
Happy reading yess....
*****®
Perjalanan yang lumayan lama tak berarti apa apa, saat keduanya sudah sampai di tempat tujuan. Bulan, bahkan berulang kali tertawa senang, saat melihat betapa indahnya, pemandangan yang tersaji di depannya.
"Bagaimana kamu suka?" tanya Langit, yang memeluknya dari belakang.
"Suka banget bang, makasih ya untuk semua ini," ucap Bulan dengan mengusap tangan yang melingkar di perutnya.
"Apapun untuk mu sayang," jawab Langit, dengan mengecup pucuk kepala Bulan.
"Bang," panggil Bulan dengan suara pelan.
"Ya, ada apa hem?" tanya Langit, masih betah dengan posisinya saat ini.
Bukanya segera berkata, Bulan malah tampak terdiam dengan pikiran yang entah kemana, dia bahkan tidak mendengar panggilan dari suaminya. Langit, yang heran dengan sikap istri, lantas dengan perlahan membalikkan badan sang istri. Langit, bisa melihat dengan jelas jika istrinya sedang memendam sesuatu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Langit, kali ini dia sengaja mencium bibir sang istri.
"Aku," Bulan, merasa seakan kelu lidahnya untuk berbicara.
"Hay, lihat sini. Ada apa? apa ada yang menggangu pikiran mu?" masih dengan kelembutan, Langit berusaha bertanya.
"Maaf bang, belum bisa memberikan hak Abang sebagai suami," gumam Bulan pelan, tapi masih bisa di dengar Langit.
"Tak apa, Abang paham, Abang juga menikahimu bukan karena ingin mendapatkan hal itu, Abang menikah denganmu karena Abang ingin melindungi mu, Abang ingin selalu berada di sampingmu, dan karena Abang sangat mencintaimu," tutur Langit, dengan tatapan mata yang begitu hangat.
"Terus bang," Bulan, begitu terharu, dia langsung memeluk suaminya, suami yang begitu lembut dan sempurna.
Setelah drama yang di buat Bulan, kini keduanya sedang menikmati senja di pantai yang begitu indah, senyum bahagia tak pernah luntur dari bibir Bulan. Sedangkan Langit, dia yang melihat itu juga ikut tersenyum, ternyata begitu mudah membuat istrinya itu bahagia. Dalam hati, Langit berjanji, akan terus membuat bibir itu melengkung membentuk sebuah senyuman tanpa ada air mata lagi.
Setelah puas menikmati senja yang begitu indah, kini keduanya sedang menikmati makan malam yang begitu romantis. Langit, seakan ingin mengganti acara pernikahan yang di lakukan sangat sederhana, kini ia sedang mencurahkan segala kemampuan yang dimiliki untuk membuat hal hebat dalam hidup Bulan. Hampir satu jam lamanya, mereka menikmati acara makan malam itu, hingga kini mereka sudah berada di kamar dan bersiap untuk istirahat.
__ADS_1
"Mandi dulu bang, baru istirahat," Bulan mengingatkan, saat sang suami yang bersiap untuk tidur.
"Ya, siap bos," jawab Langit dengan tingkah konyolnya. Sedangkan Bulan, dia hanya bisa tersenyum geli melihat itu, sambil menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
"Sudah bang? ini bajunya," dengan segera,Bulan mendekati suaminya dan menyerahkan baju ganti.
"Sudah, gantian kamu, aku sudah menyiapkan air hangatnya." kata Langit, menyambut baju dari sang istri.
"Ya bang," dengan segera, Bulan masuk ke kamar mandi.
Dia mandi dengan cepat, dan berusaha untuk menghilangkan kegugupannya, Bulan sudah bertekad akan menghilangkan rasa trauma itu malam ini. Dia masih asik mematut diri di depan cermin, berharap penampilannya akan di sukai oleh suaminya.
Dengan perlahan, dia buka pintu kamar mandi, berjalan dengan sangat pelan dan bahkan kakinya terasa gemetar yang luar biasa, tapi sebisa mungkin dia sembunyikan. Sedangkan Langit, hanya bisa diam terpaku saat melihat pemandangan indah di depannya.
Bulan, terlihat begitu bersinar, bahkan sinar di luar sana, seakan kalah dengan sang istri. Tatapan nya begitu terpaku, hingga tak bisa berpaling sedikitpun. Sesaat, dunianya seperti sedang berhenti, melihat keindahan yang istrinya berikan, baju berwarna merah yang begitu kontras dengan warna kulit Bulan yang putih.Tak lupa wajah malu malu dari sang istri, membuat keindahan itu semakin sempurna.
"Apa, kamu yakin sayang?" tanya Langit dengan suara berat.
Hanya ada anggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan sang suami. Bulan, bahkan tidak berani mengangkat kepalanya, rasanya teramat malu tampil di depan laki laki dengan baju seperti ini.
Dengan segera, Langit berdiri di depan Bulan, dia dengan perlahan mendudukkan Bulan di ranjang mereka. Tatapan penuh cinta yang Langit berikan seolah, memberikan keberanian dan rasa bahagia di hati Bulan. Dengan perlahan, kecupan itu mendarat di kening, kedua matanya, pipi, hidung dan terakhir pada bibirnya.
Ciuman yang pelan, penuh dengan kehangatan, tidak ada pemaksaan dalam setiap decapan itu, perlahan namun pasti, ciuman itu berpindah hingga menyusuri setiap lekuk keindahan dirinya. Kelembutan yang Langit, berikan membuat Bulan seakan begitu di cintai.
"Lihat aku sayang, buka matamu, lihat di sini hanya ada aku dan kamu," ucap Langit, di sela sela kegiatannya, dia seakan menyadari jika ada ketakutan di diri Bulan.
"Abang," lirih Bulan, saat tatapan keduanya bertemu.
"Ya panggil namaku sayang, rileks oke," setelah mengatakan hal itu, Langit melanjutkan kegiatannya.
Suasana yang indah, seakan semakin indah, di temani deburan ombak, membuat kedua insan yang sedang mencetak gol itu semakin menggila. Kegiatan panas yang terjadi, semakin terasa begitu panas, saat Langit, sudah bisa membobol gawang Bulan. Ada air mata yang menetes di sana, tapi kali ini bukan air mata kesedihan tapi air mata bahagia.
"Terimakasih sayang, malam ini kamu sudah menyerahkan hal paling berharga kepadaku, i love you," Langit, begitu bahagia.
__ADS_1
"Sama sama bang, terimakasih juga sudah mau menerimaku dengan segala kekuranganku," jawab Bulan.
Malam panjang, nyatanya tak menyurutkan kegiatan panas itu, seakan candu, tubuh yang ada di depannya tak ingin ia lepas begitu saja, hingga kata ampun dari tubuh di bawahnya membuatnya tak tega.
"Sebentar sayang, ah aku hampir saja sampai," erang Langit, dengan hentakan yang semakin keras, sedangkan Bulan, hanya bisa pasrah saja.
"Bulan," teriak Langit, setelah puncak kemenangan yang dia nikmati.
"Terimakasih sayang," tutup Langit, dengan mengecup kening Bulan.
"Sama sama bang," jawab Bulan, dengan mata tertutup.
"Tidurlah, maaf sudah membuatmu kelelahan," setelah mengatakan hal itu, Langit, langsung menarik Bulan, kedalam pelukannya.
Tanpa, menunggu lama, keduanya terlelap dalam mimpi yang indah, malam yang sempurna bagi pasangan yang sedang berbulan madu. Hingga pagi menyapa, mentari sudah mulai mengintip,mengusik tidur sepasang pengantin baru itu.
"Pagi sayang," sapa Langit, saat dia membuka mata dan melihat Bulan yang sedang menggeliat.
"Ah, pagi bang," jawab Bulan, dengan sedikit malu.
"Apa rencananya, pagi ini mau di lanjut hem? kenapa menggodaku?" tanya Langit dengan tatapan yang mengarah kepada pegunungan yang berjajar.
Sedangkan Bulan, dia yang belum menyadarinya langsung melihat ke arah tatapan sang suami. Dengan segera dia raih selimut yang sudah melorot akibat dia menggeliat tadi, tapi semuanya sudah terlambat. Di saat tubuh kekar itu berada diatasnya.
"Terlambat sayang,dan saatnya menikmati sarapan pagi," ucap Langit, dengan cepat tanpa menunggu persetujuan istrinya.
Pasrah, hanya itu yang bisa Bulan lakukan, hingga singa buas itu akan sudah menjalankan aksinya dengan kegilaan yang sama seperti tadi malam.
****"®
Puasa Thor 😅😅
Makanya gak aku buat yang hot 🤭
__ADS_1
Kaburrrrr