
Happy reading yes....
*****®
Setelah dram kemarin siang, kini semua berjalan lebih baik, tapi akan bertahan berapa lam? entah, hanya si kembar yang tau.
Kerena seperti biasanya, mereka akan diam tanpa membikin ulah setelah mendapatkan teguran dari sang ayah dan sang Abang yang selalu mengancam akan menelfon kak Aby sang sepupu.
Ya sebenarnya obat dari kejahilan si kembar itu mudah, hanya dengan menyebut nama Aby mereka pasti akan merasa ciut.
Aby anak dari pasangan Zian dan Tia ini terkenal sangat dingin dan kejam, catat bagi si kembar lho ya.
Memang pembawaan dia yang dingin, jarang berbicara, asik dengan dunianya dan tak lupa tegas dalam melakukan ataupun berbicara. Membuatnya di takuti oleh si kembar, namun siapa sangka Aby dan Lang akan sama sama pecah saat keduanya melakukan kegiatan yang sama yaitu menyusun pazel dan menggambar aneka bentuk mobil.
Ternyata keduanya memiliki hobi yang sama, baik Aby ataupun Lang selalu asik jika mereka sudah bersama. Bahkan kadang kedua orang tua mereka sampai heran dengan tingkah anak anaknya.
Namun mereka selalu bangga akan prestasi yang selalu di dapat kan oleh kedua bocah yang memiliki karakter hampir sama, hanya bedanya Langit masih sedikit lebih hangat di banding kan Aby.
Bagi Devan Langit adalah cerminan dirinya, bahkan bisa di katakan fotocopyan nya. Sifat nya sama persis ketika dia kecil. Dan untuk si kembar seperti nya dia juga cerminan dari sang bunda, hanya saja lebih parah dari bundanya.
Devan dan Naya selalu berusaha menjadi orang tua yang baik, mereka terus belajar dan belajar dalam. mendidik anak anaknya, untuk saja ibu dan ayah nya ikut bersama mereka, jadi mereka bisa melihat cara menjadi orang tua yang baik.
Seperti apa yang dia lakukan setiap harinya, hal kecil yang akan selalu di ingat sampai kelak. Meski tidak bisa selalu bersama anak anak, tapi Devan selalu berusaha untuk ikut andil dalam kegiatan mereka, walaupun hanya menjadi pendengar yang baik.
"Hari ini ada bikin ulah lagi tidak deh?" tanya Devan saat mereka berkumpul untuk makan malam, seperti yang sellau dia lakukan, Devan akan selalu bertanya seperti itu.
"Tidak yah, bener deh, ya kan dek?" Jingga meminta dukungan.
__ADS_1
"Hum, kita jadi anak manis lho yah," jawab Senja meyakinkan.
"Iya manis, takut di telfon sama kak Aby," Langit menjeda ucapan yang akan keluar dari bibir mungil Jingga.
"Siapa bilang," Jingga menyangkal dengan bibir yang mulai dia majukan.
"Wah wah, ayah senang lho kalo kalian jadi anak yang manis," Devan segera melerai, karena jika tidak maka akan berbuntut panjang.
"Kami kan memang manis yah," dengan pedenya Senja malah mengatakan itu dan langsung di sambut anggukan dengan semangat oleh Jingga.
"Iya manis banget, sampai aku pengen muntah," sindir Langit yang sejujurnya dia sangat gemas dengan adik kembarnya.
"Huuu, Abang mah gitu, gak mau ngakuin," ucap Jingga dan Senja secara bersama sama.
"Sudah sudah, jangan ribut begitu, ayah juga kebiasaan, kalo lagi di ruang makan begini jangan tanya tanya dulu lah," Naya kali ini yang berbicara dan langsung membuat semua diam, sedangkan ibu dan bapak Devan hanya tersenyum melihat keluarga kecil anaknya hidup rukun dan damai.
"Baik nek, kata Langit dan si kembar kompak.
Akhirnya mereka makan dalam tenang, menikmati setiap Rezki yang Tuhan berikan.
Usai makan malam, Langit langsung pergi ke kamarnya, tentunya setelah dia pamit kepada semuanya.
"Tuh yah, anak laki laki mu, asik sama kamar, ponsel dan buku gambar nya, tak lupa beberapa pazel yang kemarin di kirim sama kak Zian." ungkap Naya yang sebenarnya ingin melihat Langit seperti anak lainnya.
"Ya biarkan saja, selama itu hal baik kenapa tidak di dukung saja, toh kamu lihat prestasi akademik nya juga sangat bagus, seperti nya aku sangat beruntung memiliki dia," Devan menanggapi dengan tawa renyahnya.
"Iya lah beruntung, gimana sih pak Dev," Naya menanggapi dengan memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Hahahaha istri ku sekarang makin cantik tapi juga makin bawel," Devan semakin tertawa dengan keras.
"Apaan sih mas, aneh deh," Naya merasa suaminya ini semakin berbeda, bukan hal buruk tapi berbeda dalam artian semakin tampan dan hangat saja sikapnya, tak lupa juga makin seksi, eh pikiran nya mulai ngawur.
"Hayo mikir apaan? mesti mikir berantakin ranjang ya," bisik Devan yang setelah dia tertawa semakin kencang, namun hal itu langsung membuat Naya malu.
Blush..
Seketika pipinya terasa sangat panas dan pasti sekarang sudah merah. Ah mendengar dia mengatakan itu saja dada Naya sudah berdegup dengan kencang.
"Apaan sih mas, ngaco!" Naya mencoba mengelak dan memalingkan wajahnya.
Untung saja kini di ruang keluarga hanya tinggal mereka berdua saja, ibu dan bapak sudah ke kamar untuk istirahat, sedangkan si kembar berada di ruang bermain bersama dengan para penjaga nya.
"Gak apa apa, kalo mau hayo, aku siap selalu lho kamu ajak berantakin ranjang eh seprai maksud ku," Devan kini semakin tergelak dengan kepala sampai tertarik kebelakang.
"Mas...," Naya mencoba menghentikan tawa sang suami, dia benar-benar malu, meski sudah sering melakukan hal itu, tetap saja merasa malu jika di bahas seperti ini.
"Apa sayang..." jawab Devan dan tanpa menunggu lama langsung saja dia angkat Naya dan membawa nya berlari memasuki kamar mereka.
Dan terjadilah apa yang tadi Devan katakan, membuat ranjang berantakan eh seprai maksudnya, hehehehe.
*****®
Yah kok di skip 😅 pasti akan protes pada masanya hahahaha.
Kaburrrr 🏃🏃🏃🏃
__ADS_1
Nanti kalo mau nimpuk paket bunga yang banyak, Kopi, Kursi, dan lain lain ya boleh hahahaha