Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
113.Kartu


__ADS_3

Happy reading yess...


*****®


Tepat seperti apa yang tadi Arga, sampaikan. Semua informasi yang di inginkan, sang bos, sudah dia dapatkan.Dengan segera, dia kirim lewat email semua data hasil penyelidikan nya. Baru setelah nya, esok dia akan ke kantor Angkasa.


"Sudah selesai bos," ini pesan dari Arga.


Langit, yang sedang di ruang kerjanya, segera membuka dan membaca semua isi yang ada di email tersebut. Senyum miring tercetak jelas di sana, bahkan, aura yang ada di ruangan itu akan terasa sangat mencekam bagi siapa saja yang ada di sana.


"Gue suka permainan ini!" gumam Langit, dengan sorot mata tajam nya, tak lupa senyum misterius nya.


"Gue tunggu, saat di mana Lo, hancur kawan!" masih terus saja memandang komputer yang ada didepannya dengan kilat amarah yang dia tahan.


Hingga ketukan pintu itu, mengalihkan emosi yang dia rasakan. Suara lembut sang Bunda, berhasil mengembalikan kewarasannya. Bagi Langit, dia tidak akan memperlihatkan kemarahan sekecil apapun di depan sang Bunda.


"Abang, ayo segera makan malam," Bundanya, memperingati di balik pintu.


Ceklek.


"Siap Bun, ini Langit, juga udah selesai kok," jawab Langit dengan lembut, setelah dia membuka pintunya.


"Ya sudah ayo, Bunda mau panggil Senja dulu ya," pamit Bundanya, yang memang sudah menjadi rutinitas setiap hari, akan selalu memanggil anak anaknya, saat jam makan malam tiba.

__ADS_1


Makan malam, yang biasanya lengkap, kini berkurang satu, dimana, Jingga sudah pasti mengikuti sang suami, dan begitu juga dengan Senja, yang sebentar lagi juga akan begitu. Ah, rasanya, Langit, sangat sangat merindukan kedua bocah rusuh itu di rumah. padahal kalo ada saja, bikin kepala pusing dan telinga panas, tapi kalo kurang satu gini juga tidak enak.


"Hais, berasa sepi ini rumah,si rusuh satu gak ada," keluh Langit, saat dia tiba di meja makan.


"Kan, sekarang ngeluh, karena gak ada, kalo ada juga ngeluh, katanya bikin pusing." Ayah, menanggapi dengan gelengan kepala.


"Eh, bener juga ya Yah,ah tapi ini sepi lho Yah, beneran." Langit masih saja, aneh dengan situasi ini.


"Makanya, cepat bawa, calon istri mu pulang, biar gak sepi lagi di rumah," sambar sang Bunda, saat dia dan Senja, tiba di ruang makan.


"Hah, calon istri apanya Bunda, pacar aja gak punya Bun," jawab Langit apa adanya.


"Lah, itu sekertaris, cantik lho, baik juga, sopan, dan yang pasti terlihat lah lembut," jawaban sang Bunda, sukses membuat Langit, tersedak makanannya.


"Maksud Bunda?" tanya Langit, saat dia sudah bisa menguasai rasa tersedak nya.


"Gak usah pura pura gak tau," sang Bunda masih saja menggoda.


"Bun, dia sudah punya tunangan," jawab Langit.


"Meski tunangannya berengsek," lanjut Langit, dalam hati.


"Oh, ngenesnya anak Bunda, tampan, mapan, pintar, sukses, tapi sayang masih jomblo," ejek sang Bunda dengan isengnya.

__ADS_1


"Bunda," rengek Langit, yang malah mendapat tawa seluruh orang yang ada di ruang makan itu, bahkan di meja sebelah yang hanya terpisah jarak saja, di sana ada para pekerja yang juga sedang makan malam.


Langit, sangat malu. Dia benar-benar tidak menyangka, jika akan di bully oleh, Bunda sendiri, bahkan di saat seluruh orang sedang berkumpul. Ya, dalam keluarga Angkasa, tidak ada perbedaan kasta, semuanya dianggap sama, oleh kart itu, di saat makan malam seperti ini, mereka para pekerja juga akan makan malam bersama, tentu di meja yang berbeda, sesuai keinginan mereka. Mereka merasa tidak pantas jika harus di meja yang sama, meski sang majikan biasa saja.


Puas, menertawakan Langit, malam ini. Semua orang sudah waktunya untuk beristirahat. Kehangatan yang selalu tercipta di keluarga Angkasa, membuat siapa saja betah bekerja di sana. Di tambah lagi gaji yang luar biasa, di bandingkan dengan yang ada di tempat lain.


Di sini, semua yang bekerja, seperti di hargai, mereka mendapatkan kenyamanan dalam setiap melakukan pekerjaan, meski rasa capek yang luar bisa, tapi sebanding dengan hasil setiap bulannya dan bonus setiap tahunnya. Mereka begitu beruntung, bisa bekerja di sini, meski hanya sebatas pelayanan saja.


Di saat semua orang sudah terlelap, tidak dengan laki laki satu ini. Dia masih asik di depan komputer, bahkan, sama sekali tidak merasa mengantuk. Satu hal yang sedang dia lakukan, membaca informasi baru yang masuk.


"Bagu, lakukan sesuai perintah!" tegas Langit, pada orang di sebrang.


"Ingat, saya tidak mau mendengar kata lalai dalam tugas kalian, mengerti!" ucapan itu masih dengan nada tegas seperti biasanya.


"Baik, laporkan, setiap satu jam sekali!" perintah nya, sebelum ia, menutup telfon itu begitu saja.


*****®


Kira kira apa ya?


Wah wah, Langit, gerak cepat juga kau bang,hehehehe.


Selamat membaca kawan🤗

__ADS_1


__ADS_2