
Happy reading yess...
*****®
Suasana kamar VVIP itu begitu hening, hanya ada kesedihan di setiap wajah yang berada di sana. Langit, dia terus saja memandang wajah di depannya itu, wajah yang kini terlihat pucat, ada bekas biru di sudut bibirnya, dan beberapa tanda biru di leher dan dadanya. Langit yang melihatnya semakin sesak terasa, hingga bulir bening itu keluar tanpa aba aba.
"Yah, Bun, Langit, mau ijin," suara Langit, memecah keheningan.
"Ijin apa bang," sahut sang bunda, dengan cepat.
"Langit, ingin menikah dengan Bulan besok boleh?" tanya Langit, tanpa melepas pandangan dari wajah Bulan.
"Ayah, sama Bunda tidak keberatan, justru kamu harusnya tanya sama orang tua Bulan," kini sang ayah yang menimpali.
"Om, Tante, apa boleh Langit, menikahi Bulan?" tanya Langit langsung dan kini duduk di depan orang tua Bulan.
"Maaf sebelumnya nak, dan anda pak Devan. Bukan saya tidak mengijinkan, tapi apakah keluarga kalian bisa menerima anak kami yang," bapak nya Bulan tidak sanggup berkata-kata.
"Pak, kami bukanlah orang yang picik, kami tau, Bulan anak yang baik, kejadian yang menimpanya kemarin adalah sebuah nasib saja pak, dan lagipula tidak ada yang salah dengan Bulan pak," ayah menjelaskan dengan nada tenang.
"Kami hanya merasa jauh dari keluarga bapak, kami kami hanya," ibu Bulan, merasa tidak percaya diri.
"Mba, tidak usah berfikir terlalu jauh, jangan terlalu mendengarkan apapun di luar sana, kami tidak pernah mempersoalkan status sosial, bagi kami asal anak anak kami bahagia kami akan dengan senang hati menerima nya," ucap bunda dengan menggenggam erat tangan ibunya Bulan.
Ada jeda di antara semuanya, hening waktu seolah berjalan lambat, sedangkan Langit, sedang berusaha membuat orang tua Bulan yakin. Langit, akhirnya buka suara.
"Pak, Bu, saya mencintai anak bapak sama ibu sejak lama, selama ini saya diam karena saya pikir Bulan bahagia dengan dia, ternyata saya salah, saya malah, saya malah tidak sengaja membiarkan Bulan dalam bahaya dengan membiarkan dia berhubungan dengan laki laki berengsek itu. Saat ini, yang Bulan butuhkan adalah dukungan kita, dan cinta yang tulus, saya tidak bisa menjanjikan untuk tidak membuat Bulan menangis, tapi saya akan selalu berusaha membuatnya bahagia." Langit, diam sejenak, dia menoleh ke arah Bulan.
"Saya ingin,bisa menghapus semua jejak yang sudah di buat oleh laki laki sialan itu, dan itu lah kenapa saya ingin menikahi Bulan. Bukan karena nafsu, tapi karena cinta yang murni atas ijin sang pencipta, jadi saya ijin untuk mengambil tanggung jawab bapak menjaga Bulan, saya hancur melihat wanita yang saya cintai menjadi seperti ini, jadi apakah boleh saya menikah dengan putri semata wayang bapak dan ibu?" akhirnya Langit, benar benar menunjukkan keseriusannya.
Semua yang ada di sana terharu mendengar nya, sungguh, mereka tidak menyangka seorang Langit bisa mengatakan semuanya dengan segala kesungguhan. Bahkan bunda, benar benar terharu mendengar kalimat demi kalimat yang anaknya ucapkan.
Dan tanpa mereka sadari, Bulan, mendengar semua yang Langit katakan, dia sebenarnya terbangun karena haus, dan belum sempat dia berucap, dia malah mendengar kalimat yang membuat nya terharu dan sekaligus merasa sangat di cintai. Bulan menangis dalam diam, dia tidak menyangka, jika bos yang selalu dia katai dingin, datar,kutub es, dan banyak lagi, ternyata mempunyai hati yang begitu hangat dan tulus.
"Sayang, kamu bangun?" ternyata Bunda menyadari jika Bulan, bangun. Bunda yang saat itu tidak sengaja melihat kearah Bulan, dan kaget saat melihat ada air mata yang mengalir.
"Hai, kamu bangun ya, kenapa diam saja, kamu butuh apa?" Langit, yang mendengar jika Bukan bangun, bergegas ke sampingnya, dan dengan cekatan ia usap air mata Bulan, dan tak lupa dia kecup kening Bulan dengan sayang.
"Kamu butuh apa sayang, Hem?" Langit, mengulang pertanyaan, usapan lembut di kepala Bulan, menambah rasa nyaman.
"Aku haus," jawab Bulan, akhirnya dengan pelan dia membuka mata. Langit yang mendengar jawaban Bulan, segara mengambil air minum, dengan telaten, dia bangunkan Bulan sedikit duduk, dan memberikan minum.
"Sudah?" tanya Langit, masih dengan nada yang lembut.
"Iya," jawab Bulan, dengan pelan.
__ADS_1
"Mau tidur lagi? atau kamu mau apa?" masih saja Langit, bertanya dengan nada cemas.
"Tidak, aku hanya ingin lanjut tidur," Bulan, sebenarnya sedang berusaha menghindar.
"Ya sudah, tidur ya, kamu aman di sini, ada kami yang jaga kami," Langit, membantu Bulan untuk kembali tiduran, dengan telaten, dia tarik selimut hingga sebatas dada, dan tak lupa kecupan di kening Bulan kembali Langit berikan.
Semua yang di lakukan Langit, menyita perhatian kedua orang tua Bulan, bagaimana lembut nya Langit memperlakukan anak mereka. Hingga, akhirnya rasa ragu, kina terkikis di gantikan dengan keyakinan yang kuat.
***
Esok menjelang, semua persiapan sudah beres, meski menikah di rumah sakit, Langit tidak ingin momen itu biasa saja, dia tetap ingin momen itu spesial bagi Bulan. Tepak pukul 10 pagi, sang penghulu datang ke kamar yang sudah di sulap begitu indah,, ada beberapa bunga di pojok ruangan, dan tak lupa semua keluarga besar Angkasa datang di sana.
Perlahan namun pasti acara di mulai. Di atas bed Bulan duduk dengan sedikit rasa cemas, wajahnya sudah tidak sepucat kemarin. Dia tidak menyangka akan menikah di tempat yang jauh dari bayangan nya.
Saat kata SAH, terdengar begitu lantang dan riuh, hati Bulan, mendadak lega, tapi masih ada rasa takut di sana. Dengan tetap berusaha tersenyum, dia tatap wajah yang ada di sana, hingga acara selesai, semuanya terlihat bahagia.
"Terimakasih sudah menerima ku untuk hidup bersama mu, maaf jika pernikahan ini mendadak dan di tempat seperti ini," kata Langit, dengan menggenggam erat kedua tangan Bulan.
"Harusnya aku yang mengucapkan terimakasih, karena Abang sudah menerima ku yang kotor ini," jawab Bulan, dengan mata berkaca-kaca.
"Eh gak boleh nangis, kalo nangis nanti saja pas di rumah, nanti aku buat kamu nangis di kasur ya," canda Langit, yang Bulan tau maksudnya.
"Bang," lirih Bulan, yang merasa malu.
"Hahahaha, makanya jangan nangis," Langit, malah makin menggoda.
"Sirik saja, sono minta di gandeng suami kalian, dari pada ganggu saja," jawab Langit, dengan tatapan malas.
"Hais, udah dapat pawang nya dia," olok Jingga yang malah di ketawain Senja.
"Kak Bulan, banyakin sabarnya ya, ngadepin manusia resek yang super nyebelin tapi sok dingin," Senja, sengaja menjelekkan sang kakak.
"Bisa diem gak? mau Abang jewer?" ancam Langit.
"Dikata kita anak kecil apa, dasar," sungut keduanya, yang akhirnya mereka memilih bergabung dengan keluarga yang lain.
"Jangan gitu bang sama adek nya," nasehat Bulan.
"Dah lah biarin saja," jawab Langit acuh.
"Oh iya bang, kapan aku boleh pulang?" tanya Bulan yang sudah tidak betah di rumah sakit.
"Kenapa? sudah tidak sabar ya tidur di kasurku," bukanya menjawab, Langit malah menggoda Bulan.
"Abang," rengek Bulan, dengan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Jangan di ganggu gitu, memantu bunda," bunda Naya, datang dan langsung memukul lengan Langit.
"Sakit Bun," rengek Langit seperti anak kecil.
"Sudah, sudah, sekarang kita mau pulang dulu, kamu jaga menantu bunda dengan baik, awas kalo di bikin nangis, bunda hukum kamu," ancam sang Bunda, yang bermaksud bercanda.
Akhirnya, semua keluarga besar Angkasa pamit pulang, begitu juga dengan orang tua Bulan. Mereka mengatakan akan mempersiapkan syukuran kecil kecilan untuk Bulan.
"Mau kemana yang?" tanya Langit saat Bulan, berusaha turun dari ranjang pasien.
"Ke kamar mandi bang," jawab Bulan yang masih belum terbiasa.
"Abang bantu ya," dengan cekatan dia gendong Bulan dan memasuki kamar mandi.
"Bulan, bisa jalan sendiri bang, lagian kaki bulan juga sudah tidak sakit lagi kok," Bulan sangat gugup.
"Sstt, gak apa apa, mau di tungguin apa semdi?" tanya Langit, saat Bulan, sudah duduk di atas korset.
"Sendiri bang," jawab Bulan.
"Baiklah, kalo sudah panggil Abang ya," ucap Langit, yang segera keluar agar Bulan nyaman.
Dan setelah, semua berjalan seakan lambat, hingga malam menjelang, Langit dan Bulan, sedang bersiap untuk tidur. Bulan yang sudah berada di posisi rebahan di bed nya, sedangkan Langit, dia sedang mengerjakan sesuatu.
"Kenapa belum tidur sayang?" tanya Langit, yang berjalan mendekat.
"Belum ngantuk," dusta Bulan, karena sebenarnya dia sedang gugup, berada satu ruangan dengan Langit.
"Tidurlah, ini sudah malam, biar besok bisa pulang," perintah Langit, dengan nada lembut dan akhirnya ikut naik keatas bed.
"Mau apa," belum sempat Bulan bertanya, Langit, sudah menarik nya kedalam pelukannya.
"Sst, tidur, Abang tidak akan macam macam, kamu aman sayang," sanggah Langit, yang tau rasa cemas di hati Bulan.
Sedangkan Bulan, akhirnya hanya bisa pasrah dan menikmati pelukan hangat yang begitu menenangkan dirinya. Tak lupa usapan lembut pada punggungnya, menambah rasa nyaman yang menggiring mata untuk terpejam.
"Tidurlah pemilik hatiku, lepaskan semua beban di pikiran dan hati mu, ada aku yang menjaga mu, agar tenang dalam alam bawah sadar mu sekalipun." ucap Langit dalam hati, tak lupa kecupan mendarat di pucuk kepala Bulan.
Di saat Bulan, sudah benar benar terlelap karena masih dalam pengaruh obat, Langit dengan hati hati turun dari bed dan melangkah sedikit menjauh, dia kemudian menelfon seseorang.
"Lakukan sekarang," perintah Langit, tanpa menunggu jawaban dari sebrang.
******®
Akhirnya SAH juga 😍
__ADS_1
Selamat menikmati bulan madu, eh mba Bulan denk Hahahahaha.