
Happy reading yes...
Setelah dua laki laki yang tiba tiba miskin itu berdiskusi, akhirnya mereka menyeringai puas. Mereka sudah menemukan balasan yang pas untuk Arka .
"Kita tunggu saja hari nya kawan,"ucap Zian dengan senyum miring.
"Salah siapa sudah berani main main, sekarang tanggung sendiri akibat nya,"Devan ikut menimpali.
Kemudian keduanya terkekeh bersama sama. Sekarang yang akan mereka lakukan adalah bagaimana mendapatkan salah satu kartu yang dipegang sang istri.
"Ada cara kak?"tanya Devan yang belum menemukan ide sama sekali.
"Boro boro,buntu pikiranku,"keluh Zian yang ternyata sama buntu nya.
Ternyata tanpa mereka duga ,ayah mendengar semuanya. Ia malah tertawa terbahak-bahak melihat dua anak nya sengsara.
"Kalian ini, gitu saja kok repot. Tinggal kalian rayu, baik baikin terus puji puji, pasti juga bisa,"ayah berkata seolah olah itu hal yang mudah.
"Apa benar?perasaan mereka kalo marah susah amat deh yah,"Zian malah curhat dengan sang ayah.
"Iya benar, apalagi Naya, uuhh susah nya,"Devan ikut menambahi dengan lebih mendrama.
"Kalian ini,lembek,"ejek ayah.
"Bukanya ayah juga sama,ayah saja kalo bunda udah bilang a ya pasti langsung ikut a kok,"sindri Zian tetap sasaran dan bertepatan dengan bunda yang sudah berada di belakang ayah.
Dengan isengnya, bunda malah memberi kode agar Zian dan Devan diam. Bunda hanya ingin tau ayah akan menjawab apa.
"Siapa bilang,ayah tuh ya hanya gak mau ribut saja, ngapain ayah harus takut sama bunda, biasa -,"ucapan ayah terpotong oleh deheman di belakang nya.
"Hem jadi apa yang barusan aku dengar?"tanya bunda dengan suara halus tapi beracun.
*Mati aku...gawat ini, bisa gak dapat jatah aku malam ini,sialan anak anak kenapa gak kasih tau coba*ayang menggerutu di hati.
"Kenapa diam mas?"tanya bunda dengan senyum yang menurut ayah mematikan.
"Ah gak kok yank, ini lho anak anak lagi kena hukuman sama istri mereka, nah aku cuma kasih tau saja, kalo mereka harus nurut sama istri,"ayah menjelaskan dengan susah payah.
"Oh jadi harus nurut ya sama istri, gak boleh protes kan?Hem kalo gitu nanti mas tidur di sofa atau eh di kamar tamu saja ya,"bunda mengucapkan dengan lembut tapi sangat menakutkan.
Setelah mengatakan itu, bunda langsung berbalik dan berjalan memasuki kamarnya.
"Ya jangan donk yank, masak mas tidur di sofa,kan dingin,"ayah berkata dengan memelas dan mengejar bunda.
Sedangkan Devan dan Zian malah gantian tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.
"Katanya gak takut istri,eh tadi apa,"Zian berkata dengan puas dan masih dengan sisa tawanya.
"Bener kak, ayah ini bikin kita sakit perut saja,"Devan menambahi.
Setelah drama yang membuat kram perut,kini mereka sudah bersiap untuk pembalasan esok hari.
Pagi menjelang
Suasana kantor masih seperti biasanya. Devan dengan fokus mengerjakan apa yang sudah ada di meja nya.
Begitu juga dengan Zian yang berada di cafe.Dia dengan serius melihat semua laporan yang ada, sesekali dia juga akan pergi ke kantor untuk membantu sang ayah dan adik iparnya.
__ADS_1
Saat jam makan siang tiba, mereka mulai menjalankan rencananya. Devan sudah berada di ruangan Zian yang ada di cafe kembali ceria.
"Siap kak?"tanya Devan memastikan.
"Siap donk, ayo kita berangkat,"ajak Zian penuh semangat.
Keduanya berjalan bersisian, dan menghampiri meja Arka.
"Ka, ayo makan siang di restoran xxx, gue udah pesan tempat di sana."ajak Zian dengan santai dan biasa saja.
"Tumben, oke deh bentar ,gue rapikan meja,"Arka menyetujui begitu saja tanpa rasa curiga.
"Oke ,gue tunggu di bawah. Lo naik mobil gue saja, sekalian kita berangkat bareng, kebetulan Devan juga ada di sini,"Zian masih dengan pura pura biasa saja di depan Arka.
"Hem ya siap bos,"jawab Arka setengah berteriak karena Zian dan Devan sudah berjalan duluan.
"Kira kira berhasil gak kak?"tanya Devan memastikan lagi.
"Pasti berhasil, sudah kamu ikuti saja alurnya."jawab Zian dengan senyum tipis.
Selama perjalanan keluar cafe, banyak yang menyapa dan kagum terhadap dua laki laki itu. Tanpa mereka tau, laki laki yang kelihatannya kaya, tampan, perfek itu adalah laki laki miskin di tangan para istri nya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, mereka sampai di restoran yang Zian maksud.
Mereka bertiga memasuki ruang VVIP , Zian sengaja memilih itu, supaya lebih nyaman saja. Kini mereka makan dengan tenang, menu yang di pilih pun bukan sembarang. Sekali makan mereka memilih menu paling spesial dan paling mahal, total semua makanan itu berkisar antara tiga juta keatas belum tempat nya juga yang di hitung perjam.
Zian dengan sengaja menyewa tempat itu selama dua jam. Setelah selesai Zian pura pura ijin ke toilet. Sedangkan Devan dan Arka masih asik berbicara. Arka tidak curiga sama sekali.
Setelah sepuluh menit, Zian mengirim pesan agar Devan segera menyusul nya keluar. Zian sudah menunggu nya di parkiran.
"Oh ya, terus lo balik naik apa?"gak bareng sekalian,paling si Zian bentar lagi datang."tawar Arka yang masih belum paham.
"Dah gak usah kak, kelamaan. Nanti tolong bilangke sama kak Zian ya kak."Devan menolak dengan halus.
"Hem oke deh,hati hati ya,"Arka masih belum curiga. Ia hanya mengiyakan saja. Dan soal membayar memang biasanya Zian yang akan membayar nya.
"Oke kak,"Devan menjawab dengan sedikit berlari keluar ruangan.
Sedangkan Arka masih asik di ruangan sambil menunggu Zian kembali. Setelah lebih dari setengah jam Zian belum juga kembali, Arka mulai merasa tidak enak, ia segera telfon Zian dan sialnya Zian tidak mengangkat telfon dari dirinya.
Arka mulai was was, dia tentu paham berapa uang yang harus dia rogoh untuk membayar makan siang mereka kali ini. Ia masih berharap Zian sudah membayar nya.
"Mbak permisi, berapa tagihan untuk ruang VVIP no 2?"tanya Arka dengan was was.
"Oh sebentar mas,"jawab mbak kasirnya.
"Semua totalnya lima juta mas,"jawab mb kasir lagi.
"Sudah di bayar belum ya sama atasan saya?"tanya Arka lagi.
"Belum mas, dan tadi bos mas sudah bilang jika semua nya akan dibayar oleh asisten nya,"jelas mbak kasir dan sukses membuat Arka melongo.
"Dia bilang begitu mbak?lalu sekarang mereka dimana?"Arka mulai merasa jengkel.
"Sudah pulang mas, dua orang yang tadi datang bareng masnya,"jawaban mbak kasir langsung membuat kepala Arka pening, ia merasa sebentar lagi akan ada asap yang keluar jika tidak segera dia redam.
"Oh ya sudah, ini mbak,"Arka kemudian menyerah kartunya dan berusaha untuk bersabar .
__ADS_1
Setelah selesai, dia kembali uring uringan karena dia lupa jika dia tidak membawa mobil ke restoran itu karena ajakan Zian tadi.
"Sial, gue di kerjain merea. Awas ya kalian, gue bakal minta ganti rugi"Arka mengumpat dengan perasaan jengkel nya.
Sedangkan di lain tempat, dua orang laki laki ini tertawa terbahak bahak membayangkan apa yang akan Arka alami.
"Hahaha aku puas, salah siapa cari gara gara,"kelekar Zian dengan tawa yang kencang.
"Bener kak, duh jadi pengen lihat muka kak Arka yang lagi senewen,"tambah Devan yang tak kalah senangnya.
Mereka terus saja tertawa terbahak-bahak sampai di cafe kembali ceria. Mereka sengaja ingin menunggu Arka datang, dan melihat bagaimana wajah itu.
Saat mereka tengah asik ngobrol di ruangan Zian. Tiba tiba pintu terbuka dengan kasar dan langsung memperlihatkan wajah yang sudah sangat merah itu.
"Ganti gak uang gue, Lo itu bisa bisanya ngerjain gue kayak gini, gila Lo ya!"umpat Arka dengan menggebu-gebu bahkan sudah tidak dengan bahasa formal nya.
"Apaan, itu mah hanya hal kecil, salah siapa cara gara gara."jawab Zian santai.
"Gara gara apaan, gak usah ngadi ngadi deh Lo!"masih dengan nada marah.
"Dih dia nya gak nyadar ternyata kak,"kini Devan ikut menimpali.
"Maksud kalian apaan woi!"Arka masih belum ngeh juga.
"Siapa yang kemarin pasang foto aneh aneh di IG, terus dikasih tulisan aneh aneh juga?"tanya Zian dengan nada yang sedikit sewot.
Arka sejenak diam dan berfikir. Dia lupa dengan apa yang sudah dia lakukan hingga menyebabkan dua laki laki di depannya ini kismin .
"Ingat kan Lo sekarang,"sindir Zian dengan wajah tak kalah keselnya.
"Hah terus kenapa gue yang kena?"Arka masih belum paham juga.
"Ya gara gara kak Arka iseng, jadinya kita yang kena. Sekarang kalo kak Arka mau minta duit makan tadi ya udah minta sana sama para istri,"Devan menjawab dengan tak kalah sebal.
"Hah?jadi kalian sekarang miskin?"bukannya prihatin malah mengejek dengan tawa yang keras.
Sedangkan Devan dan Zian hanya bisa mendengus keras, tak lama mereka tersenyum misterius. Arka yang menyadari nya tiba tiba langsung meredam tawanya dan menjadi ketakutan.
"Ngapain kalian senyum senyum kayak gitu? jangan bilang kalian masih mau balas dendam lagi,"tanya Arka was was.
"Yap benar sekali, dan Lo yang harus tanggung jawab. Lo harus tanggung makan siang kita berdua selama satu bulan, tidak apa tapi apalagi tidak!"ucap Zian penuh dengan penekanan.
"Gila, ogah gue!"Arka membantah dengan cepat.
"Oke, Lo gak mau gak apa apa, gue tinggal telfon Clara saja kalo Lo udah bikin kita sengsara dan jan lupa, gue punya foto Lo waktu Lo di mintai tolong sama siswi di kampus kemarin"ancam Zian dengan wajah yang sangat puas.
"Si alan, oke oke gue tanggung jawab, asal Lo hapus foto itu!"Arka akhirnya menyerah.
Sedangkan Devan dan Zian tertawa senang melihat teman sekaligus asisten nya itu tidak bisa berkutik.
******®
Ah elah ternyata di sini pada jadi suami suami takut istri 🙄🤔
Dih duh... kasihan.Yuk bantu mereka dengan kasih hadiah sebanyak banyaknya biar mereka bisa beli jajan ,,😃😃
Maaf ye kayaknya ni NT lagi eror.
__ADS_1