
Happy reading yess...
*****ยฎ
Langit, merasa harinya semakin hangat saat dia, bisa lebih dekat lagi dengan sang pujaan hati. Meski belum dia utarakan perasaan itu, tapi setiap harinya sudah menjadi hari spesial untuk Langit. Sungguh seperti nya sang singa sudah bertemu pawang yang tepat. Mereka bahkan sudah mulai saling menggoda, hanya saja, Langit lebih dominan.
"Selamat pagi pak, saya akan membacakan jadwal bapak hari ini," sapa Bulan, begitu dia memasuki ruangan Langit.
"Ya," jawab Langit, saat dalam keadaan serius.
"Hari ini, bapak hanya ada jadwal meeting satu saja, dan itu pada jam empat sore nanti di kantor Atmaja, selebihnya bapak hanya akan di kantor saja." Bulan menjelaskan dengan lugas seperti biasanya, karena dia memang selalu perfeksionis jika bekerja.
"Baik, dan oh iya, pesankan makan siang seperti biasanya, tapi kalo ini tolong pesan menu gudeg Jogja saja di restoran Oma." Langit, mengingatkan kebiasaan dia.
"Baik pak, apa ada lagi?" tanya Bulan.
"Kamu suka gak sama gudeg?" bukan menjawab, Langit malah balik bertanya.
"Saya, suka apa saja pak, tidak pilih pilih makanan," jawab Bulan, yang sudah paham dengan apa yang akan di ucapkan Langit, setelah ini.
"Bagus, kalo gitu pesan dua, sekalian sama kamu, dan makan siang di sini sama saya," dengan santainya Langit mengatakan itu.
"Iya pak, saya sudah hafal," jawab Bulan apa adanya, dengan sedikit memutar bola matanya jengah.
"Kenapa? tidak ikhlas gitu? apa mau nambah menu?" tanya Langit, yang pura pura tidak paham.
Langit, sebenarnya tau, jika Bulan merasa risih, setiap kali dia ajak makan bersama. Bulan yang terbiasa bebas, harus mulai mengikuti aturan aturan yang dia buat. Dalam hati Langit, hanya terkikik geli saja.
"Tidak pak, saya sudah terbiasa," jawaban yang sudah Langit duga.
__ADS_1
"Oke silahkan kembali bekerja," tanpa perasaan, Langit mengusir Bulan begitu saja.
"Iya pak, saya permisi," pamit Bulan.
Secepat kilat, dia keluar dari ruang sang bos. Bulan sudah jengah sejak tadi sebenarnya, dan dia berusaha bersikap biasa saja, karena ini masih di jam kerja.
"Huh, masih pagi juga sudah bikin kesel, bisa gak sih tuh orang gak bikin mood gue anjlok, dasar diktator," Bulan menggerutu hingga dia sampai di ruangannya.
"Seenaknya gitu, ngusir kalo sudah gak ada perlu, gak bisa apa, bilang terimakasih, atau apalah, emang dasar nyebelin," masih saja dia menggerutu dan tanpa dia sadari, semua yang dia lakukan di lihat oleh Langit, dari CCTV yang ada di ruangan Bulan.
"Menggemaskan, seandainya sudah jadi milik Langit, itu bibir pasti aku gigit, eh,kan mulai ngawur gue," Langit, malah ikutan berbicara sendiri.
Melihat layar monitor di depannya, membuat senyum itu semakin mengembang, bahkan belum pernah ada yang melihat senyum se bahagia itu dari seorang Langit. Bagi Langit, apa yang dia lihat saat ini, ingin dia lihat seterusnya.
"Jika sudah waktunya, aku pastikan tidak akan lagi yang bisa kamu pikirkan selain aku, bersabar lah, menanti hari bahagia, karena saat ini aku sedang ingin mengobati rasa kecewa mu dulu," ucap Langit lagi.
Beruntung, hal semacam itu tidak berlangsung lama. Karena, pesanan itu sudah sampai, dan dengan cekatan Bulan menyiapkan makan siang mereka. Dua porsi Gudeg Jogja, jus mangga kesukaan Bulan dan jus alpukat kesukaan Langit. Tak lupa potongan buat segar yang memang tidak bisa Langit, tinggal.
"Pak, sudah siap," panggil Bulan, begitu semua sudah tertata.
Langit, masih saja diam di kursi kebesarannya. Dia tidak bergerak sama sekali mendengar panggilan Bulan. Hal itu di lakukan karena Langit, sedang merasa sebal dengan ucapan Bulan. Bulan yang menyadari akhirnya meralat ucapan nya.
"Kak, makan sudah siap, ayo segera makan mumpung masih anget," ajak Bulan, kali ini dengan panggilan berbeda.
"Oke," nah kan, manusia satu ini langsung saja berubah senang.
"Dasar bos gelo,huh sabar sabar," batin Bulan, gemas sendiri menghadapi kelakuan Langit.
Makin siang itu, di selingi dengan beberapa kalimat iseng dari Langit, yang berhasil membuat Bulan frustasi, bahkan malu bercampur geram juga. Bagiamana tidak, sosok di sebelahnya tiba tiba berubah menjadi sosok yang lain. Bahkan kata kata yang di ucapkan, jauh dari pikiran Bulan selama ini.
__ADS_1
"Lan," panggil Langit, dengan nada pelan.
"Iya kak ada apa?" tanya Bulan, yang merasa aneh.
"Kamu, cantik kalo lagi sebel begitu," gombal Langit, dengan santainya.
"Nah kan, ini orang kenapa jadi aneh gini sih, apa keracunan gudeg ya? masak iya masakan Oma, ada racunnya," batin Bulan, masih saja diam, tapi ada semburat merah di pipinya.
"Uh, itu pipi kenapa makin merah? kenapa? apa kamu sakit?" belum sempat Bulan menjawab, Langit, sudah kembali membuat nya mati kutu.
"Jangan cemberut, kamu tau di sini kita hanya berdua lho," lanjut Langit, dengan entah apa maksudnya.
"Kak, bisa diem gak sih, makan tuh diem, gak ngomong terus!" dengan geram Bulan, mulai mengomel.
"Cantiknya, kalo lagi marah gitu," bukanya berhenti, malah semakin menjadi.
"Ya Tuhan," desah Bulan.
*****ยฎ
Kasihan mba Bulan nya frustasi Abang ๐
Kok kamu jadi iseng sih bang๐
Mba Bulan gaes, yang lagi frustasi, ngadepin isengnya si Abang Langit.๐๐
Dududu othor dari kemarin galon tau gak reader, gegera mau nyari visual mba Bulan sama Abang Langit, tuh dapat mba Bulan aja, Abang nya belum.
__ADS_1