
Happy reading yeeesssss
*****®
Acara demi acara berjalan lancar meski sempat ada gangguan namun hal itu tidak mengurangi rasa bahagia di hati semua orang. Naya dan Devan tak henti hentinya mengukir senyum bahagia di depan para tamu undangan, meski yang hadir adalah keluarga besar saja, mengingat esok akan ada pesta besar besaran di gedung yang sudah mereka siapkan.
Bagi Devan kejadian hari ini adalah sejarah berharga dalam hidupnya, meminang pujaan hati meski di selingi dengan sedikit ketegangan.
"Nay mas bahagia sekali, akhirnya kamu bisa menjadi milik mas, bisa menjadi istri mas" ucap Devan di sela sela menyalami tamu yang ada.
"Aku juga mas... terimakasih untuk semua usaha yang sudah mas lakukan untuk ku" Naya berucap dengan tulus.
"Jangan mengatakan terimakasih, karena kita sama sama berjuang sayang.. " Devan berkata dengan tatapan yang penuh cinta.
"Hem Hem Hem" tatapan terus.... gak lihat apa noh tamu masih banyak.. goda Zian.
"Eh kakak... apaan sih" Naya bersemu mendengar ucapan kakaknya.
"Dev aku titip anak manja ini ya, jangan sakiti dia, jaga dia baik baik, kamu harus banyak bersabar, jika stok sabar mu menipis maka cari lagi, kalo kamu gak tau di mana carinya maka tidur saja" Zian memberi nasehat tapi dengan ucapan yang absurd, hingga kedua pengantin itu hanya saling tatap dengan dahi mengernyit.
"Kak kakak kenapa sih? kok ngomong nya aneh" Naya bertanya dengan heran.
"Jangan peduliin dia, nih abang tu sebernya lagi galau, kamu mau di bawa suamimu, dia begitu karena nahan biar gak nangis, kalo nangis kan malu... masak seorang Zian Mahendra Sang putra Mahkota anak emas nangis" Tia istri Zian menyela ucapan Zian yang akan menjawab Naya,, Tia juga sekalian mengejek suaminya.
"Apaan sih yank, siapa yang mau nangis, enak saja masak aku nangisin anak manja ini,, gak bakalan" sanggah Zian.
"Bener? gak mewek ntar di kamar? " Tia berlanjut mengejek nya.
"Gak" Zian mengelak dengan cepat dan akhirnya memeluk adiknya sekilas, tak lupa mencium puncak kepala Naya dan langsung ngacir turun dari pelaminan.
__ADS_1
"Hehehehe lari kan dia... , ah jadi lupa, selamat ya sayang ku, cintaku ,sahabat baikku , adik manjaku, semoga pernikahan kalian penuh berkah, bahagia selalu, mendapatkan Ridho Allah, selalu dalam lindungan Allah, doa terbaik untuk mu gadis cengeng" Tia memberi ucapan dan doa kepada kedua pengantin itu dan setelah itu dia bergegas menyusul suaminya.
Setelah para tamu pergi, kini rumah itu sudah mulai sepi dan Devan juga Naya bersiap untuk ke kamar mereka.
*****®
"Kamu mau mandi sekarang apa nanti yank.. dan ah iya bisa buka riasan di kapala mu? " tanya Devan sambil berjalan ke arah Naya yang sedang duduk di depan cermin.
"Mas saja dulu, aku mau bersihin make up sama lepas semua aksesoris ini" Naya menjawab dengan gugup.
"Mau mas bantu? " Devan menawarkan.
"Ti dak usah mas " Naya semakin gugup.
Sedangkan Devan kini malah memeluk nya dari belakang, menempelkan dagunya di pundak Naya.
"Yank kamu makin cantik dengan riasan ini " puji Devan.
"Hemm sebentar yank.. lima menit saja, aku kangen, dua hari kita gak ketemu, kangen banget aku.. " bukan melepaskan Devan malah semakin erat memeluk Naya dari belakang meski dengan posisi membungkuk.
Hembusan nafas Devan di lehernya memberi sensasi geli namun aneh pada tubuh Naya.
"Mas mandilah setelah itu kita makan malam bersama" Naya mengingatkan.
"Hem baiklah tuan putri" akhirnya Devan melepaskan pelukan nya meski dengan malas.
Setelah Devan masuk ke dalam kamar mandi akhirnya Naya bisa mengatur nafas dengan benar. Sejak tadi rasanya dia sangat gugup dan malu.
Setelah keduanya selesai membersihkan diri, kini semua orang sudah berkumpul di ruang makan dan bersiap untuk makan malam. Makan malam berjalan dengan senda gurau dan penuh kehangatan.
__ADS_1
"Kamu sudah ngantuk yank...? " tanya Devan setelah membantu Naya untuk naik ke kasur.
"Belum mas hanya ingin berbaring saja, rasanya sedikit lelah" jawab Naya.
"Sudah minum obat? " Devan bertanya sekaligus mengingat kan.
"Belum mas, ini baru mau " jawab Naya dengan bersiap meraih obatnya namun sudah keduluan oleh Devan. Dengan cekatan Devan menyiapkan obat Naya dan memberikan kepada Naya.
Setelah itu kedua muali merebahkan diri di kasur yang terasa nyaman namun sangat panas karena perasaan gugup keduanya.
"Mas.. " panggil Naya.
"Iya yank... " Devan menjawab dengan posisi miring menghadap Naya.
"Apa mas mau minta hak mas malam ini? " tanya Naya dengan pelan sejujurnya dia teramat malu dengan pertanyaan itu.
"Ssstttt itu bukan prioritas mas sayang... bagi mas bisa menikah dengan mu sudah membuat mas bahagia,, soal itu mas akan meminta nya jika nanti kondisi mu sudah benar benar pulih,, yang penting tidur dengan meluk kamu saja mas sudah sangat senang" jawab Devan dengan nada dan tatapan yang sangat tulus.
"Maafin Naya ya mas, belum bisa memberikan dan melayani mas layaknya istri pada umumnya dan -" ucapan Naya terpotong dengan kecupan di bibir Naya.
"Jangan di pikirkan Oke, seperti yang tadi mas bilang bisa menikah dengan mu adalah anugrah buat mas, jadi jangan berpikiran macam macam lagi ya" pinta Devan dengan lembut.
"Makasih mas... " hanya itu yang bisa Naya ucapkan.
"Sama sama sayang.... " dan Devan membawa Naya kedalam pelukan nya tak lupa mencium kening dan bibirnya sekilas sebelum mereka terbang ke alam mimpi.
******®
Aih jangan timpuk ya,,, hahahaha jangan marah marah gara gara gak jadi malam pertama nya. 😀😀🤭
__ADS_1
Oke kasih dukungan yang banyak biar nanti ada MP nya.. hahahaha 🏃♀️🏃♀️🏃♀️🤭🤭