Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
102. Panik


__ADS_3

Happy reading yess...


*****®


"Waalaikumsalam," jawab semua serempak.


"Sini masuk nak, kebetulan sekali kamu datang, sini ikut gabung," bunda Naya menyambut sang tamu yang ternyata adalah Awan.


"Ada acara ya Bun? maaf kalo Awan ganggu," Awan merasa tidak enak, pasalnya dia tidak di beri tahu oleh Langit, jika ada acara di rumahnya.


"Tidak apa apa, ini lho acara lamarannya Jingga, kamu kesini di minta Langit ya?" bunda malah asik bertanya kepada Awan, sampai melupakan acara yang seharusnya di lakukan.


"Iya Bun, ada kerjaan yang mau di bahas mendadak." jawab Awan kikuk.


"Baiklah, sekarang kita lanjutkan acaranya ya," ajak ayah Devan, setelah melihat Awan mulai duduk di dekat Langit.


Acara berjalan lancar, semua orang yang menyaksikan pertunangan sederhana itu ikut senang. Rona bahagia menghiasi wajah Bintang dan Senja. Keduanya masih terlihat malu malu, ah lebih tepatnya Jingga terlihat menunduk malu.


Jika sang kakak kembarnya sedang berbahagia, berbeda dengan Senja, dia sejak tadi memilih diam saja. Dia sangat canggung sejak acara pelukannya dengan Awan waktu itu.


"Kamu kenapa dari tadi nunduk terus sih yang?" tanya Bintang gemas, karena sejak tadi dia melihat calon istrinya menunduk saja, padahal wajahnya begitu cantik.


"Gak apa," cicit Jingga pelan.


"Yang, sayang," panggil Bintang dengan jahilnya.


"Apaan sih Aa'," jawab Jingga yang akhirnya mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Nah gitu kan cantik," gombal Bintang penuh penekanan.


"Udah donk Aa' jangan godain terus." Jingga mengerucutkan bibirnya.


"Eh itu bibir kenapa? minta di sapa ya?" tanya Bintang santai dan mulai memajukan wajahnya. Jingga yang melihatnya, refleks menutup mulutnya.


"I Love You sayang," bisik Bintang tepat di telinga Jingga.


Makin malu itu wajah Jingga, dia hanya bisa tersenyum dengan wajah yang semakin memerah saja saja. Baginya, ini adalah kedekatan paling intim dengan seorang laki laki.


"Kok diam saja, gak mau jawab nih? masak iya ucapan aku di anggurin," Bintang pura pura ngambek.


"I Love You to," jawab Jingga dengan suara bergetar.


"Yes, kawin, eh nikah maksud nya." teriak Bintang heboh sambil mengepalkan tangannya keatas.


"Kenapa mesti malu yang, ini hal yang membahagiakan lho, kalo perlu aku mau teriak biar semua orang tahu kalo aku bahagia." jawab Bintang penuh semangat.


"Ada ada saja, dasar norak." tiba tiba suara Langit sudah berada di sana.


"Abang," lirih Jingga yang malu.


"Hehehehe ada Abang to," Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menutupi rasa malunya.


"Di panggil bunda, saatnya makan malam," ucap Langit dan segera berlalu pergi.


"Ingat jangan main cium cium, belum boleh." dengan jahilnya, Langit mengatakan itu sebelum benar benar masuk ke rumah.

__ADS_1


"Kan kan, Aa' sih," omel Jingga yang merasa malu.


"Hehehehe, aku terlalu senang yang, ya udah masuk yuk." ajak Bintang dengan menggandeng tangan nya.


Setelah melakukan jamuan makan malam bersama, akhirnya keluarga Bintang, pamit untuk pulang. Semua sudah di tentukan, dan ternyata mereka akan menikah satu bulan setelah acara lamaran ini.


Jika semua orang sedang membahas acara yang akan di laksanakan seperti apa, konsep seperti apa, maka berbeda dengan Langit dan Awan.


Keduanya terlibat obrolan serius membahas pekerjaan, ada sedikit masalah antara kerja sama dengan perusahaan baru, perusahaan yang sepertinya tidak beres. Setelah satu jam lamanya mereka membahas pekerjaan, akhirnya selesai juga. Sebelum mereka keluar, Langit mengatakan kalimat yang sukses membuat perasaan Awan panik dan galau.


"Jika hari ini Jingga yang di lamar laki laki mapan, maka tidak menutup kemungkinan setelah nya adalah Senja. Jadi masih mau bertahan dengan kebodohan mu," ucap Langit dengan penuh penekanan dan langsung berlalu pergi.


Setelah kepergian Langit, Awan masih terpaku dengan segala ucapan Langit, bisakah dia melihat Senja di lamar dan menikah dengan laki laki lain? akankah hati nya bisa menerima?


Awan terus saja meraba hatinya sendiri, benarkah dia mencintai Senja, benarkah rasa yang dia miliki adalah cinta? bukan bentuk pelarian semata?


"Gue harus apa?" lirih Awan.


******®


Ada yang gemas dengan sikap bang Awan?😅🤭


Sabar, tahan dulu.


Habis ini, kita lihat perjuangan bang Awan bareng bareng ya hehehehe.


Key jangan lupa Gift, Vote, dan like, komentar nya ya.

__ADS_1


Lope lope ❤️


__ADS_2