
Happy reading yess.
*****®
Waktu berjalan begitu cepat, mentari berganti rembulan dengan semestinya. Kebahagiaan pasangan pengantin baru sangat terlihat. Senyum indah yang selalu menghiasi wajah mereka, menular kepada setiap orang yang mereka jumpai di sana.
Devan benar benar mewujudkan arti dari honeymoon yang sesungguhnya. Ia hanya mengajak Naya keluar kamar untuk sekedar makan dan juga periksa kesehatan.
Pelan tapi pasti, kesehatan Naya mulai menunjukkan tanda yang cukup signifikan. Ia sudah mulai bisa berjalan dengan tegak tanpa bantuan tongkat, meski masih sedikit terasa ngilu dan tertatih.
Kini sudah waktunya mereka meninggalkan Negara yang menyimpan begitu banyak cerita perjalanan mereka. Negara yang akan mereka kunjungi lagi kelak bersama anak anak mereka.
"Sudah selesai mengepak semua barang nya sayang?" tanya Devan dengan lembut dan memeluk Naya dari belakang.
"Sudah mas, semua sudah rapi. Sekarang saatnya kita istirahat, jika tidak esok akan ketinggalan pesawat. " ajak Naya kepada suaminya, namun di balas dengan seringai misterius nya.
"Ketinggalan ya tinggal beli lagi, kenapa mesti susah sih yank, " gemas Devan dengan pemikiran polos istri nya itu.
"Aku tau, dan aku paham apa yang ada di pikiran mu mas. Dasar mes*m kamu ini, " setelah mengatakan itu Naya berjalan menuju ranjang mereka.
"Yank ayolah, kamu gak kasihan sama tongkat aku? ini udah minta di ayunkan lho yank, yank, ya pliss? " Devan meminta dengan wajah memelas dan merengek seperti anak kecil.
"Sekali tidak ya tidak. Tidur oke, tidak ada kegiatan lain. " putus Naya final dan membuat bahu Devan merosot lemas, sedangkan Naya tersenyum lucu melihat wajah suaminya mendadak tak bersemangat.
"Tidur mas,. " lanjut Naya saat Devan masih saja berdiri di samping tempat tidur.
Dengan pasrah akhirnya Devan mengikuti perintah Naya. Diam diam Naya mengulum bibirnya menahan tawa yang hampir saja meledak.
Devan mulai memejamkan mata dengan wajah yang masih menahan kesal karena permintaan nya tidak di turuti. Dan Naya sangat menikmati momen itu. Bagianya jarang jarang dia bisa mengerjai suaminya.
Perlahan namun pasti, Naya mulai meringsek mendekat dan. memeluk Devan dengan erat. Sedangkan tangannya bergerak gerak di punggung Devan yang mulai masuk ke dalam kaos yang di kenakan Devan.
Devan merasa gemas, na*s*nya seakan di buat main main oleh istri nya.
"Tidur yank,. bukannya kamu tadi bilang harus tidur? " Devan berbicara dengan nada gemas namun juga serak. Sekuat tenaga dia menahan hasrat nya, tapi malah Naya menggoda nya.
"Ini mau tidur mas, kan biasanya juga gini kalo tidur, " Naya masih saja melanjutkan keisengan yang dia buat.
__ADS_1
"Tapi tangan kamu jangan gerak begitu yank, aku nanti kelepasan, " Devan semakin dibuat gila oleh sentuhan istri nya, ditambah lagi sekarang bibirnya yang terus saja mengecup dada Devan. Meski terhalang kaos tapi sensasi nya masih bisa Devan rasakan.
"Tangan aku kenapa? aku kan gak ngapa ngapain, " masih saja Naya menggoda Devan. Ia hanya ingin tahu sekuat apa pertahanan Devan.
Devan yang sudah tidak tahan akhirnya dengan sekali gerakan, ia kungkung Naya di bawahnya. Tatapan Devan sudah sarah akan gai*ah yang menggebu.
"Kenapa kau malah menggodaku? bukankah kau tadi menolak dan ingin tidur?" Devan bertanya dengan nada yang semakin berat.
"Karena aku menginginkan mu, aku hanya ingin tau, sekuat apa kamu menahan godaanku, " aku Naya pada akhirnya dan dengan tangan yang sudah ia kalungkan di leher Devan.
Tanpa menunggu lama, Devan segera melu*at bibir yang sedari tadi menggoda nya. Ciuman itu semakin menuntut dan dengan usilnya Naya mendorong Devan hingga kini Devan berbaring do samping nya.
Belum sempat Devan protes, dirinya dibuat tertegun dengan aksi nakal istri nya. Naya dengan gerakan eksotis nya, melepas satu persatu baju yang melekat di tubuh nya.
Kini hanya menyisakan penutup bola bekel dan juga penutup rawa indah nya. Setelah itu dia kini berada di atas tubuh Devan dan dengan perlahan ia buka baju Devan secara asal.
Devan mengerang, melihat kelakuan istri nya, ia sedikit heran dari mana istri nya belajar itu semua. Tak ingin ambil pusing Devan kini menikmati setiap sentuhan yang Naya berikan. Benar benar di luar dugaan. Naya mulai menurunkan tubuh polo*nya dan menancapkan tongkat Devan ke dalam rawa miliknya.
"Acsh, " de*ah Naya dan Devan bersama sama.
"Kamu luar biasa sayang, " puji Devan dengan penuh cinta. Tatapan Devan tak pernah putus melihat Naya yang kini bergerak erot*s di atas tubuh nya.
"Ach , " dan aku akan segera gila karena ulah mu. " rancau Devan yang hanya bisa menikmati saja tanpa bisa menyentuh Naya sama sekali. Karena Naya tidak mengijinkan nya atau permainan berakhir jika Devan melanggar.
"Maka aku akan mewujudkan nya malam ini, " balas Naya dengan nafas mulai menderu dan dengan tempo yang semakin cepat, di saat dirinya merasa pelepasan akan segera menggulung nya.
Tak mau kalah dengan Naya, Devan bergerak dari bawah dengan semakin cepat. Menyusul Naya yang sudah mulai lemas di atas nya.
"Boleh aku ambil alih? " tanya Devan dengan tidak sabaran. Naya hanya bisa mengangguk sebagai jawban. Ia masih menikmati apa yang baru saja ia rasakan, sungguh kali ini rasanya berbeda, meski kakinya masih sedikit sakit tapi semua itu terkalahkan saat melihat wajah pasrah suaminya.
Dengan segera Devan membalikkan posisi mereka. Kini saatnya dia ambil alih dan akan menghukum istri nakalnya yang sudah berhasil mengerjai dirinya.
"Saatnya bermain yang sesungguhnya sayang, dan saatnya kamu menerima hukuman mu " rancau Devan yang mulai bergerak liar dan tanpa irama di atas Naya.
Eraman dan desa*an saling bersahutan, hingga titik di mana Naya akan meledak untuk kedua kalinya dan kini Devan juga akan menyusul nya.
Lenguh*an panjang keduanya menjadi pertanda jika mereka sudah sampai pada titik tergila dalam permainan mereka.
__ADS_1
Setelah di rasa cukup, Devan segera mencabut tongkat nya dan berbaring di samping Naya.
"Kamu kok jadi se nakal ini sih yank, belajar dari siapa? " tanya Devan heran meski dia sangat menyukai nya.
"Apa harus di bahas ya mas" Naya menjawab dengan nafas yang masih menderu.
"Hem ya. " jawab Devan.
"Aku belajar dari tante Adila dan juga Kak Allesya ," jawab Naya dengan senyum tertahan.
"Siapa mereka? teman kamu? kok aku baru tahu,? " Devan sangat heran pasal nya dia tidak kenal nama nama itu.
"Ck! , dasar pikun. Kita kan pernah di kenalkan sama mereka mas, itu lho istri nya pak Aditya dan juga istrinya kak Sean, yang anaknya dari emak Heni dan mak Nofi!" Naya menjelaskan dengan gemas.
"Oh mereka. Pasangan yang satu pasangan absurd yang satu pasangan bucin parah? " Devan mencoba memastikan.
"Hem ya, " Naya menjawab dengan gumaman karena dia mulai mengantuk.
"Eits no tidur dulu, saatnya ronde kedua hukuman mu belum selesai sayang, " cegah Devan saat melihat istrinya mulai ingin tidur.
Tanpa menunggu lama, dan belum sempat Naya protes, Devan sudah melakukan aksinya. Kegiatan itu terus berlanjut hingga dini hari.
*Alamat kesiangan deh gerutunya emakmu ini.
*Hahahaha salah siapa ngasih beginian pas malam jum'at begini* ledek Devan.
*Udah ah, aku mau cari paksu ajalah*emaknya kepengen 😅🙄
*Hahaha cus mak* Naya ikut meledek.
*****®*
Hay hay jangan lupa dukungan nya oke...
Bagikan juga ke teman kalian, serta tap love biar tahu terus update tan dari author receh ini.
Salam. sayang dan selamat malam...
__ADS_1
😅😅😅🤭🤗