Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
Pengumuman


__ADS_3

Spoiler bab 1.


"Ampun mas, ampun. Tolong jangan siksa aku lagi, aku salah apa mas." Suara Amel terdengar menyayat namun hal itu seakan tidak di dengar sama sekali oleh laki laki jahat yang sedang menyiksanya.


"Ampun, sudah mas, tolong kasihani Amel, ampun!" teriak Amel yang langsung bangung dari tidurnya dan sangat ketakutan.


Amel menatap sekeliling dan dia masih saja merasa takut, dia begitu takut akan kejadian yang barusan ada di dalam mimpinya. Meski kejadian itu sudah terjadi beberapa bulan yang lalu, tapi kenyataannya kejadian itu sangat membekas di ingatan seorang wanita lemah seperti dirinya.


Ceklek


Saat pintu terbuka, Amel semakin terlihat ketakutan, dia memeluk kakinya sendiri dengan gemetar dan keringat yang masih membanjiri wajah ayunya.


"Kamu kenapa sayang? Mimpi buruk lagi? tenanglah ada mamah di sini, kamu aman di sini," wanita paruh baya yang di panggil mamah itu langsung memeluk tubuh gemetar nya. Sang mamah terus saja membisikkan kalimat penenang agar dirinya bisa lebih tenang dan nyaman.


"Sekarang tidur lagi ya, mamah ada di sini. Kamu aman sayang jangan takut lagi, tidur lagi ya," ajak mamah dengan lembut dan mengusap punggung anak angkatnya dengan sayang.


"Iya mah," jawab Amel dengan suara yang masih saja bergetar karena takut.


Lambat laun, Amel mulai terlelap kembali. Wajah itu mulai terlihat tenang dan damai. Mamah Vani yang melihatnya hanya bisa menitik kan air mata, dia teramat sedih melihat keadaan anak angkatnya. Setelah mamah memastikan Amel benar benar terlelap, dia lekas keluar kamar dengan menghela nafasnya kasar.


"Bagaimana, Mah? Apa dia sudah tenang? Apa dia masih sama saja?" Aksa sangat khawatir, hanya saja dia gak bisa masuk ke dalam kamar Amel. Dia takut jika Amel melihat dirinya, maka Amel, akan semakin histeris.


"Kita harus bawa dia ke dokter untuk mengatasi rasa trauma nya. Mamah gak tega lihat dia terus seperti itu!" Mamah merasa sangat marah melihat putri dari orang yang pernah menolongnya menjadi seperti itu.


"Baik Mah, nanti Aksa, akan cari dokter terbaik!" Aksa menjawab dengan tegas dan sorot matanya penuh luka.


"Jangan lupa hukum laki laki itu seberat beratnya, Mamah tidak akan pernah memaafkannya, kalo bisa buat dia selamanya mendekam di sana, begitu juga dengan Ibunya!" titah sang mamah yang tidak akan bisa di bantah jika sudah terlanjur membenci seseorang.


"Mamah tenang saja, Aksa tidak akan melepaskan laki laki brengsek itu begitu saja!" Aksa menjawab tak kalah emosi.


Setelah pembicaraan singkat itu, sang mamah kembali ke kamarnya. Sedangkan Aksa, dia memilih memandang wajah lugu nan cantik itu dengan perasaan campur aduk. Tatapannya terkadang lembut penuh perasaan, tapi di saat dia mengingat betapa tersiksanya wanita itu, tangan Aksa, langsung mengepal sempurna. Tersirat marah yang bahkan sangat mengerikan bagi siapa saja yang melihatnya.


"Kau akan membayar semua penderitaan yang sudah Amel, alami! Saya pastikan kau akan membusuk di penjara!" batin Aksa penuh emosi.


"Maafkan aku, Mel. Aku terlambat menemukan mu." lirih Aksa, memandang sendu wajah wanita yang sangat dia sayangi.

__ADS_1


Setelah puas memandangi wajah wanita spesial dalam hatinya. Aksa langsung keluar dengan sangat hati hati, agar tidak membuat Amel terbangun. Aksa berjalan tergesa gesa menuju kamarnya, dia sudah tidak sabar untuk membuat perhitungan dengan laki laki brengsek beserta ibunya.


"Hallo Ben, Lo urus secepatnya sidang laki laki brengsek dan ibunya itu, pastikan mereka berdua akan membusuk di penjara!" Aksa memerintah sang asisten sekaligus sahabatnya.


Terbayang apa yang Aksa ingat di masa ia menemukan Amel dalam keadaan yang miris. Ia begitu takut kehilangan. Aksa merasa menjadi laki laki yang lemah melihat keadaan Amel saat itu.


Aksa mengingat kejadian saat dirinya menemukan Amel.


Dua bulan yang lalu.


Aksa baru saja akan pulang dari perusahaan. Ia melihat banyak orang yang berkerumun. Aksa yang pada dasarnya memiliki sifat yang sangat peduli kepada sesama apalagi mereka sedang kesusahan, akhirnya dia menghentikan mobilnya. Aksa langsung turun dan mencoba bertanya.


"Permisi Bu, ada apa ini? Kenapa ramai sekali?" Aksa sangat penasaran apalagi saat dia mendengar suara seperti rintihan.


"Itu nak, ada wanita yang sepertinya sedang pendarahan, kasihan." jawab salah satu dari ibu ibu itu.


Aksa yang penasaran, akhirnya menerobos masuk ke dalam kerumunan ibu ibu, dan betapa kagetnya dirinya saat melihat sosok wanita muda yang sedang menahan sakit, namun wajahnya sedikit tertutupi rambutnya. Saat Aksa berjalan semakin dekat akhirnya dia berusaha mengenali sosok wanita itu dan betapa kagetnya saat apa yang dia lihat adalah wanita yang dia suka selama ini.


"Amel, hai kamu Amel kan?" Aksa langsung memeluk wanita yang dia kenali itu.


"Kak Aksa," lirih Amel dan mulai tak sadarkan diri.


"Kamu kenal nak?" tanya ibu ibu yang sedikit curiga karena tiba tiba ada laki laki asing yang mengenali wanita malang itu.


"Dia adik kelas saya Bu waktu sekolah SMA dulu, dan selama ini saya juga sedang mencarinya," Aksa berusaha menjelaskan di tengah rasa paniknya.


"Ya sudah kalo kamu mengenalnya, selamat kan dia, kasihan wanita malang itu," setelah merasa percaya akhirnya ibu ibu itu membiarkan Aksa membawa Amel untuk kerumah sakit.


Aksa mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, reasa panik dan penasaran dengan kondisi Amel, memenuhi otaknya. Aksa bahkan harus mengumpat berung kali, karena meski hari sudah malam, tapi jalanan masih padat merayap. Setelah berkendara selama 20 menit akhirnya dia sampai di rumah sakit terdekat. Dengan panik dia menggendong Amel dan berteriak meminta bantuan dokter.


"Dokter, suster tolong, cepat tolong!" teriak Aksa, dengan wajah yang sudah pucat karena panik.


"Sus siapkan kamar!" Perintah sang Dokter, begitu Amel sudah di tidurkan di bed pasien. Mereka langsung mendorong bed Amel masuk ke ruang UGD di ikuti beberapa perawat dan Dokter.


Aksa menunggu dengan cemas, dia berjalan mondar-mandir, kakinya memang gemetar tapi dia tidak bisa jika harus duduk, banyak pertanyaan yang dia simpan, hingga pintu terbuka dan menampilkan Dokter yang tadi menangani Amel.

__ADS_1


"Apa anda suaminya?" tanya Dokter tersebut dengan nada tidak bersahabat.


"Suami?" Aksa malah seperti orang bodoh, dia bingung karena dia tidak tau jika Amel sudah menikah, lalu di mana suaminya.


"Iya apa anda suaminya?" Dokter kembali bertanya dan akhirnya membuat Aksa segera menguasai keadaan.


"Bukan Dok, saya temannya. Bahkan saya juga menemukan dia tadi di jalan saat banyak ibu ibu yang menolongnya." Aksa menjawab dengan tegas tanpa ada keraguan sama sekali.


"Lalu ini harus bagaimana? Kami harus segera melakukan tindakan untuk ibu dan calon anaknya!" Dokter sedikit resah setelah tau jika pasien tanpa keluarga.


"Calon anak?" lagi lagi otak Aksa seakan kosong setelah mendengar ucapan demi ucapan yang Dokter katakan.


"Iya, lantas ini bagaimana? Sebab kami harus segera melakukan tindakan jika tidak akan sangat membahayakan keadaan sang ibu." jelas sang Dokter.


"Lakukan yang terbaik Dok, saya yang bertanggungjawab, lakukan apapun yang terbaik demi teman saya!" Aksa akhirnya mengambil segala resiko demi kebaikan Amel.


"Baik, silahkan menuju bagian administrasi dan berikan tanda tangan anda." setelah mengatakan itu, Dokter kembali masuk dan melakukan tindakan untuk Amel.


Sedangkan Aksa, kini di buat seakan hampir gila dengan keadaan yang ada, dengan tangan gemetar dia lantas menelfon sang Mamah.


"Assalamualaikum mah," sapa Aksa begitu telfon diangkat oleh mamahnya.


"Waalaikumsalam, kamu kenapa nak?" Mamah mulai khawatir sebab suara Aksa sedikit bergetar.


"Mah, tolong, tolong segera ke rumah sakit, Aksa tunggu ya Mah. Di rumah sakit Mitra Merdeka." Aksa langsung menyebut kan begitu saja.


"Kamu kenapa nak? Kenapa kamu panik gitu? Kamu baik baik saja kan?" Mamah mulai tidak tenang, ia takut hal buruk akan terjadi kepada sang anak.


"Aksa baik mah, nanti Mamah akan tau, jadi tolong segera kesini mah, ajak pak supir jangan nyetir sendiri ya mah." meski sedang tidak tenang, Aksa tetap memperingati sang Mamah.


"Ya baiklah, Mamah akan segera ke sana, tunggu Mamah. Assalamu'alaikum," dengan segera sang mamah bersiap siap.


"Waalaikumsalam," lirih Aksa.


Sudah satu jam berlalu, tapi keadaan masih saja sama, hening dan pintu ruang operasi masih tertutup rapat. Ya setelah dia memberikan tanda tangan, Amel segera di bawa ke ruang operasi. Aksa yang mengetahui itu semakin cemas dan takut. Ia benar benar merutuki semua keadaan yang sudah membuat Amel seperti itu.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya.


Jika ingin tau lebih serunya mampir kesana.


__ADS_2