keduanya. Bahkan kini, mereka seolah lupa, jika ada banyak pasang mata, yang menyaksikan sepasang pengantin baru itu. Dalam diam, keduanya saling melemparkan senyum, senyum tanda bahagia.
",Hem, udah lihat lihatin nya, segera pakaikan cincin nya,omes," gemas ibunya Awan, yang sejak tadi dia tahan, melihat kelakuan putranya.
"Eh, iya mah," jawab Awan, dengan gugup, tak beda dengan Senja, yang sangat malu setelah dia sadar jadi pusat perhatian.
__ADS_1
Acar memasang kan cincin selesai, begitu juga sesi berfoto dengan memamerkan buku nikah mereka. Kini keduanya juga sudah berdiri di pelaminan, menyalami begitu banyak tamu undangan, termasuk para othor setia dan pembaca setia. Awan dan Senja, begitu terlihat bahagia, bahkan, suntuk di bibir keduanya tak pernah surut.
Jika di pelaminan, ada sepasang pengantin Nyang sedang bahagia, maka di sudut ruangan, ada sosok laki laki yang begitu mengenaskan. Laki laki itu hanya bisa berdiam diri, di temani dengan minuman dingin sedingin wajahnya. Dalam jarak pandangnya, di sana, di depannya, ada sepasang kekasih yang terlihat bahagia.
Hatinya merana, panas, bahkan minuman dingin itu seakan tidak ada artinya. Hanya helaan nafas kasar, agar dia tetap waras dan tidak bertindak bodoh. Dia tidak ingin, pesta sang adik menjadi kacau karena dirinya.
"Jangan di lihatin saja, samperin," ucap bunda tiba tiba, yang entah sudah ada di sampingnya sejak kapan.
"Apanya sih Bun,?" tanya Langit, pura pura tidak paham.Ya orang laki laki itu adalah Langit.
"Helleh Bang, sok gak paham," sungut sang Bunda.
"Atau mau Bunda, yang turun tangan," ancam sang Bunda.
"Eh, gak usah Bun, tunggu saja tanggal mainnya," jawab Langit akhirnya, yang sudah tidak bisa mengelak lagi.
"Bagus, itu baru anak Bunda," ucap Bunda Naya,dengan santai dan berlalu pergi. Sedangkan Langit, dia hanya bisa melongo takjub dengan kelakuan Bunda nya.
__ADS_1
"Bunda, habis makan apa ya," heran Langit, setelah sang Bunda pergi.
Tak ingin, terlalu lama, melihat pemandangan yang bikin matanya sakit, akhirnya Langit, memutuskan untuk menenangkan dirinya di taman yang memang selalu menjadi favoritnya. Di sana, Langit, hanya duduk diam, memandang kolam ikan yang kelihatannya lebih menarik perhatiannya.
Dalam diamnya, lagi lagi,helaan nafas beratnya yang menjadi lagu di tengah kesunyian malam. Tiada siapapun di sana, karena semua orang masih menikmati pesta yang ada. Langit seolah begitu asik dengan dunianya, hingga tak mendengar apapun lagi. Bahkan, di saat ada seseorang yang duduk di sisinya, dia masih tidak sadar juga.
"Kenapa di sini sendiri?"
Deg
******®
Siapa ya?
Ah jadi penasaran.
Tapi udah ngantuk 😂 besok ah.
__ADS_1
by semua 🤭