
Happy reading yess....
*****®
Langit dan Bulan, sudah berada di depan restoran tempat mereka akan melakukan meeting siang ini. Di saat bersamaan, Bulang begitu terkejut dengan sosok yang ada di depannya, sosok yang beberapa jam lalu menelfon nya.
"Lho mas Riyan? katanya keluar kota?" tanya Bulan dengan heran dan sedikit penasaran.
"Hay, sayang. Iya, habis ini mas berangkat, ini barusan mas bertemu dengan orang yang akan bekerja sama nanti nya." jelas Riyan dengan sedikit gugup, namun dia berusaha bersikap tenang.
"Oh begitu, mba Celine juga ikut?" tanya Bulan dengan tatapan menyelidik, pasalnya wanita yang kini berdiri, di samping Riyan terlihat berbeda.
"Iya, lha dia kan sekertaris mas, sayang," jawab Riyan dengan senyum semanis mungkin.
"Oh, apa kalian akan pergi berdua saja, maksudku, berangkat bersama?" Bulan masih saja bertanya.
"Gak sayang, Mas berangkat duluan, dia akan berangkat dengan tim," jelas Riyan,dengan tak nyaman, pasalnya dia melihat laki laki yang di belakang Bulan, menatapnya dengan tatapan intimidasi, Riyan tidak tau siapa dia.
"Oh iya, kamu kenapa di sini?" Riyan mencoba mencari topik lain.
"Oh, aku dan pak Langit, mau meeting mas di sini," jawab bulan apa adanya.
"Jadi dia," Riyan tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia teramat kaget, jika laki laki yang memiliki aura yang begitu kuat adalah sosok penerus Angka Grup, yang baru.
"Ah iya, kenalkan. Pak Langit, dia mas Riyan tunangan saya, dan mas Riyan, beliau Pak Langit, atasan Bulan," bulan memperkenalkan mereka, minus, wanita yang ada di sebelah Riyan.
Karena sejak awal, Bulan memang sudah tidak menyukainya. Bagi Bulan, wanita yang bernama Celine, itu sangat murahan. Jabatan sekertaris sama sekali tidak cocok dengan dengan pakaian yang dia kenakan. Wanita itu cenderung, menggunakan pakaian yang terlalu seksi untuk seorang sekertaris.
__ADS_1
"Oh jadi, beliau yang sekarang memimpin Angkasa Grup ya," Riyan masih saja belum percaya, karena dia bisa bertemu langsung dengan sosok yang memang jarang terlihat di media masa.
"Iya mas," jawab Bulan singkat.
"Pak, perkenalkan saya Riyan, dari perusahaan R grup." Riyan, segera mengulurkan tangannya untuk berkenalan secara formal.
"Hem, ya, saya Langit." jawab Langit, singkat dan dengan wajah datarnya.
"Oh iya pak -," Ucapan Riyan, terhenti.
"Maaf, mungkin lain kali, saya di seni sudah ditunggu klien." Langit, sengaja memotong ucapan Riyan.
Karena jujur, Langit, sudah sangat muak, melihat gelagat Riyan, yang berusaha untuk mendaki nya, demi sebuah kerja sama. Langit, dia sudah hapal, bagaimana gelagat para penjilat yang rela melakukan apapun demi sebuah kesuksesan.
"Oh baik pak, maaf sudah membuat anda terlambat," jawab Riyan, merasa tidak enak dan gagal.
"Aku permisi ya mas, takut singa marah," canda Bulan, yang hanya bisa di angguki oleh Riyan, karena Bulan, segera berlari setelah mengatakan itu.
Bahkan, Bulan,dengan sengaja tidak menyapa Celine, sama sekali. Baginya, wanita yang ada di samping Riyan, adalah makhluk yang tidak terlihat wujudnya, tapi mampu di rasakan seramnya.
Setelah pertemuan singkat tadi, entah kenapa mood Langit, menjadi kacau balau. Dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dengan meeting kali ini, dia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Langit, merasa ada yang tidak beres dengan laki laki tadi. Tapi apa, Langit, belum bisa menyimpulkannya, hanya saja, nalurinya sebagai laki laki, ada yang sedang Riyan, sembunyikan dari Bulan.
"Gue,harus cari tau, ada yang tidak beres dengan laki laki sialan itu," batin Langit.
Setelah meeting selesai, Langit, yang sejak tadi tidak tenang, akhirnya pamit sebentar. Dia ingin menenangkan pikiran dan sedikit, membasuh wajahnya biar segar.
"Lan, kamu habiskan makanan nya dulu, saya mau ke toilet sebentar, mau membasuh wajah," pamit Langit, dengan suara yang lebih manusiawi.
__ADS_1
"Baik pak," jawab Bulan, singkat.
Langit, segera masuk dan membasuh wajahnya, sesuai yang dia ucapkan, tapi setelah semua selesai, Langit, tidak langsung kembali ke meja yang tadi dia gunakan, dia sedikit berhenti dan mulai menelfon seseorang.
"*Halo, Ga,Gue, mau Lo selidiki dan awasi laki laki yang bernama Riyan, dia pimpinan R Grup!" titah Langit, pada salah satu orang kepercayaannya yang sangat sangat menakutkan.
"Baik pak!" jawab Arga dengan tegas.
"Bagus, gue tunggu kabar itu secepatnya, jangan ada yang terlewat, paham!" dengan suara tegas tak terbantahkan.
"Siap pak, dalam waktu dua puluh empat jam, laporan sudah bapak terima." jawab Arga yakin, seperti biasanya.
"Bagus!" jawab Langit, dan langsung memutus telfon begitu saja.
Setelah nya, Langit, kembali ke meja, yang ternyata Bulan, masih ada di sana. Ah yang benar saja, kan Bulan, di sini bersama dirinya. Bodohnya dia.
"Maaf lama," ucap Langit dan langsung duduk begitu saja, tak lupa, dia kembali melanjutkan makannya yang tadi tidak berselera dan sekarang terlihat sangat nikmat.
Sedangkan Bulan, dia hanya bisa melongo, mendengar seorang Langit, mengucapkan maaf, wau kemajuan yang hebat.
"Iya pak, tidak apa apa." jawab bulan sedikit heran*.
*******®
Nah kan, sang penguasa Angkasa, sudah mulai turun tangan. Hah bagaimana ya.
Tenang saja, konflik nya gak akan terlalu berat kok, karena setelah cerita Langit dan Bulan bahagia, maka cerita ini juga end.
__ADS_1
Hihihi, jadi sabar ya.