
Happy reading yesss...
*****®
Usai sarapan Naya dan suami ngobrol santai karena memang masih ada waktu hingga resepsi mereka nanti sore.
"Mas.... " panggil Naya saat mereka tengah berada di taman samping rumah.
"Ya yank.. ada apa? " tanya Devan.
"Emmm mau gak nemenin aku bertemu dengan Dika? " tanya Naya dengan hati hati dan was was.
"Mau apa yank?, kenapa mau bertemu dengannya? " Devan bertanya dengan penasaran.
"Emm begini mas, aku tau kemarin ada insiden kecilkan waktu acara akad nikah kita,? dan aku yakin Dika tidak akan pernah berhenti sebelum apa yang dia inginkan tercapai dan yang dia inginkan adalah aku, aku tau dia sebenarnya orang baik tapi mungkin dia sedang tersesat saja, dan aku mengajak mas menemui dia untuk berbicara dari hati ke hati,, semoga dengan aku berbicara maka dia akan mengerti, apa mas mau mengantarkan aku bertemu dia? " Naya kembali bertanya setelah dia menjelaskan maksud nya untuk bertemu Dika.
"Huft... baiklah tapi mas akan temani kamu" jujur Devan sangat tidak rela tapi mungkin ini jalan satu satunya dari pada ada pertumpahan darah.
"Makasih mas.. kalo gitu aku kasih kabar dia dulu ya.. " tanpa sengaja Naya kelepasan berbicara jika dia tau no Dika meski tidak pernah berkirim pesan.
"Hah... kamu punya nomer dia? " tanya Devan dengan sedikit marah.
"Sabar mas... aku minta maaf karena belum bilang sama kamu, dia pernah kirim pesan ke aku dan ini pesannya masih kok, waktu itu kita sudah tidak bisa bertemu sebelum menikah jadi aku lupa mas.. " Naya menjelaskan dangan lembut dan benar saja Devan akhirnya lulus meski masih ada masih dengan wajah kesalnya.
"Ya sudah kita ajak bertemu sekarang saja sekalian kita jalan ke gedung acara kita nanti.. " perintah Devan masih dengan nada malas.
Cup
"Jangan ngambek donk... kan aku cuma milik mas Devan.. " rayu Naya karena dia tau suaminya masih kesal.
__ADS_1
"Bisa saja kamu" akhirnya Devan bisa tersenyum lagi.
******®
Di dalam restoran privat room Naya dan Devan sudah datang menunggu Dika. Mereka memilih datang lebih dulu dan memilih untuk menunggu dari pada mereka yang ditunggu. Selang sepuluh menit dari mereka menunggu akhirnya Dika datang dengan wajah bahagia namun segera hilang ketika melihat ada Devan di sana.
"Maaf telat" ucap Dika dengan nada datar dan dingin.
"Tidak apa apa, kita baru sepuluh menit juga kok, duduk Dik" jawab Naya sedang Devan memilih untuk diam saja.
"Mau pesan apa? " Naya menawarkan.
"Kopi" jawab Dika sekenanya.
"Baiklah.. " Naya memanggil pelayann untuk memesan.
"Hufft" helaan nafas Naya terdengar berat sebelum memulai percakapan.
"Maaf jika pernikahan ku dengan mas Devan melukai hatimu, sungguh aku tidak tau jika kamu menyimpan perasaan kepada ku, lagipula kita sudah tidak bertemu sangat lama, belasan tahun jika tidak salah, dan maaf juga karena akupun sudah melupakan mu saat setelah kita berpisah karena kepindahan mu, aku benar bener tidak tau jika semua yang aku lakukan berbekas kepadamu, hingga membuat mempunyai perasaan yang lebih , tapi Dik kamu harus tau jika perasaan itu tidak bisa di paksakan aku -" ucapan Naya terhenti saat pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Aku mencintai mas Devan dan begitu juga sebaliknya, dan kamu.. kamu hadir di saat hati kami sudah saling memiliki, maaf karena aku tidak bisa membalas perasaan mu, tapi percayalah kamu adalah teman baik, maaf jika perasaan yang aku miliki hanya sebatas itu, aku mohon mengerti lah, masih banyak di luar sana wanita di luar sana yang akan bisa membahagiakanmu, bukalah hatimu untuk yang lain, aku yakin rasa yang kamu miliki untuk ku bukanlah rasa cinta tapi rasa obsesi ingin memiliki, jadi kumohon hiduplah dengan baik, bahagia kan dirimu dengan berhenti mengharapkan ku, aku yakin kamu pasti bisa... " Naya mengakhiri ucapan nya dengan usapan lembut pada tangan Dika yang ada di atas meja.
Sedang Dika hanya bisa menutup mata dengan setitik air mata disudut matanya, benarkah rasa untuk Naya hanya obsesi belaka bukan cinta? hal itulah yang saat ini Dika fikirkan.
Berbeda dengan Dika, Devan yang duduk di sebelah istri merasa sangat panas melihat Naya mengusap tangan Dika namun dia juga bahagia mendengar apa yang Naya katakan.
"Dika... " Naya kembali memanggil Dika, dia merasa iba melihat air mata Dika yang sempat keluar di sudut matanya.
"Apa aku sudah benar benar kalah? " tanya Dika lemah, meski dia tau jawabannya.
__ADS_1
"Berbahagialah Dika.. dengan hati yang baru" jawab Naya dengan senyuman menenangkan.
"Aku kalah ya.. hahahaha aku aku bahkan kan kalah sebelum berjuang, aku bahkan belum melakukan apapun dan aku sudah harus di paksa mundur teratur, hahahaha miris sekali nasibku" ucap Dika setelah dia diam cukup lama.
Naya dan Devan hanya bisa saling pandang dan juga merasa iba melihat Dika yang terlihat putus asa dan kacau.
"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran.. " Dika akhirnya mengusir kedua nya.
Dan Naya serta Devan hanya bisa menghela nafas dan bersiap untuk berdiri .
"Dik... " panggil Naya mencoba memeberikan ketenangan.
"Pergi Ay... aku bilang pergi sebelum aku berbuat gila" sanggah Dika cepat.
"Baiklah kami permisi.. jika kamu berkenan datang lah ke acara nanti sore, beri kami doa restu, datang lah sebagai sahabat dari Naya.. " akhirnya Devan berbicara setelah sejak tadi hanya diam saja.
Sepeninggalan Naya dan Devan... Dika akhirnya luruh ke lantai, menumpahkan segala rasa hancur di hatinya, memukul dadanya yang terasa sesak, meraung menjambak rambutnya, tangis nya terdengar pilu, dan untung saja dia berada di ruangan privat.
*Kenapa Tuhan kenapa aku harus merasakan sakit ini.. kenapa dia yang aku cintai harus pergi bersama laki laki lain.. lalu aku harus bagaimana.. *jerit hati Dika.
Katakanlah dia lebay untuk ukuran laki laki namun urusan hati siapa yang tahu...
******®
Satu bab awal.
Eeemm menurut kalian Dika datang gak? ke acara resepsi Naya dan Devan?
Yang penasaran ikutin terus ya.
__ADS_1
Jangan lupa dukungan nya gampang kok, like, komen, hadiah, tap love dan bagikan keteman kalian juga.
😊😊😊🤗🤗🤗