Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
121. Pernyataan


__ADS_3

Happy reading yess...


******®


Makan siang usai dan berjalan biasa saja, membuat Bulan semakin bertanya tanya, sebenarnya kenapa harus di sini, di cafe ini. Bulan, masih belum menemukan jawaban, hingga setelah mereka benar benar selesai, barulah keanehan terjadi.


"Ayo," ajak Langit, dengan mengulurkan tangannya.


Bukanya langsung menyambut, Bulan masih terpaku, baru kali ini, dia mendapatkan uluran tangan dari Langit.


"Hai, malah diam saja, ayo," sekali lagi Langit, berkata dan dengan menggerakkan tangannya.


"Ah iya," meski dengan ragu, akhirnya Bulan menerima uluran tangan itu.


Hangat, itulah yang pertama kali Bulan rasakan. Genggaman itu terasa begitu hangat dan berbeda. Bahkan dulu, saat tangannya di genggam oleh sang mantan, tak pernah terasa se hangat dan nyaman ini. Adakah yang salah dengan hati nya? karena dengan perlahan, rasa hangat itu menjalar ke sanubarinya.


"Jangan melamun terus, kenapa sejak pagi kamu suka melamun, Hem?" tanya Langit, saat dia menyadari Bulan melamun lagi.


Sedangkan Bulan, dia kaget dengan tempat yang saat ini dia datangi. Sepertinya karena melamun, dia sampai tidak sadar sudah berada di tempat yang begitu indah, meski tidak terlalu luas, tetapi tatanan taman ini mirip sekali dengan yang ada di rumah utama keluarga Angkasa.


"Ini , kita dimana, kak?" tanya Bulan kebingungan.


"Kita, ada di taman belakang cafe ini," jawab Langit dengan menuntun Bulan agar duduk di bangku taman.


"Indah, mirip yang ada di rumah utama," Bulan mulai memberikan komentarnya.


"Dan aku saya suka, kalo kamu menyukainya." perkataan Langit, sukses membuat kinerja jantung Bulan ber talu talu.


"Lan," panggil Langit, dengan lembut.


"Ya," jawab Bulan gugup. Entah kenapa ada perasaan lain saat ini yang dia rasakan.


"Mungkin ini terlalu cepat buat kamu, sang mungkin kamu juga tidak bisa percaya begitu saja, tapi sungguh rasa yang aku punya buat mu, sudah ada sejak lama. Saya, saja yang terlalu pecundang untuk mengakui semua nya, dan mungkin baru hari ini, saya berani mengakui nya. Lan, maaf jika selama ini saya, sudah membuat mu merasa lelah dengan sikap saya yang berubah ubah, itu semua saya lakukan karena saya ingin lebih dekat dengan mu." Langit menjeda ucapan nya, dia genggam kedua tangan Bulan dengan hati hati.


"Saya, suka sama kamu, sejak dulu. Hanya saja, saya terlalu bodoh untuk mengerti perasaan ini, sampai akhirnya, hati saya terluka saat melihat mu bersama laki laki lain, dan sejak saat itu saya baru paham, jika perasaan yang saya punya ini adalah perasaan cinta. Cinta yang beru pertama saya rasakan, dan itu hanya untuk satu gadis saja tanpa bisa tergantikan. Saya tau ini bukan pernyataan yang romantis, karena saya juga bukan orang yang romantis, tapi percayalah satu hal, cinta yang saya miliki, tulus tanpa ada embel-embel lain di belakangnya. Lan, ijinkan saya menyembuhkan rasa kecewa mu dan ijinkan saya, menemani setiap perjalanan hidup mu." Langit, diam untuk beberapa saat, dia tatap mata indah di depannya, mata yang saat ini masih menyisakan keraguan di sana.


"Lan, apa kamu mau menjadi kekasih dari laki laki dingin dan datar seperti saya?" akhirnya kalimat pamungkas itu keluar juga.


Bulan, dia begitu kaget dengan apa yang dia dengar barusan. Sungguh, dia tidak pernah menyangka,dia akan di cintai oleh laki laki yang dulunya menjadi incaran para kaum hawa. Bulan, bingung harus menjawab apa, karena sejujurnya hati nya mulai nyaman dengan kehadiran Langit, meski sering membuat nya jengkel tapi selalu ada hal lain yang mampu membuat nya merasa di lindungi dan di sayangi.


Bulan masih saja diam, dia menatap mata indah di depannya, mencari kebohongan di sana, dan ternyata tidak ada, hanya ada kesungguhan dalam binar mata itu.

__ADS_1


"Lan," panggil Langit lagi saat Bulan masih saja diam.


"Kak, apa aku bisa mempercayakan hati ku sekali lagi? apa yang baru saja aku dengar ini murni perasaan tulus? bukan sebuah kedok lagi?" sejujurnya Bulan masih merasa trauma.


"Jika yang kamu ragukan karena hal kemarin, maka lihatlah ini," dengan segera Langit, membuka ponsel dan masuk ke sebuah Vidio. Di sana, Bulan bisa melihat, jika semua surat tanah, dari semua warga yang tinggal di area rumahnya telah kembali. Langit, sudah mengembalikan semua surat tanah yang dulu di ambil paksa oleh Riyan dan tim nya.


"Kak," lirih bulan terharu.


"Sst, jangan menangis, karena air matamu terlalu berharga untuk hal seperti ini, percayalah saya, bukan orang yang seperti dia," ucap Langit penuh kesungguhan, dia hapus air mata yang sempat menetes.


"Lalu apa jawaban untuk pertanyaan saya tadi?" kembali Langit, menagih jawaban dari Bulan.


"Aku bingung kak," jawab Bulan, sambil menunduk.


"Jawablah sesuai hati mu, saya akan menerimanya." Langit, mencoba meyakinkan lagi.


"Jadi?" sekali lagi Langit bertanya.


Dan hanya mendapatkan anggukan saja dari Bulan. Langit, yang melihatnya sangat senang, tapi dia masih ingin mendengar nya langsung.


"Maksudnya?" tanya Langit pura pura bodoh.


"I iya kak," jawab Bulan dengan sedikit gugup juga jengkel.


"Bisa tidak sih kak, panggil nya gak usah saya, saya, gitu! formal banget!" bukan malu yang sekarang Bulan rasakan, melainkan rasa gemas karena ucapan Langit.


"Eh,ya akan saya maksud nya aku coba," jawab Langit dengan sedikit kaku.


"Gitu kan enak," Bulan tersenyum, meski masih menunduk.


"Gak usah lihat bawah terus, ada yang tampan di depan mu," goda Langit.


"Apaan sih kak," Bulan semakin gugup saja.


Dengan segera, Langit menarik Bulan, kedalam pelukannya. Dia cium pucuk kepala Bulan dengan sayang, senyum nya tak pernah luntur. Begitu juga dengan Bulan, dia baru saja merasakan hal lain, dalam pelukan Langit, dia tersenyum. Rasa nyaman begitu terasa di sana.


"Terimakasih sayang, terimakasih," Langit, terus saja mengatakan hal itu. Sedangkan Bulan, hanya bisa mengangguk saja.


Dengan bahagia, mereka kembali ke kantor. Bahkan, senyum Langit, masih saja terukir di bibirnya.


"Kak," panggil Bulan.

__ADS_1


"Ya," jawab Langit singkat, karena dia sedang fokus menyetir.


"Gak usah senyum terus, nanti yang ada karyawan kakak pada bingung, dan makin suka sama kamu," omel Bulan.


"Cie yang cemburu," bukanya menuruti malah menggoda.


"Kak, ih aku serius lho ini," gerutu Bulan.


"Siap dengan satu syarat," pancing Langit.


"Pake syarat segala," Bulan masih jengkel.


"Mau tidak?" tanya Langit masih mode iseng.


"Apaan?" tanya Bulan kalah.


"Panggil aku Abang, bukan kakak," jawab Langit santai.


"Hah!" Bulan melongo.


"Cepat, lihat kita sudah sampai," Langit, sudah mematikan mesin mobil dan bersiap turun dengan senyum yang masih bertengger di bibirnya.


"Ish, Abang!" akhirnya Bulan menyerah.


"Sekali lagi," pinta Langit dengan ke isengnya yang semakin menjadi.


"Ayo, cepat," dengan tidak sabaran Langit, meminta Bulan, untuk memanggil nya Abang.


"Abang," cicit Bulan, dengan malu.


Cup


Dengan cepat Langit, mencium pipi Bulan. Setelah itu dengan tanpa dosa dia keluar dan tertawa dengan keras. Untung parkiran sepi, jadi tidak ada yang melihatnya.


"Abang!" teriak Bulan dari dalam mobil.


*******®


Cie yang Abang Abang panggil nya sekarang.


Cie yang gak jomblo lagi 😅

__ADS_1


Jagain Bang, dek Bulan nya.


Hati hati, bahaya mengintai lho hehehehe.


__ADS_2