
Happy reading yess...
****®
Waktu berlalu begitu cepat, kebahagiaan demi kebahagiaan menghampiri keluarga besar Angkasa, mulai dari hadir nya baby twins dari pasangan Senja Bintang, dan juga Jingga Awan. Mereka juga di karuniai sepasang bayi kembar.
Anak anak penerus generasi hebat nantinya. Dan saat ini, semua keluarga besar sedang berkumpul di salah satu rumah sakit terbesar di kota Jakarta, mereka sedang menanti kehadiran sang calon pewaris baru.
Kabar yang menggembirakan tentunya, apalagi akan hadir sekaligus tiga, kebanyakan bagaimana ramenya keluarga itu nantinya. Semua orang tua sedang berdoa untuk kelancaran proses persalinan Bulan, sedangkan Langit, dia sudah siap siaga menemani di dalam sana.
Doa dan doa terus di panjatkan, hingga tangis pertama terdengar, di susul tangis kedua yang lebih kencang, dan selanjutnya tangis ke tiga yang bahkan lebih kencang lagi, semua orang berucap syukur atas nikmat yang sudah Allah kasih.
"Alhamdulillah, mereka sudah lahir, gak sabar nunggu jenis kelamin dari cucuku," bunda Naya terlihat sangat antusias.
"Sabar sayang, sebentar lagi pasti kita tau," ayah Devan yang sejak tadi diam, kini bila suara.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya ke tiga bayi mungil itu di bawa keluar untuk segera di pindahkan ke ruangan khusus bayi. Semua terlihat bahagia, melihat betapa sempurnanya anak anak dari Langit dan Bulan.
"masyaAllah, ganteng ganteng dan cantik," ucap semua orang kompak saat mereka melihat dari luar kaca jendela.
"Iya benar, kira kira yang mana tadi yang nangis nya paling kencang ya? dan yang mana yang momen satu, dua dan tiga," ucap Zian, dengan candaan bahagianya.
"Coba siapa yang bisa menebak?" tantangan dari ayah Ivan.
"Menurut ku yang paling kencang nangisnya yang cowok yang pakai bedong biru muda," jawab Tia sambil menunjuk bayi mungil berbalut bedong biru muda.
"Kalo menurutku sih yang pakai bedong biru tua deh yang paling kencang," sahut bunda Naya.
__ADS_1
"Kalo menurut bunda, tuh yang pakai serba pink deh, karena dulu waktu bunda lahiran, kamu yang paling kencang nangisnya," bunda Mila tak mau kalah dan menunjuk Naya.
"Sudah sudah kita lihat saja nanti," putus ayah Ivan, jika tidak segera di sudahi bisa bisa mereka akan semakin rusuh saja.
"Baiklah mari kita keruangan Bulan, sepertinya dia sudah di pindahkan ke kamar rawat," lanjut ayah Ivan mengajak semuanya.
"Baiklah," jawab dengan kompak.
Semua orang sudah berkumpul di ruang yang untung nya sangat besar,, karena memang sudah di siapkan oleh ayah Ivan. Jadi semua orang bisa masuk ke dalam.
( Suka suka kalian lah, holang kaya mah bebas 😅)
Dengan senyum mengembang, Langit, dan Bulan menyambut kehadiran keluarga besar. Ruangan yang tadinya dingin mendadak jadi hangat, oleh kasih sayang semua orang. Orang tua Bulan, yang juga ada di sana, menjadi terharu melihat betapa hangatnya keluarga kaya raya itu, jauh dari kata sombong.
Saat sedang asik berbincang banyak hal, tiba tiba pintu terbuka dan masuklah suster yang membawa box bayi dari pasangan Langit dan Bulan. Semua orang terlihat antusias dan bergembira. Mereka tidak sabar menunggu hasil dari tebakan tadi. Setelah suster keluar, semua segera bertanya kepada Langit.
"Ini bayi mungkin siapa namanya?" tanya ayah Ivan pertama kali, karena memang beliau yang lebih tua.
"Wah, semua berawal dari D, dan sepertinya kalian akan sangat dekat dengan kakek," Ayah Devan, yang sangat antusias, setelah mendengar jika anak cucu cucunya, hampir sama dengan namanya.
"Dasar narsis," sungut Naya.
"Lalu, yang mana Dafa, Dafi dan Defi?" tanya bunda Mila.
"Dafa yang pakai bedong biru muda, kalo Dafi yang pakai bedong biru tua, dan kalian sudah pasti tau siapa Defi kan hehehhee," Langit menjelaskan dengan mengusap kepala anak anaknya.
"Dan siapa tadi yang nangis paling keras?" tanya Tia.
__ADS_1
"Tuh yang pake bedong pink," jawab Bulan terkekeh geli.
"Kan, benar tebakan bunda, bunda paling tau," canda Mila, dengan binar bahagia.
Akhirnya semua orang tertawa bahagia, mereka benar benar merasa beruntung dengan segala yang sudah mereka miliki. Kesakitan, kesedihan, kehilangan adalah hal biasa dalam hidup, karena tanpa itu semua, kehidupan akan menjadi hambar, hanya saja tinggal bagaimana kita mengolahnya untuk menjadi kehidupan yang lebih baik.
Kini, semua sudah bahagia, meski kita tau, yang namanya ujian akan selalu datang, baik bersekala kecil ataupun besar. Semua akan bisa di lalui, jika genggaman tangan masih tetap erat.
"Terimakasih ya Allah, akhirnya bunda bisa hidup bahagia bersama pasangan yang tepat, bukan berarti sebelumnya tidak, hanya saja cinta itu ternyata lebih kuat di bandingkan apapun, terimakasih ayah, karena kebesaran hatimu merelakan bunda kembali pada cinta sejatinya, semoga ayah bahagia dan tenang disana, surga tempatmu yah. Dan ayah Ivan, terimakasih karena sudah melengkapi hidupku, sudah menyayangiku selayaknya anak kandung mu sendiri, terimakasih untuk cinta tulus mu, terimakasih terimakasih." batin Zian, dengan memandang hari kebahagiaan yang ada di depannya saat ini.
"Alhamdulillah, Kau berikan semua ini untuk hamba. Sungguh besar kasih sayang dari Engkau, ujian dari- Mu, adalah pendewasaan untuk hamba. Tangis kesedihan adalah pelajaran yang kini menjadikan hamba lebih tegar lagi. Betapa beruntungnya hamba atas semua nikmat ini. Terimakasih mas Hadi, untuk semua yang sudah kamu berikan, maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang baik semasa kamu hidup, tapi percayalah kau orang baik, maka kau pasti bahagia disana. Dan mas Ivan, terimakasih karena masih memegang teguh cinta yang pernah terucap dulu, hingga kini kita menua bersama, aku tanpamu bagaikan bunga tanpa keindahan, terimakasih untuk setiap cinta yang sudah kamu berikan. Kini kisah kita sudah sangat lengkap dengan kehadiran mereka semua, i love you mas," batin bunda Mila, memandang hari kebahagiaan di depan matanya.
"I love you to," bisik ayah Ivan, yang seakan tau jika bunda mengucapkan kata itu, meski dalam hati.
Dan akhirnya kisah yang tak pernah terpikirkan ini, berakhir dengan kebahagiaan yang luar biasa.
***END***
*****®
Terimakasih untuk kakak semua yang sudah berkenan mampir di cerita receh ini.
Yang up nya sesuka hati othor nya, xixixixi.
Terimakasih untuk dukungan dan hadiah hadiah nya selama ini.
Salam sayang, dan setelah ini mampir ke cerita Si anak bungsu keluarga Angkasa, siapa lagi kalo bukansi gunung es Mas Alwi.
__ADS_1
Di hari yang Fitri ini, saya ingin mengucapkan Minal Aidin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin untuk semua pembaca cerita CINTA DEVAN UNTUK NAYA.
by by 😘😘🥰🥰🥰🙏