Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
84. S. Part 14


__ADS_3

Happy reading yess


*****®


Tanpa terasa waktu keberangkatan Langit sudah tiba. Langit sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Bahkan sang bunda yang setiap hari mengecek semuanya hanya untuk memastikan ada yang kurang atau tidak.


Bukan hal aneh buat Langit, yang setiap malam akan melihat sang bunda sudah berada di kamar nya, hanya untuk memastikan barang bawaan Langit tidak ada yang tertinggal.


"Bunda, Hay Bun." Panggil Langit dengan menarik pelan tangan sang Bunda dan menuntun nya duduk di sofa yang ada di kamar nya.


"Ada apa bang?" tanya Naya namun tidak mau melihat ke arah Langit.


"Bunda, Langit hanya pergi kuliah lho bukan pergi perang, jangan sedih oke," Langit menggenggam tangan sang bunda dan meremat nya pelan. Langit tau jika sang bunda masih belum bisa merelakan dia pergi.


"Bunda tau, siapa yang bilang kamu mau perang," Naya masih saja berusaha mengalihkan pandangannya.


"Bun, Langit janji, Lang akan dengan cepat menyelesaikan semua di sana. Langit janji hanya butuh waktu tiga tahun saja, setelah nya akan langsung pulang. Lagipun di sana Lang kan sama kak Aby Bun, jadi bunda jangan cemas oke, toh bunda bisa ngunjungin Langit kapan saja kan?" Langit mencoba memberi pengertian dan ketenangan untuk sang bunda.


"Bunda, bunda hanya belum terbiasa bang, baru kali ini Abang akan berada jauh dari bunda dan ayah. Sudah itu lama juga," keluh bunda dengan idaman yang mulai lolos dari bibir nya.


Langit yang mengerti kegundahan sang bunda langsung memeluknya dan berusaha menenangkan bundanya. Dengan erat dia dekap tubuh wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan dengan seluruh cinta dan kasihnya.


Di usapnya punggung yang masih bergetar karena tangis yang belum juga reda. Hanya itu yang bisa Langit lakukan, sedangkan sang ayah yang sejak tadi bersandar di dinding dekat pintu hanya diam memperhatikan.

__ADS_1


Devan paham, betapa gak relanya sang istri yang harus berjauhan dengan sang anak. Karena memang benar apa yang Naya ucapkan tadi, jika mereka tidak pernah berpisah selama itu, dan baru kali ini.


"Sudah sayang, lepas kepergian anak kita untuk menuntut ilmu dengan perasaan bahagia, agar dia juga merasa ringan dalam melangkah di sana nanti. Jangan terus di tangisi begini, aku janji kapanpun kamu ingin kesana maka akan aku bawa kesana." Janji Devan kepada sang istri untuk menenangkan hatinya.


"Kamu benar kan mas? gak bohong kan? gak coba ngibulin aku kan? biar aku gak nangis?" tanya Naya dengan pandangan menyelidik.


"CK, masih saja. Kamu ini kayak gak kenal sama aku saja, apa aku pernah bohong?" tanya Devan yang kini ikut duduk di sebelah sang istri.


"Hehehehe, gak pernah," Naya menjawab dengan cengiran khas.


"Bunda ini ada ada saja, lagian kalo ayah gak bisa kan bunda bisa ajak budhe Tia sama pakde Zian bin, kalo gak ya minta akung sama uti kan bisa," Langit yang menyahut karena merasa gemas dengan sang bunda.


"Ah anak pintar, kamu benar bang," ucap sang bunda dengan kembali memeluk Langit.


"Bunda nanti malam mau tidur sama Langit, ayah tidur sendiri," Bunda berkata dengan santai sedangkan Devan langsung melongo kaget.


"No no, gak bisa, ayah gimana donk, mana bisa tidur!" protes Devan dengan segera.


"Terserah lah, pokoknya bunda mau tidur sini, ayah serah lah," masih kekeh dengan keinginannya.


"Bang, bantuin ayah kenapa sih," sang ayah malah berharap kepada Langit.


"Gak ah, lagian Langit juga pengen bisa tidur sama bunda, sebelum Langit jauh dari bunda." bukanya menolong, Langit malah mendukung sang ibu.

__ADS_1


"CK, dah lah, aku mau keluar saja, mau main," pancing Devan dan pura pura jalan keluar kamar sang anak.


"Eh, gak bisa, ayah keluar gak akan dapat pintu," ancam Naya yang langsung berjalan menyusul sang suami.


"Tak apa, aku tidur di rumah kak Zian atau rumah ayah saja," masih tidak mau kalah, namun dengan senyuman yang dia sembunyikan.


"No! berhenti dan segera masuk kamar atau gak ada jatah selama sebulan!" gantian Naya yang mengancam dan membalikkan keadaan.


"What!" ucap Devan dengan keras dan langsung berbalik menyusul Naya yang hampir sampai di kamar mereka.


Dengan langkah lebar setengah berlari, Devan menyusul dan saat sudah dekat, ia langsung saja menggendong Naya tanpa aba aba, sehingga membuat Naya kaget.


"Kya.... mas!" jerit Naya malah di sambut gelak tawa oleh Devan.


Akhirnya kamar itu tertutup rapat dan entah lah apa yang terjadi, sedangkan Langit di dalam kamar hanya menggeleng melihat tingkah kedua orang tuanya. Tak berbeda dengan si kembar yang juga mendengar nya, mereka hanya bisa heran dan bingung namun juga gemas melihat semua itu.


******®


Ngapain sih yah Bun,


Gak lihat sikon banget deh wkwkwkwk.


Key terimakasih untuk dukungan kalian.

__ADS_1


__ADS_2