
Happy reading yess...
*****®
Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Langit, Bulan segera turun ke bawah, meski rasa canggung mendominasi perasaannya. Tapi mau bagaimanapun, dirinya sekarang bagian dari keluarga ini.
"Selamat pagi sayang, bagaimana keadaanmu?" sapa bunda Naya, begitu dia menangkap sang menantu yang sedang berjalan menuju dapur.
"Pagi juga Bun, maaf baru turun, dan Alhamdulillah keadaanku sudah lebih baik Bun," jawab Bulan, dengan mengulas senyum.
"Syukurlah, sini duduk dulu, suamimu mana?" tanya sang bunda, sambil menuntun Bulan untuk duduk.
"Sedang mandi Bun. Ada yang bisa Bulan bantu?" Bulan, merasa tidak enak, karena begitu dia datang malah diajak duduk.
"Tidak ada, sudah hampir selesai kok, di sini saja ngobrol sama bunda," jawab bunda Naya, dengan mengusap tangan Bulan.
"Oh iya,, kamu beneran sudah sehat kan? soalnya bunda itu gemas sama suami kamu, perasaan kemarin bunda tanya kapan kamu boleh pulang, di jawab dokter siang ini harusnya, lah tadi malam, suamimu malah bikin heboh, masak kamu di bawa pulang jam dua belas malam coba," cerita bunda yang gemas dengan kelakuan putranya.
"Hah? Bulan malah gak tau Bun," kaget, ya begitulah yang di rasakan Bulan.
"Udah gitu, dia itu pake teriak katanya berhasil bawa pulang menantu bunda, maksudnya apa coba," gerutu bunda, di sela sela ceritanya.
"Kelakuan nya emang ajaib, segala bawa pulang istri sendiri dengan ngumpet ngumpet, katanya biar surprise," masih saja bunda bercerita tapi dengan raut gemas.
"Abang," desah Bulan, dengan perasaan gemas.
"Iya ada apa?" Langit, dengan santainya menyela percakapan mereka. Dia sebenarnya sudah berdiri di belakang kedua wanita yang sangat dia cintai itu, sejak beberapa menit yang lalu.
"Nah biang rusuh datang," Bunda menimpali dengan lirikan malas.
"Bukan rusuh Bun, tapi kreatif tau gak. Abang kan cuma mau nyenengin istri Abang ini, mau mengabulkan permintaan nya untuk pulang, jadi ya Langit bawa pulang lah," Langit, menjelaskan dengan santai dan malah mencium kening Bulan, di depan sang bunda.
Sedangkan Bulan, jangan di tanya malunya seperti apa, dia bahkan hanya bisa menunduk saja, akibat ulah suaminya. Dan si pembuat ulah, malah tertawa senang melihat istrinya malu seperti itu.
"Aduh!" teriak Langit, saat telinganya kena tarik sang bunda.
"Kenapa di tarik sih Bun, yank sakit nih telingaku," rengek Langit, di depan Bulan, berharap mendapatkan pembelaan.
"Rasain, jadi orang kok isengnya minta ampun. Lihat, menantu bunda sampe malu, mbok ya kurangi isengnya to bang," omel sang bunda, dengan kedua tangannya berada di pinggang.
"Hehehehe, gak janji Bun," jawab Langit, cengengesan.
__ADS_1
"Ada apa sih, pagi pagi kok sudah ribut," tanya sang ayah, yang kini sedang berjalan menuju kursi di mana biasanya dia duduk.
"Anakmu itu lho yah, gangguin menantu bunda, heran aku tuh, sama anak anak, kok pada iseng semua ya," bunda dengan manjanya mengadu kepada sang suami.
"Kan sama dengan bunda isengnya," jawab ayah santai, tanpa melihat raut wajah bunda yang sudah berubah masam.
"Oh jadi aku iseng? iya gitu?" tanya bunda dengan wajah masam.
Ayah yang menyadari nya langsung kalang kabut, bisa hilang jatah nanti malam, dengan usaha keras, ayah berusaha mencari maaf dari sang istri. Sedangkan Bulan, dia hanya bisa menyaksikan adegan di depannya yang begitu lucu pikirnya.
"Sudah ayo makan, jangan perhatikan mereka," Langit, malah asik memakan sarapan paginya.
Setalah drama di meja makan, Langit dan Bulan, sudah berada di kamar, mereka sedang duduk santai di sofa yang berada di balkon. Dengan sayang, Langit, terus saja mendekap tubuh Bulan, seakan tubuh itu begitu candu untuknya.
"Yang, habis ini siap siap ya, bawa baju seperlunya saja nanti kalo kurang bisa beli di sana." ucap Langit tiba tiba.
"Hah? emang kita mau kemana bang?" Bulan, benar benar kaget dan bingung.
"Abang, mau ajak kamu berlibur ke daerah yang menjadi impianmu," jawab Langit santai.
"Maksudnya, kita akan berlibur di-" Bulan, tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia hanya menutup mulutnya, saat melihat suaminya mengeluarkan foto tempat di mana mereka akan berkunjung.
"Ya, kita akan ke Labuan Bajo, Raja Ampat, dan Karimun Jawa, sesuai impianmu." Langit, menjawab dengan senyum dan tawa yang bahagia.
"Kamu lupa siapa Abang?" bukanya menjawab, Langit malah balik bertanya.
Sejenak, Bulan terdiam. Dia memang sempat lupa, seorang Langit, pasti akan mudah untuk mencari tahu tentang apa saja yang dia inginkan. Buktinya sekarang, suaminya bisa tau impian terbesar dirinya, yang memang ingin sekali pergi ke tempat itu, hanya saja tabungannya belum cukup.
Fuh
"Malah melamun," dengan isengnya, Langit meniup wajah Bulan.
"Iya, aku hampir saja lupa, siapa suamiku ini, pasti hal ini begitu mudah kamu dapatkan." jawab Bulan, dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan nangis, aku gak suka lihat air mata ini, bahagia lah, karena itu akan membuatku juga bahagia," dengan pelan, Langit, usap air mata yang mulai menetes di pipi Bulan.
"Terimakasih bang," hanya itu yang bisa Bulan ucapkan, dalam dekapan sang suami.
"Hem, dan sekarang lihat, ini penginapan yang akan kita tinggali selama satu Minggu di Labuan Bajo.
__ADS_1
"Kamu suka?" tanya Langit, setelah dia memperlihatkan foto penginapan di sana.
"Suka bang, sangat unik," jawab Bulan dengan mata berbinar bahagia.
"Dan ini di Raja Ampat," lanjut Langit.
"Bagaimana? suka apa mau ganti?" tanya Langit lagi.
"Suka bang, banget." jawab Bulan, masih dengan wajah bahagia nya.
"Di sana kita juga akan satu Minggu lamanya," jelas Langit lagi.
"Opa gak kelamaan bang, nanti kerjaan Abang bagaimana?" tanya Bulan cemas.
"Sudah Abang hendel semuanya, dan juga sudah ada ayah dan om Al yang urus." jawab Langit santai.
"Oh ya, dan ini di Karimun Jawa, kita juga akan satu Minggu di sana." lanjut Langit.
"Wau, bang bagus," Bulan, lagi lagi di buat kagum oleh pilihan Langit.
"Sesuai keinginan tuan putri, yang tidak begitu menyukai suasana hotel, dan lebih senang dengan penginapan yang masih ada unsur budayanya," ucap Langit, dengan mengusap kepala Bulan.
"Istimewa, terimakasih Abang," Bulan, langsung memeluk erat Langit, dia begitu bahagia dengan pilihan yang luar biasa, baginya ini benar benar impian yang jadi kenyataan.
"Dan untuk satu Minggunya lagi, kita akan pergi ke Jogja, karena Abang sekalian mau mampir ke panti asuhan milik Oma Mila, yang ada di sana." Langit, kali ini juga ingin sekaligus berkunjung ke panti yang sudah lama tidak ia kunjungi.
"Iya bang," jawab Bulan, masih dengan memeluk erat. Dia juga sudah paham dengan panti asuhan yang di bicarakan suaminya.
"Terus, ini mau pelukan terus? gak mau berkemas? kalo Abang sih seneng aja di peluk gini, bahkan kalo bisa, Abang mau ikat kamu biar gak bisa jauh jauh dari Abang," canda Langit, yang dengan cepat Bulan berlari tanpa berkata apa apa. Dia teramat malu dengan apa yang barusan dia lakukan. Sedangkan Langit, dia tertawa dengan terbahak-bahak melihat kelakuan istrinya.
"Nikmati kebahagiaanmu sayang, karena ini masih awal, masih akan ada banyak hal yang aku siapkan untuk membuatmu terus bahagia hidup bersamaku," batin Langit.
*****®
Duh bang, emakmu ini juga mau donk diajak, jangan ajak Bulan aja.
Hahahahaha, emak ngarep 😂.
__ADS_1
Foto by Google.