
Happy reading yes...
****®
Hari berjalan sebagaimana mestinya. Para pasangan muda masih senantiasa menjadikan orang tua mereka sebagai panutan dalam berumahtangga.
Ayah Ivan dengan kehebatan dan kesetiaan cintanya kepada bunda Mila. Mereka tatap memelihara cinta itu meski mereka tidak tau akan di bawa cinta mereka nantinya.
Tapi siapa sangka, jika takdir begitu baiknya kepada ayah dan bunda, sehingga mereka bisa bersama meski ujian yang mereka hadapi tidaklah mudah. Banyak air mata yang telah tumpah, seakan menjadi saksi bisu perjalan cinta sejati itu.
Ada juga kisah daddy Yusuf dan mommy Vina, yang bertemu karena ketidak sengajaan. Mereka menjalani hubungan jarak jauh selama beberapa kali. Bahkan mommy Vina juga harus rela waktu dari daddy Yusuf di bagi untuk bunda Mila dan juga Kak Zian.
Sungguh perjalanan cinta yang sangat istimewa. Mommy yang teguh dengan rasa percaya kepada daddy Yusuf. Meski mommy tau antara daddy dan bunda Mila tidak ada hubungan darah. Namun mommy percaya jika daddy tidak akan pernah menduakan cinta mereka. Dan terbukti akhirnya mereka bisa bersama hingga saat ini.
Dan itu semua di jadikan pelajaran yang sangat berharga untuk pasangan muda seperti Zian dan Tia, ataupun Naya dan Devan. Mereka selalu percaya di saat suami mereka berada di luar jangkauan mereka. Seperti saat ini.
"Mas jadi berangkat besok sama kak Zian? " tanya Naya memastikan lagi.
"Iya sayang, kenapa sih? ada apa hem? sampai tanya terus? " tanya Devan merasa heran dengan sikap Naya.
"Ya kan selama kita menikah, baru kali ini kita LDR an lagi, setelah waktu itu, " keluh Naya dengan bibir mengerucut.
"Kenapa? kamu takut kangen sama mas ya? uh seneng nya, belum pergi saja udah ada yang ngangenin, " Devan malah menggoda Naya.
"Siapa juga yang kangen, GR aja kamu mas, " elak Naya sambil berjalan ke arah ruang ganti.
"Yakin gak kangen? dua hari lho nanti tidur sendiri? gak mau puas puasin sekarang? biar nanti rindu nya gak terlalu berat? " goda Devan lagi kali ini di disertai ke dua alisnya naik turun
"Gak tuh, " Naya menjawab dengan pura pura acuh, padahal dia sedang berdebar debar.
"Hem oke deh kalo gak ada yang kangen, aku tidur duluan saja lah." pancing Devan dengan usil dan segera naik ke tempat tidur dan langsung menarik selimut nya sebatas dada.
*Haish punya suami kok gak peka, di rayu lah, atau di muali duluan, ini malah beneran tidur, dasar suami gak ada akhlak* grutu Naya dalam hati.
__ADS_1
Dia teramat kesal dengan kelakuan Devan malam ini. Suaminya benar benar sedang mengajak perang seperti nya.
Dengan manyun, Naya berjalan ke kasur dan langsung merebahkan dirinya dengan sedikit kasar. Kemudian dia mengikuti Devan yang sudah tidur dengan nyaman.
Diam diam Devan mengulum senyum melihat tinggal Naya yang kelewat gengsi untuk mengakui jika dia bakalan rindu.
*Dasar wanita manja,untung aku cinta mati, kalo gak, pengen aku cubit itu pipi caby terus aku gigit, pasti kenyal kenyal empuk* batin Devan dengan terkikik sendiri.
Naya sudah berusaha untuk tidur, tapi ternyata dia tidak bisa, hanya memejamkan mata dengan tubuh gelisah. Perlahan tapi pasti Devan menarik Naya kedalam pelukan nya.
Meski ada drama penolakan karena masih ngambek, tapi akhirnya mau juga. Naya diam diam tersenyum karena sang suami mau berinisiatif memeluk dirinya.
"Kenapa gelisah? takut di tinggal ia? apa karena belum di peluk? " masih dengan usil Devan bertanya meski matanya pura pura terpejam.
"Gak, cuma belum bisa tidur saj, " masih dengan sejuta gengsi nya.
Cup
"Kenapa susah sekali bilang jika rindu, aku juga bakalan rindu yank, bahkan akan sangat merindukan mu, " kini posisi Devan sudah miring dengan kepala yang ia tumpukan ke tangannya. Menatap sang istri dengan tatapan hangat dan penuh cinta.
"Ssstt jangan nangis, mas hanya pergi dua hari lho. Gak tahunan kayak dulu. Ah kalo ingat dulu, mas jadi penasaran. Kamu dulu pasti juga sering begini ya? " tanya Devan mengenang masa lalu.
"Hem ya, dan aku alihkan sama setumpuk pekerjaan di kantor ayah. Kadang aku buat mukulin samsak di ruangan oalah raga. " jawab Naya ikut mengenang waktu perpisahan mereka.
"Sekarang kita sudah bersama, jadi jangan sedih lagi ya, ini juga dua hari saja. Dan seandainya mas bisa menolak pasti mas tolak. Tapi kan kasihan kak Zian jika dia pergi sendiri. Selain kita meninjau pembangunan di lokasi, kita juga harus memberi kan seminar di salah satu kampus yang ada di sana. " Devan menjelaskan agenda mereka.
"Iya aku paham, huh andai si gunung es sudah lulus pasti dia yang akan ikut, " lagi lagi Naya merasa kesal dengan keadaan.
"Sudah jangan marah marah. Lebih baik kita nabung rindu saja yuk, mumpung enak cuacanya, dingin dingin syahdu, " Devan berucap dan langsung tangannya mulai berpatroli kemana mana.
Sedangkan Naya menyambut nya dengan senang hati. Karena sejujurnya dia juga ingin tapi malu mengakui nya.
Kini kamar yang tadinya dingin menjadi sangat panas dan bergelora. Tak ada suara lain selain lenguhan dan desah*n yang saling bersahutan.
__ADS_1
Seakan lupa akan jam yang terus berputar, mereka masih terus mengulang dan mengulang kegiatan panas itu.
Peluh seakan tak di rasa. Yang ada hanya saling berbagi rasa yang tak dapat di artikan dengan kata apapun, hanya lewat desah*n yang saling bersahutan dan disertai geraman tertahan kala puncak nirwana sudah mereka teguk.
Hingga pukul 3 dini hari, kegiatan itu mereka akhiri. Dan dengan cepat pula kantuk menyerang tubuh mereka yang telah kelelahan.
"Mas bangun, kita kesiangan... " Naya membangunkan Devan dengan sangat heboh.
Pasalnya kini mereka baru bangun di jam 06.30 . Sedangkan pesawat sang suami akan berangkat pada pukul 07.30. Keduanya segera bangun dan bergegas untuk siap siap.
"Ini gara gara habis sholat tidur lagi, jadinya ya gini deh. Mana ada berkas yang belum aku cek lagi, gara gara si Ridho telat kirimnya. " keluh Devan yang kini mulai sibuk memakai pakaian nya.
Sedangkan Naya , mengecek ulang barang bawaan sang suami, takut ada yang ketinggalan.
"Sudah nanti di cek sambil jalan mas, jangan menggerutu gitu, jelek ah, " nasehat Naya yang berusaha tegar karena akan di tinggal kerja selama dua hari.
"Hem ya kamu benar sayang... uh mas bakalan rindu sama kamu dan Langit, " Devan mendekap erat tubuh Naya dari belakang.
"Kalo bisa beres cepat, segera pulang ya mas, kami juga pasti rindu sama mas, " pintar Naya dengan menyentuh tangan Devan yang melingkar di perut nya.
"Ntar kalo pulang cepat dapat apa? " tanya Devan penuh harap.
"Sesuatu yang bikin mas suka, " jawab Naya ambigu.
"Benaran? gak bakal bohong? " Devan masih memastikan.
"Hem, " jawab Naya dengan anggukan kepala nya. "Sudah ayo keluar dan segera sarapan. Biar gak telat, " ajak Naya.
"Siap cintaku" Devan dengan senang hati menggandeng tangan Naya.
Mereka berjalan keruangan makan dengan hati senang. Sedangkan Langit sejak tadi masih anteng bersama mbak yang asuh. Mungkin dia paham jika orang tuanya butuh ruang buat menabung rindu.
*****®
__ADS_1
Hay jangan lupa dukungan nya. Caranya mudah lho, kalian bisa kasih jempol kalian, terus ketik komentar kalian, dan kasih hadiah yang buanyak hehehe. Jika berkenan kasih Vote juga boleh lho.
Terimakasih semua 🤗🤗❤😍