
Happy reading yess
*****®
Hari berganti dengan cepatnya, tanpa terasa sudah lima bulan pernikahan Devan dan Naya. Kini Naya sidah benar benar pulih dan bisa berjalan seperti semula. Zian dan juga istrinya sidah pindah ke rumah baru mereka, yang letaknya tidak jauh dari rumah utama.
Begitu juga Devan, yang memang ingin bisa memberikan Naya kehidupan dengan kerja kerasnya. Bukan perkara gampang, membawa sang putri keluarga Angkasa ikut dengannya yang notabennya adalah suaminya. Devan harus bekerja kerasa meyakinkan kedua orang tua Naya terutama sang ayah, bahwa ia akan bisa membahagiakan Naya.
Akhirnya ayah memberi ini dengan syarat yang sama kepada Zian. Ya mereka semua memang sudah pindah rumah, namun masih satu komplek perumahan elit.
Rumah Devan hanya berselang tiga rumah dari rumah utama, dan sang kakak berselang satu rumah dengan rumahnya.
"Mas sudah mau berangkat kerja? " Naya bertanya karena dia sedikit heran melihat suaminya sudah rapi.
"Iya sayang, ada rapat yang harus aku hadiri untuk menggantikan ayah pada jam sepuluh siang nanti, sedang ayah harus menghadiri rapat yang satunya sejak pagi" Devan menjelaskan jadwalnya kepada Naya.
Ya semenjak pulang dari honeymoon, Devan diminta untuk menjadi wakil sang ayah, sedangkan Zian sang kakak memilih untuk tetap pada cafe yang memang sejak dulu dia sukai.
"Baiklah, tapi apa mas beneran sudah baikan? " Naya bertanya dengan nada khawatir.
"Sudah sayang, lihatlah aku sudah segar dan juga kuat, kamu tenang saja Oke, " Devan menjelaskan dengan mengusap kepala Naya dan memeluk nya. Devan tau Naya masih khawatir dengan dirinya.
"Janji ya bakalan baik baik saja,kalo ada apa apa cepat telfon, " Naya mengingatkan.
__ADS_1
"Siap ibu negara, "canda Devan dengan mencubit gemas pipi Naya yang mulai kelihatan caby.
"Sakit mas, kenapa suka sekali sih cubitin pipi aku, " protes Naya.
"Gemas sayang, benar benar, jika tidak ada rapat rasanya aku mau kurung kamu saja di kamar, " goda Devan dengan isengnya.
"Mas ih, sudah sana berangkat, " Naya berusaha menghindar karena dia sangat malu .
"Kenapa malu sayang, sampai sampai pipi mu merah begini, " bukannya pergi Devan malah semakin menggoda istrinya.
"Mas.... , " sungut Naya karena suaminya sekarang jadi senang sekali menggoda nya.
"Iya ya, mas berangkat sayang, tapi sebelum nya kasih mas amunisi dulu ya, biar mas bisa nyelesain hari ini dengan baik. " ucap Devan dan dengan segera meraup bibir Naya, bibir yang selalu menjadi candu bagi dirinya.
"Hem Hem, " deheman seseorang sukses membuat mereka saling melepaskan diri dengan perasaan malu.
"Eh kakak, kenapa kak? " Naya bertanya dengan salah tingkah.
"Mau ambil berkas ayah, katanya masih di bawah Devan, " jawab Zian santai.
"Ah iya kak, ini sudah aku bawa kok, " jawab Devan dengan nada kikuk dan salah tingkah.
"Hem segera bawa ke kantor deh, sejak tadi udah di telfon sama ayah,eh kalian malah asik bercumbu. " sindir Zian dengan menaik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Kakak apaan sih, " Naya semakin salah tingkah.
"Sudah sudah, jangan lama lama kalo mau main bibirnya, lanjut nanti malam saja dan segera berangkat sana. " perintah Zian namun masih saja menggoda mereka, dan melenggang pergi.
"Dasar kakak laknut, " gumam Naya.
.
"Aku dengar Nay... " teriak Zian.
Seketika Devan dan Naya saling pandang dan akhirnya mereka malah saling melemparkan senyum malu malu bakal ABG labil saja.
Devan akhirnya berangkat kekantor dengan sedikit cepat, untung saja masoh ada waktu sepuluh menit sebelum rapat utama di mulai.
*Ini semua karena perasaan aneh ku, kenapa bisa begini sih, tiap kali melihat nya aku seperti orang bodoh saja, oh Naya mas kangen, padahal baru beberapa menit kita berpisah. Tuh kan aku sudah mulai gila ini, hehehehehe gila karena cinta, * batin Devan dengan terkekeh kecil, menyadari keanehan pada dirinya.
Hoek Hoek Hoek.
*****®
Siapa yang muntah muntah? " ada yang bisa nembak?
Ikuti terus ya semua, cerita receh ini, jangan lupa dukungan kalian untukku, karena dukungan kalian sungguh berarti bagiku 😘.
__ADS_1
Salam sayang dan terimakasih 🤗🤗🙏🙏😍.