
Happy reading yess...
*****®
Bulang, dengan perlahan, membalikkan badannya. Sudah dapat di pastikan suara siapa yang berada di belakang tubuhnya. Dengan menelan salivanya secara susah payah, Bulan akhirnya memilih senyum memamerkan deretan giginya.
"Eh Pak Ngit, ups," Bulang, langsung menutup mulutnya. Dia benar benar merutuki mulut nya yang kadang suka ceplas ceplos.
"Ah, maksud saya pak Lang, eh," lagi dan lagi Bulan, langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
Sedangkan Langit, dia hanya diam saja, sambil bersedekap, melihat Bulan, dengan tatapan malas namun ada arti lain.
"Maaf pak, maksudnya Pak Langit." akhirnya setelah bisa menguasai keadaan, Bulan bisa menyebutkan nama atasannya dengan benar.
"Hem, siapa yang muka datar? siapa yang kotak es berjalan? siapa yang dingin seperti kutub?" Langit, dia kini sudah berdiri di depan Bulan, dengan jarak yang begitu dekat, bahkan parfum yang begitu lembut mampu membuat Langit, begitu tenang dan nyaman.
Jika Langit, diam diam menikmati kedekatan mereka, berbeda dengan Bulan, dia merasa tidak nyaman, dan jujur, ada yang tidak bisa dia artikan dengan perasaannya.
"*Gak, gak, aku gak boleh begini, gila, ini perasaan apa," batin Bulan, dan sekuat hati dia menghindar.
"Perasaan ini salah, tapi kenapa, aku begitu menikmatinya, apa aku gila, menginginkan milik orang lain," batin Langit gusar*.
__ADS_1
Untuk sesaat keduanya, malah larut dengan hati dan pikiran masing masing. Bahkan tidak ada yang berniat untuk segera sadar dari rasa yang entah apa namanya. Hingga suara dering ponsel mengagetkan keduanya. Ternyata itu telfon dari kekasih Bulan.
Segera mungkin mereka saling mundur', dan menyembunyikan rasa gugup yang benar benar memalukan. Bahkan, Bulan, sedikit gemetar pas mau angkat telfon, untung saja sanga atasan tidak melihatnya.
"Hallo, iya mas ada apa?" tanya Bulan, saat dia mulai bisa menguasai rasa gugupnya.
"..."
"Oh, ya gak apa apa mas, nanti aku pulang naik taksi saja," jawab Bulan lagi.
"..."
"Iya, hati hati mas," jawab Bulan, dengan nada lembut dan tak lupa senyum manisnya.
"Cepat, saya tunggu di bawah, jangan lambat!" ucap Langit, setelah melihat Bulan, mengakhiri telfon nya.
"Iya pak," jawab Bulan, sedikit salah tingkah, saat dia menyadari tatapan lain dari sang bos.
Tanpa menunggu lama, Langit, segera berjalan dengan perasaan panas. Hari ini, rasanya dia pengen Gigit orang saja. Perasaannya sungguh sedang tidak baik baik saja. Hanya saja, dia harus tetap berdiri tegak, tanpa harus menghiraukan perasaannya.
Sekali lagi, Langit, hanya bisa menekan perasaan salahnya. Dia tidak habis pikir, kenapa harus dengan Bulan, perasaan itu tumbuh. Gadis, yang bahkan tak pernah melihatnya, gadis yang begitu dingin dan cuwek jika dengan dirinya, gadis yang tomboi tapi terlihat manis saat ini, dan sialnya, itu semua malah membuat seorang Langit, melabuhkan hatinya tanpa di sadari.
__ADS_1
"Gila, gue benar' benar di buat gila oleh perasaan ini," desah Langit, dia bahkan mengumpat berulang kali, beruntung di dalam lift hanya ada dia sendiri.
Jika Langit, sedang mengumpat dirinya sendiri, maka berbeda dengan Bulan. Sejenak, setelah kepergian Langit, dia hanya berdiam diri dengan perasaan bersalahnya.
"Gue, gak harus merasakan perasaan ini, ada Mas Riyan di sana, dia begitu baik dengan aku dan bapak ibu, sadar Bulan," ucap Bulan, menyadarkan dirinya sendiri.
"Hufth, oke mari bekerja, semangat Bulan," ucap Bulan lagi, kali ini dengan tangan mengepal ke udara.
Setelah itu, dia sedikit berlari, menyadari sudah terlalu lama, dia malah berdiam diri. Sudah bisa di pastikan bos nya itu akan marah marah, dasar si muka datar. Masih sempat sempat nya, Bulan terkikik dalam hati saat dalam perjalanan dia ke bawah.
"Maaf pak, agak lama, tadi ke kamar mandi dulu." sebelum Langit, marah, Bulan langsung memberikan alasan ngawur nya.
"Hem, cepat masuk!" titah Langit, dengan nada dingin dan tak lupa dia langsung masuk di bagian kemudi.
"Sabar sabar, untuk cuma kayak gitu, udah takut aja, gue kena SP 1," batin Bulan, seraya berjalan masuk ke dalam mobil.
******®
Cie cie yang satu mobil.
Galon galon deh tuh.
__ADS_1
😅😅😅🤭 sorry bang Langit, ku buat kau galon dulu oke, wkwkwkw.