Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
18.Pulang


__ADS_3

Happy reading yes


*******®


Akhirnya waktu yang di tunggu Devan datang juga... kini dia telah sampai di jakarta.


"Alhamdulillah sampai...., hay sayang aku kembali untuk mu... " ucap Devan riang.


"Alhamdulillah kamu sampai juga nak... bagaimana kabarmu? sehat kan? " bapak Devan memeluk nya setelah mereka berhadapan.


Ya bapak Devan berinisiatif untuk menjemput Devan karena bapak Devan takut jika anaknya akan langsung ke rumah sang kekasih.


"Devan baik Pak... bagaimana kabar ibu dan bapak? sehat kan? selama Devan jauh bapak dan ibu tidak melakukan pekerjaan berat kan? " tanya Devan bertubi tubi, pasalnya dia tau orang tuanya tidak mau jika harus diam saja di rumah.


"Iya nak kami hanya berjualan saja sembako dan hanya memantau saja sesuai permintaan mu... " jawab bapaknya Devan.


Devan memang sudah membuat kan toko yang lumayan besar untuk orang tuanya tetap bisa berjualan sesuai yang mereka minta namun lebih ringan.


Devan tidak ingin melihat ke dua orang yang dia cintai itu bekerja keras, sudah cukup selama ini mereka melakukan itu untuk dirinya, kini sudah saatnya dia yang melakukan semua untuk orang tuanya.


Akhirnya kedua pulang dengan perasaan yang bahagia.


******®


"Assalamu'alaikum ibu... Devan pulang.... " Devan memasuki rumah dengan riang.


"Waalaikumsalam alhamdulillah anak ibu sidah sampai rumah... ibu kangen nak... " ibu segera memeluk dengan erat di iringi isak tangis yang sarat akan makna, bukan hanya tangis karena rindu, tapi juga tangisan karena kenyataan yang akan nanti anaknya terima.


"Sssstttt ibu jangan nangis, Devan kan udah pulang, dan Devan gak akan kemana mana lagi, Devan akan disini bersama kalian" ucap Devan dengan lembut dan mengusap lelehan air mata ibunya.


"Ah ya ya... maaf ibu terlalu rindu,,, sama anak semata wayang ibu" balas ibu yang kembali memeluk Devan.


"Sudah sudah pelukannya, sekarang biarkan anakmu itu bersih bersih badan dan lekas kita makan siang, dia juga pasti lelah " bapak menyela kedua orang itu yang masih asik berpelukan.


"Ah iya ya, benar kata bapakmu, kamu pasti capek, ya sudah sekarang kamu segera mandi, terus nanti kalo masakan ibu sudah matang ibu panggil, kamu pasti rindu sama masakan ibu kan? " ibu kini lebih bersemangat.


"Tentunya bu... masakan ibu paling enak, di sana Devan kurang cocok dengan masakan nya jadi Devan sering masak sendiri, hehehehe" jawab Devan dan setelah itu dia memasuki kamarnya.


"Ah nyamannya... akhirnya bertemu dengan kasur sendiri.. dan sebentar lagi akan bertemu dengan kekasih hati... jadi gak sabar.. apa aku telfon saja ya? ah jangan lah biar jadi kejutan" Devan malah asik berbicara sendiri.

__ADS_1


Akhirnya Devan memilih untuk mandi dan bersih bersih karena memang tubuhnya terasa lengket dan gerah.


Setelah mandi Devan masih asik di karena dan berulang kali memandang ponsel dengan ragu, tapi akhirnya di urung kan juga karena ingin memberi kejutan nanti malam, karena pas malam minggu dan Devan ingin mengajak Naya keluar untuk melepas rindu yang selama ini mereka tahan.


"Sabar ya sayang... sebentar lagi kita akan bertemu dan kita tidak akan terpisah lagi, aku mau ajak kamu ke suatu tempat, aku yakin kamu pasti suka" lagi lagi dia berbicara dengan foto Naya, hal yang menjadi kegiatan nya selama satu tahun belakangan ini.


Tok, tok, tok


"Nak makan dulu, sudah siap " ibunya memberi tahu untuk bersiap makan siang.


"Iya bu... " Devan menjawab dengan membuka pintu dan berjalan menuju ruang makan.


Semua makan dengan khidmat dan tenang, tidak ada yang berbicara dan terlihat Devan begitu menikmati masakan ibunya.


"Alhamdulillah kenyang dan masakan ibu tidak berubah selalu saja bikin Devan ketagihan... " Devan mengatakan itu setelah selesai makan.


"Kamu ini lho bisa saja,, sudah sana istirahat bukannya kamu capek" ibu malah menyuruh Devan segera istirahat agar dia tidak kemana mana.


"Siap bu.. iya ini Devan mau tidur terus nanti malam mau ketemu sama kekasih hati" jawab Devan dengan senyum mengembang namun berbeda dengan kedua orang tuanya.


Deg


******®


Malam yang di tunggu datang, akhirnya Devan sudah pergi ke rumah sang kekasih.


" Assalamu'alaikum... "sapa Devan di depan pintu keluarga Angkasa.


" Waalaikumsalam... oh hay masuk kak..."jawab Tia, terlihat dari wajahnya jika dia sudah mempersiapkan hal ini, terbukti karena dia tidak terkejut Devan ada di depan nya karena keluarga ini sudah mendapatkan informasi jika Devan sudah sampai pagi tadi.


"Devan melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu, dia merasa sedikit aneh karena rumah terlihat sepi, tidak seperti dulu.


" Sebentar ya kak... aku panggil abang.. "Tia segera berlalu ke kamar dan memanggil sang suami yang sedang menggendong baby Anin.


" Bang... itu kak Devan datang... "Tia memberi tahu suaminya, meski status nya Tia adalah kakak disini tapi Devan lebih tua dari nya.


" Oh ya aku akan menemui nya, kamu persiapan saja titipan Naya ya yank.. "Zian berjalan keluar kamar masih dengan menggendong Anin.


" Hay Van gimana kabarmu? "tanya Zian basa basi.

__ADS_1


" Baik kak.... alhamdulillah sangat baik,, hay manisnya om, wah sudah besar ternyata ya"Devan balik menyapa Zian dan Anin.


"Iya donk om... " Zian menjawab dengan suara anak kecil.


"Lha Aby mana kak? kok Anin saja? " tanya Devan basa basi.


"Dia masih sama mimi nya, bentar lagi juga turun... " Zian menjawab dengan perasaan tak enak.


"Eeee kak,, aku mau ketemu sama-" perkataan Devan terpotong karena ucapan Zian.


"Van maaf mungkin ini berat buat mu, tapi ini juga berat buat Naya... -" Zian menjeda ucapan untuk melihat ekspresi Devan.


Deg deg deg....


Devan. merasakan ada yang tidak baik disini, dari raut wajah sang kakak ipar dia bisa melihat jika ada hal besar yang sedang di sembunyikan dan akan segera dia ketahui.


"Naya pergi, maaf kami tidak bisa mencegah nya, Naya memilih pergi karena tidak ingin menjadi beban buat mu-" ucap Zian di potong oleh Devan.


"Maksud kakak apa? kenapa menjadi bebanku? sejak kapan dia bebanku, dia tidak pernah menjadi beban ku kak? kalian kenapa? " Devan mulai gelisah dan sedikit emosi.


Tia datang dan duduk di samping Devan.. setelah itu Tia mengusap pundak Devan lembut dan menenangkan nya.


"Ini terimalah kamu akan tau, seberapa berat nya dia melakukan ini, dan maaf kami tidak bisa mencegah nya. Mungkin kamu akan mengerti ketika kamu baca sendiri surat ini dari Naya. Kak Devan,,Naya saat ini tengah lumpuh karena kecelakaan yang di sengaja oleh seseorang yang menyukai mu dan dia membenci Naya karena kamu lebih memilih dia.. " akhirnya Tia menceritakan semuanya.


"Si alan, ku rang ajar, lagi lagi wanita ular itu, aku bakal kasih dia pelajaran yang tidak akan dia lupakan" Devan berbicara dengan rahang mengeras.


"Naya pergi kemana kak...? " tanya Devan kepada Zian.


"Dia...


******®


Kemana hayo siapa yang bisa menebak?


Penasaran? ikuti terus ya.


Salam sayang....


😊😊😊🤗😘

__ADS_1


__ADS_2