
Happy reading yes...
*****®
Dua wanita galau yang masih asik bergosip ria di rumah utama, kini sedang di repotkan dengan ulah si kecil.
Seperti biasa, sang princess sedang mengusili kakak dan juga adik sepupunya.
"Hais, kenapa kamu ini? usil sekali sih nak, "keluh Tia kepada sang anak.
"Hehehehe ternyata Anin benar benar usil ya, lihat Langit saja sampai nangis karena ulah dia yang kelewat usil,"Naya ikutan gemas.
"Bener bener persis kelakuan kamu,"tiba tiba bunda ikut nimbrung.
"Masak bun?"tanya Naya seolah tidak percaya.
"Iya dan yang sering kena isengnya kamu ya kakak mu,"cerita bunda.
"Ah dan sekarang anakku malah kayak kamu, suka iseng," keluh Tia lagi.
"Hahaha, ya maap. Kan aku gak tau juga," kelakar Naya yang sangat senang melihat sahabat nya kerepotan karena ulah sang princess.
"Ini kalo udah kayak gini biasanya, papi nya yang bisa buat dia nurut,"cerita Tia.
" Wah wah anak papi, terus ini gimana? secara kak Zian masih belum pulang dan baru pulang besok,"tanya Naya yang mulai kasihan melihat Tia kewalahan.
"Ya cuma mau di gendong sampai dia tenang. Dia yang jailin, dia juga yang akhirnya nangis karena kakaknya sudah cubit dia pasti," ucap Tia sambil menimang nimang Anin dalam gendongan.
Anin masih saja rewel dan belum mau diam, Tia mulai kebingungan. Mau telfon suami pasti lebih heboh lagi nanti, sampai akhirnya sang kakek datang.
"Kenapa cucu opa nangis? pasti jail lagi kan?" opa Ivan bertanya sambil mengulurkan tangannya yang langsung di sambut antusias oleh Anin.
"Nah kan sama, dulu kamu juga gitu Naya, bisa diem kalo udah sama ayah,"kembali bunda mengingat momen seperti ini.
"Ah si Anin, niru niru aunty saja," gemas Naya malah mencubit pipi Anin. Anin jadinya menangis lagi.
"Naya malah di tambahin, haduh udah tua juga masih saja iseng," keluh ayah dan langsung berjalan ke arah taman sambil menenangkan Anin.
Saat melihat ayah menggerutu yang lain malah tertawa, mereka tidak menyangka seorang bos besar, pemimpin Angkasa Grup bisa sesabar itu menenangkan anak kecil yang sedang menangis.
Bunda yang melihat ayah berjalan ke arah luar segera menyusul, ia begitu jatuh cinta berkali kali dengan semua sikap suaminya, baik itu dulu, sekarang dan selamanya. Silap itu tidak pernah berubah, meski telah berganti tahun.
Suaminya yang penyabar, hangat, baik, lembut dan selalu mengalah,membuat bunda Mila seakan tak pernah ingin hal lain. Hanya sosok ayah Ivan yang sudah benar-benar memenuhi relung hatinya.
Naya dan Tia yang melihat hal itu tersenyum. Mereka benar-benar mengidolakan orang tuanya itu. Sosok orang tua yang tak pernah terlihat bertengkar sama sekali. Meski kadang mereka melihat ada yang berbeda dari kedua orang tuanya, tapi hal itu hanya sebentar.
"Lihatlah mereka, begitu mesra meski usia tak lagi muda. Bunda begitu mencintai ayah, dan begitu sebaliknya. Bahkan ayah sangat memuja bunda dalam hal apapun,"ucap Naya dengan masih melihat ke arah taman dimana orang tuanya berada, dan sedang bersenda gurau dengan Anin.
" Iya dan aku berharap pernikahan ku dengan bang Zian bisa seperti ayah dan bunda,"doa Tia.
"Aamiin, begitu juga aku," Naya juga melafalkan doa yang sama.
__ADS_1
Malam menjelang, setelah mereka makan malam dengan nikmat saatnya kedua ibu muda itu bersantai. Anak anak sudah tidur dan kini giliran sang ibu yang menikmati malam sambil berselancar di dunia maya.
Saat Tia tengah asik melihat media sosial, tiba tiba dia di kejutkan oleh foto yang di unggah oleh kak Arka, asisten dari Zian suaminya.
Dalam foto tersebut, terlihat Zian dan juga Devan sedang berfoto bersama para mahasiswa perempuan. Sebenarnya foto itu tidak ada yang salah, semua hanya foto biasa saja, tapi tulisan dari Arka yang membuat masalah. Disana di tulis #dua pangeran kodok sedang tebar pesona.
"Nay!" panggil Tia setengah kencang, padahal Naya ada di samping nya.
"Apaan sih, gak usah keras keras kali, aku dengar," sewot Naya.
"Lihat nih,"Tia langsung memperlihatkan foto tadi dan ternyata di bawahnya masih ada lagi.
" Hem, rupanya ada yang ingin main main sama kita, oke mau kita apakan esok?"tanya Naya santai kepada Tia.
Tanpa menjawab, Tia melihat ke arah Naya dan menyeringai sebagai tanda. Mereka sedari dulu selalu kompak, bahkan kadang dengan bahasa isyarat saja mereka bisa paham.
Ada lagi foto masuk, dimana di sana Devan sedang berbicara dengan salah satu mahasiswa cantik dan mereka terlihat sangat dekat. Naya yang melihat itu semakin gemas di buat nya.
"Hem ternyata, membuka celengan nya kita bisa tunda dulu, kita perlu memberikan hukuman terbaik untuk mereka,"ucap Naya dengan senyuman mengerikan.
" Yap dan sepertinya, kita perlu sedikit bermain cantik nanti,"tambah Tia.
Setelah menyusun rencana, mereka akhirnya berpisah untuk tidur di kamar masing masing sambil menunggu esok tiba.
Keesokan hari, mereka sudah berdandan rapi dan siap menanti kehadiran para suami suaminya.
Dan tepat pada pukul 10 pagi, Devan dan Zian sudah sampai di rumah utama. Mereka bergegas masuk dan langsung memeluk sang istri yang sudah menanti dengan manis di ruang tengah.
"Tidak baik baik saja sayang, mas rindu berat gimana bisa betah," jawab Zian yang mulai melepas baju bajunya untuk bersiap mandi.
"Ya sudah mandi dulu ya, habis itu baru kangen kangenan lagi,"Naya mendorong Devan untuk segera mandi.
"Gak mandi bareng yank? mas kangen lho ini?" ajak Devan dengan wajah penuh harap.
"Gak, aku sudah mandi, sudah cepet, nanti aku mau minta sesuatu," Naya menjawab permintaan suaminya dengan berjalan ke arah ranjang.
Devan yang melihat Naya berjalan ke arah ranjang dan berkata demikian langsung berfikir kemana mana. Dia bergegas mandi dengan cepat dan ingin segera mendapatkan apa yang sudah dia bayangan kan.
*Ah dia mau minta apa ya? pasti mau minta jatah selama dua hari gak dapat jatah kan,, hihihi pasti aku dapat banyak hari ini, uh rasa lelah ku langsung hilang kalo gini*Devan malah berbicara sendiri di dalam kamar mandi.
Sedangkan Naya sudah punya siasat yang akan membuat sang suami memenuhi semua permintaan dia. Naya sangat percaya jika rencananya akan berjalan mulus. Saat Naya masih asik melamun tiba tiba pintu kamar mandi sudah terbuka.
Ceklek
Devan keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggang kebawah saja, sedangkan atasnya dia bertelanj*ng dada, sesaat Naya terpaku oleh roti kotak kotak milik suaminya.
*Sial kenapa malah aku kepancing sih, huh dasar lemah, aih itu roti udah dua hari gak aku usap usap*grutu Naya dalam hati. Naya cepat cepat menyadarkan rencananya.
Devan kini duduk di pinggir Naya. Dia melihat istri nya yang semakin hari semakin cantik saja.
"Kamu mau minta apa sayang?kangen yansama mas? mau minta jatah yang dua hari gak ada?" goda Devan dengan pedenya.
__ADS_1
"Kamu tau saja yank, ah aku merindukan mu," goda Naya yang kini sudah duduk di atas pangkuan Devan.
"Aku milikmu sayang, aku ada di sini, mau sampai malam juga boleh," jawab Devan yang mulai terpancing karena ulah tangan Naya yang sudah kemana mana.
"Emm tapi sebelum nya, aku mau minta dompet kamu donk yank,"pinta Naya dengan sedikit mendes*h dan menggigit bibir bawahnya.
Devan semakin bersemangat dan gair*h sudah menguasai dirinya. Mendengar permintaan Naya, dengan segera Devan mengambil dompet yang berada di nakas sebelah ranjang mereka.Devan memberikan nya kepada Naya tanpa rasa curiga.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Naya langsung bergegas membuka dompet dan mengeluarkan semua isinya. Semua kartu yang ada di sana di ambil dan juga beberapa uang.
"Mulai sekarang, semua kartu ini aku yang pegang, mas hanya boleh bawa uang 300rb saja sehari, tidak lebih!" ucap Naya santai dengan senyuman tanpa dosa.
Sedangkan Devan hanya bisa melongo dengan apa yang di lakukan istri nya. Sesaat Devan masih diam, dia masih mencerna kenapa tiba tiba istri nya melakukan hal itu, setelah dia pulang dari luar kota.
"Kenapa kamu meminta itu yank? masih kurang yang aku kasih?" tanya Devan polos
"Gak tuh, ini sebagai hadiah karena kemarin ada yang kegenitan sama anak kuliahan," jawab Naya santai dan mengembalikan dompet Devan setelah mengambil semua isinya.
"Hah kapan?" tanya Devan bingung.
"Nih, lihat sendiri," Naya menyerah kan foto yang kemarin dia lihat bersama Tia.
Devan langsung saja merasa sebal dengan kelakuan Arka. Dia dan Zian belum melihat sosial media sama sekali.
*Sialan nih si kak Arka, gara gara dia gue dapat masalah, tunggu saja gue kerjain balik bareng kak Zian. Ah pasti kak Zian juga dapat hal yang sama*batin Devan yang tau bagaimana istri dan juga kakak iparnya.
"Nah sudah lihat kan? jadi dengan begini mas gak bisa macem macem, lagian mana ada yang mau sama cowok yang tiba tiba miskin gini," cibir Naya yang masih sedikit dongkol.
"Aku gak ngapa ngapain yank, itu si kak Arka saja yang iseng," bela Devan.
"Serah pokoknya, 300rb sehari, gak boleh nambah." ucap Naya seakan tidak bisa di bantah.
Setelah mengatakan itu, dia keluar kamar, sedangkan Devan hanya bisa pasrah saja dan segera keluar ingin menemui Zian.
"Elo pasti jadi miskin kan," tebak Zian langsung, saat bertemu dengan Devan.
"Iya dan semua karena ulah asisten kakak yang sableng itu! " Devan menjawab dengan bersungut-sungut.
"Butuh dikasih asupan kayak tuh orang, cari gara gara!" Zian pun lebih sebal lagi.
"Awas saja besok!" ucap Devan dan Zian bersama sama.
Kemudian mereka berdua terkekeh mengingat nasip mereka, seorang CEO perusahaan besar dan kafe ternama di dompet nya hanya ada uang 300rb tak lebih dan tak kurang. Bahkan kartu tanda pengenal juga hanya ada KTP dan SIM saja, miris bukan.
*****®
Dih duh, kasihan, pulang luar kota malah jadi miskin 😅🤭
Ets jangan marah sama aku lho ya, aku kan masih polos🤭
Yuk ah bantu mas Devan sama abang Zian, kasih mereka hadiah biar seneng, kasihan lho mereka di tindas sama istrinya, ups.
__ADS_1
Salam sayang 🤗🤗🤗