
Happy reading yess...
******®
Hari berganti, kini Bulan sudah terlihat lebih baik. Bahkan, dia sudah bisa menanggapi segala ucapan Langit, pagi ini. Sedangkan Langit, diam diam mengulum senyum, melihat sang pujaan hati sudah baik baik saja dan terlihat lebih bawel sekarang.
"Apalagi sih pak, ini tuh udah benar ya, jangan ngadi ngadi dong,pak," sungut Bulan, saat laporan nya di penuhi corat coret dari Langit.
"Apanya yang benar, laporan macam apa, di setiap baris selalu terselip kata benci!" ucap datar Langit.
"Hah!" kaget Bulan.
"Apa, hah hah, kamu pikir saya bercanda, coba lihat baik baik!" geram Langit, kali ini dengan tatapan intimidasi.
Bulan, yang masih belum percaya, langsung melihatnya dengan teliti, dan ternyata benar. Ada beberapa kata benci dan menyebalkan di sana. Dengan susah payah Bulan menelan salivanya. Dia bahkan tidak berani melihat ke arah Langit.
"Bagiamana? sudah paham?" Langit, bertanya dengan duduk bersandar dan kedua tangan yang di lipat di dada.
"Maaf pak, akan segera saya perbaiki," cicit Bulan, yang masih menunduk.
"Kalo sedang berbicara itu, lihat wajah yang di ajak berbicara, jangan menunduk saja," Langit, begitu gemas melihat sikap Bulan seperti ini.
Dengan perlahan, dia angkat kepala nya dan mulai melihat, di depan sana, sang bos yang terlihat menyeringai menatap dirinya. Bulan semakin merasa kikuk dengan itu.
"Sial, pasti aku kena SP ini, alamak anakmu oleng Mak, huhuhu," batin Bulan, yang sedikit mendramatisir.
__ADS_1
"Baiklah, sebaiknya,- " belum sempat Langit meneruskan ucapannya, Bulan dengan segera memotong nya.
"Maaf pak Lang, ah maksudnya Pak Langit, saya janji akan saya perbaiki dengan benar dan tidak ada kesalahan lagi, tapi tolong jangan kasih saya Sp ya pak," mohon Bulan, dengan kedua tangan terkatup di depan dada, tak lupa wajah melas dengan segala kesungguhan.
Sedangkan Langit, dia tertegun dengan ucapan Bulan. Langit, benar benar heran kenapa bisa dia berfikir seperti itu, padahal tidak ada Nita sedikit pun untuk membernya SP seperti yang dia katakan. Dalam hati, Langit terkikik geli, melihat pemandangan di depannya, sungguh menggemaskan pikirnya.
"Hem, maksud kamu apa? kamu minta dapat SP?" tanya Langit, menggoda.
"Jangan pak," mohon Bulan.
"Makanya, kalo ada orang berbicara itu di dengar kan, bukan malah di potong," jawab Langit, dengan wajah yang mulai datar lagi.
"Lalu pak?" Bulan masih belum paham.
"Saya hanya mau mengajak kamu keluar sebentar, jadi tinggalkan berkas itu di meja mu!" titah Langit, dan bukan lagi kalimat ajakan.
"Lagi lagi, gue di tunggal," decak Langit kesal, saat dia melihat Bulan yang kembali meninggalkan dirinya sendiri.
Akhirnya, setelah drama yang membuatnya takut, kini berangsur hatinya mulai nyaman. Dia bahkan mulai bisa melupakan kejadian yang menimpanya satu Minggu yang lalu. Di sini, tempat yang begitu indah, sejuk meski sedikit panas tapi mampu membuat pikirannya berangsur pulih begitu juga dengan hatinya.
"Apa kamu suka?" tanya Langit, saat mereka kini duduk bersisian di tepi pantai.
"Ya pak,eh kak. Pikiran ku, mulai membaik dan begitu juga dengan hati ku." jawab Bulan, yang mulai menggunakan bahasa non formal.
"Baguslah, setidaknya tidak akan ada kata yang membuat saya sakit mata di laporan nanti," sindir Langit, namun dengan senyuman yang begitu tampan.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf pak, setelah ini, aku pastikan akan baik baik saja," janji Bulan dengan kesungguhan.
"Itu yang saya inginkan. Semangat, laki laki bukan dia saja, masih banyak yang lainnya," ucap Langit dengan maksud lain.
"Contohnya aku," batin Langit.
Belum saatnya, dia mengatakan semuanya. Di saat Bulan, sedang menyembuhkan lukanya, yang perlu Langit lakukan adalah selalu menjaga nya agar selalu baik baik saja, dan tak akan terlepas lagi. Menjaga sang pujaan dari segala rasa sakit yang tidak pantas dia dapatkan lagi. Sudah cukup sekali dia kecolongan, Langit tidak ingin kejadian lagi.
"Terimakasih kak, sudah bersedia mengajak ku ketempat seperti ini," ucap Bulan, dengan binar mata yang tak lagi kosong.
"Sama sama, berjanjilah untuk selalu bahagia, karena saya tidak suka melihat mata ini meredup," ucap Langit, dengan mengusap kepala Bulan, dengan pelan, tak lupa tatapan hangat yang jarang dia perlihatkan kini terlihat jelas di mata Bulan.
Bulan, yang mendapatkan perlakuan seperti itu menjadi salah tingkah sendiri, dalam hati, dia begitu kaget dengan sikap hangat yang di tunjukkan Langit padanya. Selamat ini, yang dia lihat adalah sikap dingin, ada juga usilnya jika berada di rumah. Tapi ini apa? sikapnya berbeda lagi.
"Oh Tuhan, apakah dia bunglon? kenapa sikapnya bisa berubah-ubah seperti ini, jika seperti ini terus sikap nya, bisa bisa aku oleng ke dia," batin Bulan yang masih terpaku.
"Hai, ayo kita kesana, di sini sudah mulai panas," ajak Langit, yang langsung menggandeng tangan Bulan, tanpa persetujuan yang punya.
Sedangkan Bulan, dia masih saja terpaku, apalagi sekarang tangan hangat itu menggenggam nya erat, seakan enggan untuk melepaskannya. Dan Langit, dia terlihat biasa saja, karena ini memang bagian dari rencananya untuk mulai memberikan perhatian kepada gadisnya.
****®
Sejak kapan bang? dan bilang gadisnya saja🙄 ah elah bisa saja kau kulkas.
Hahahahaha siap part menegangkan setelah ini?
__ADS_1
Atau masih mau part bucin nya Langit, tapi belum ada balasan? wkwkwkwk.
Ah pokoknya aku lope loope kalian 🥰❤️😘