
Happy reading yes
*****ยฎ
Suasana malam di kota Paris... seorang gadis yang sudah menjadi rutinitas nya setiap malam akan selalu duduk dan memandang menara dengan diam hingga dia puas.
"Kami duduk di sana seperti biasa ya nak.... " pamit sang bunda karena itu yang selalu di pinta Naya, dia hanya ingin duduk termenung sendiri, sedangkan kedua orang tuanya akan mengawasi nya saja.
"Iya bun, maaf merepotkan" jawab Naya seperti biasa, dia selalu merasa jadi beban untuk keluarga nya.
"Ssssttt kamu ini ngomong apa to nak, kamu mau lihat bunda sedih lagi jika selalu bilang begitu" tegur sang ayah.
"Maaf bun, maafin Naya.... " Naya berucap dengan sendu.
"Jangan selalu bilang begitu ya nak, kamu anak kami dan itu sudah kewajiban kami ada di sini bersama mu, kamu tidak pernah merepotkan kami" bunda menjawab tak kalah sendu bahkan sudah menitik kan air mata.
"Bunda jangan nangis lagi, Naya minta maaf, Naya janji tidak akan berkata seperti itu lagi" ungkap Naya dengan memeluk sang bunda.
"Sudah sudah sekarang ayo kita duduk di sana,, biarkan Naya menikmati duduk disini" ajak ayah pada bunda agar kesedihan ini tidak berlarut larut.
Sudah hampir satu jam lamanya Naya duduk termenung, dan hanya sesekali helaan nafas berat seolah menjadi temannya.
"Kak Dev aku sangat merindukanmu, sudah hampir tiga bulan aku disini dan masih sama terus berharap kamu tau aku dimana, bodoh ya aku, pergi tanpa pamit dan tanpa kasih tau kemana, lalu sekarang aku terus berharap kamu menemukan ku dan ada di sini menemani gadis cacat seperti ku, apa aku jahat ya? apa aku gak tau diri? jika masih mengharapkan cintamu? Kak.. apa kamu ingat dengan ucapan ku waktu itu? jika kamu ingat pasti kamu tau aku dimana, aku aku merindukan mu kak, rasanya rindu ini hampir membunuh ku, aku merasa seperti menyimpan bom rindu yang siap meledak kapan saja, kak.... Naya rindu"Naya terus saja berbicara seperti itu setiap dia berada di sini.
"Jika rindu kenapa pergi gadis nakal, dasar bodoh" kata Devan dengan menyampirkan switer di bahu naya.
Ya tanpa Naya sadari sejak tadi Devan sudah berdiri di belakang nya dan mendengarkan semua ucapan Naya.
Deg deg deg
"Kak Devan..... " lirih Naya dengan melihat kebelakang dan betapa kagetnya dia saat apa yang dia lihat adalah sosok nyata yang dia rindukan.
__ADS_1
"Iya ini aku, kenapa mau pergi lagi? mau kabur lagi, hem? " tanya Devan sambil berjalan ke depan dan berjongkok di depan Naya.
"Kak Devan tau Naya di sini dari siapa? " tanya Naya terbata dengan berusaha menyimpan air mata yang akan tumpah kapan saja.
Tuk
"Auhhh" ringis Naya karena di sentil keningnya oleh Devan.
"Dasar gadis bodoh.... kenapa siksa diri sendiri begini" kata Devan dan dengan sekali tarikan dia menarik tubuh Naya kedalam dekapannya.
Lalu detik berikutnya tangis yang sejak tadi Naya tahan tumpah juga, begitu juga dengan Devan, dia sendiri tak kuasa menahan air matanya mendengar tangisan pilu kekasihnya.
"Kenapa lari hem... apa kamu pikir aku akan meninggalkan mu begitu tau kamu sakit? kamu bukan gadis cacat, kamu bukan gadis lah,bahkan kamu juga tidak merepotkan siapapun sayang... kenapa harus pergi sejauh ini, kenapa kamu hukum aku dengan menjauh seperti ini, maaf maaf maafkan aku yang tak bisa menjagamu" ungkap Devan dengan suara yang serak karena menahan tangis.
"Maafkan Naya kak, Naya hanya takut-" ucapan Naya dipotong Devan.
"Ssssttt jangan pernah pergi lagi, karena kemana pun kamu pergi aku akan tetap menemukan mu, jangan siksa diri sendiri lagi, bagiku kamu tetap sama Naya ku yang dulu, Naya yang baik, Naya yang manja, Naya yang cerewet, Naya yang manis dan Naya yang selalu aku cintai dulu, esok, lusa hingga nanti aku menutup mata.... .. "Devan berucap dengan senyuman dan menggenggam tangan Naya setelah pelukan tadi terurai.
" Kak... "Naya tidak mampu melanjutkan kata katanya, dia kembali memeluk Devan bahkan kini pelukan itu terasa kencang seakan takut kehilangan.
"Eh... itu, itu Naya cuma -" lagi lagi ucapan nya di sela Devan.
"Cuma rindu ya, rindu yang menggunung " goda Devan dengan jahilnya.
"Kak Dev... " Naya sangat malu.
"Nay... " Panggil Devan dengan menggenggam erat kedua tangan Naya.
"I iya kak" Naya merasa gugup.
"Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri, jika aku berhasil menemukan mu maka aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi dan di sini di tempat indah ini, aku ingin mengatakan apa kamu bersedia hidup dengan laki laki yang tak punya apa apa ini? bersedia mendukung ku dengan segenap cinta dan doa mu agar aku berhasil nanti? bersedia menjadi tempat ku untuk berkeluh kesah? bersedia menjadi rumah tempat ku pulang? Kanaya Maheswari Angkasa maukah kau menerima ku seorang laki laki biasa ini? "tanya Devan dengan mengeluarkan cincin yang memang sudah dia persiaka sejak dia pulang dari kota P.
__ADS_1
Sedangkan Naya sangat kaget sekaligus terharu dengan lamaran dadakan ini, dia tidak menyangka akan pada tahap ini setelah kejadian itu.
Sebelum Naya menjawab dia menoleh ke arah dimana kedua orang tuanya berada dan di sana Naya bisa melihat jika kedua orang tuanya mengangguk kepala tanda setuju.
"Aku aku bersedia kak.... " jawab Naya dengan derai air mata yang sudah dapat dia bendung lagi, kali ini bukan tangis kesedihan melainkan tangis bahagia.
Dengan cepat Devan memakai cincin itu ke jari manis Naya dan langsung memeluk nya lagi. Kini keduanya sama sama menangis bahagia, Devan bersyukur akhirnya bisa menemukan belahan jiwanya dan akhirnya bisa melamar nya meski belum lamaran resmi.
"Hem hem... main pelukan saja dari tadi, dasar anak muda" cibir sang ayah. Dan Devan dengan segera melepaskan pelukan itu dengan kikuk.
"Maaf om.... -" belum selesai sudah disambar oleh ayah.
"Sembarangan om om gundul mu, sudah berani lamar anakku tanpa ijin sekarang malah masih manggil om, mau tak getok palamu, panggil aku ayah" ayah malah mengajak bercanda.
"Ah maaf om eh yah" Devan menjawab dengan nada malu sambil tersenyum canggung.
"Terimakasih nak.... akhirnya cintamu menuntunmu hingga kesini, kami sangat bahagia melihat betapa kerasnya usaha mu, jagalah anakku baik baik, bimbing dia jika diaasih banyak kekurangan, dan jangan pernah sakiti dia karena aku sebagai bundanya tidak pernah menyakiti dia baik secara lisan maupun perbuatan" ungkapan bunda benar-benar tulus.
"Iya bun... Devan tidak bisa menjanjikan untuk tidak membuat Naya menangis, namun Devan akan selalu berusaha untuk tidak membuat nya menangis, dan jika itu terjadi makan ingat kan Devan untuk hal itu bun" Devan menjawab dengan yakin.
"Bunda bangga padamu, berbahagialah kalian setelah ini" doa bunda dan ingin memeluk calon menantu nya namun dengan cepat sang suami menghalangi nya.
"Eistttt no no enak saja, bunda hanya milik ayah titik tidak ada koma oke" ayah malah dengan posesif langsung memeluk bunda.
Akhirnya malam itu hanya ada tangis bahagia yang sudah saatnya Naya rasakan.
******ยฎ
Eh eh jangan senang dulu, kan ujian cinta baru saja mau di mulai.
Hehehehe kasih berat apa ringan ya ๐คญ
__ADS_1
Oke jangan lupa dukungannya...
Kabur..... ๐โโ๏ธ๐โโ๏ธ๐โโ๏ธdari pada di timpuk sama pembaca ๐คญ๐ค