Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
86. S. Part 16


__ADS_3

Happy reading yess....


*****®


Rumah itu kini sedikit lenggang, tapi tak terlalu karena ada si biang rusuh siapa lagi jika bukan si kembar.


"Bunda, bando Adek yang warna ungu kemana ya?" teriak Senja dari dalam kamarnya.


"Lah kok tanya Bunda, kamu yang punya ya kamu taruh mana?" heran sang Bunda dengan kelakukan anak gadisnya itu.


"Gak ada Bun, udah Adek cari ini," rengek Senja, tapi masih di dalam kamarnya.


"CK, paan sih ribut mulu heran gue!" decak Jingga yang keluar dari kamar dan masuk ke kamar sang adik.


"Lo lihat bando gue yang warna ungu gak sih kak?" tanya Senja dengan mata menyipit.


"Ada noh, di kamar gue, kemarin gue pinjem buat bikin konten!" Jingga menjawab tanpa rasa bersalah.


"Itu namanya bukan pinjam dodol, itu namanya nyuri, ck!" Senja berkata dengan sangat dongkol dan langsung memasuki kamar sang kakak.


"Bunda, Adik ngatain kakak dodol!" kini giliran Jingga yang berteriak mengadu.


"Helleehhh ngadu ngadu sana," sambar Senja mulai jengah.


"Kakak ngambil bando Adek tapi gak bilang Bun!" lagi lagi Senja tak mau kalah dan ikut berteriak.


"Bisa diam gak? ribut mulu kerjaannya. Nanti kalo ayah udah keluar dari ruang kerja baru diem!" sang Bunda datang dengan berdecak heran melihat kelakuanku anak kembar nya.


Sesaat keduanya saling diam dan menunduk, mereka pura pura takut akan omelan sang Bunda, tapi siapa sangka setelah sang Bunda kembali ke dapur mereka mulai berantem lagi.


"Ya Allah, heran aku sama mereka! apa salahku ya Allah." desah bunda Naya merasa lelah.

__ADS_1


"Sabar nya, kan emang suka gitu, bentar lagi juga baikan, kita lihat saja," jawab sang kepala pelayan yang menemani Bunda Naya masak.


"Iya Bi, benar. Mungkin ini juga yang dulu bunda rasakan, waktu aku sering gangguin kak Zian dan si Al.


"Nah bibi rasa juga begitu, hihihi," jawab sang bibi sambil cikikikan.


"Hufth, bibi malah di benarkan lagi," gerutu Naya yang malah di sambut gelak tawa oleh sang bibi.


Sambil terus bercerita, Bunda Naya dan sang bibi melanjutkan acara memasak mereka untuk makan siang, karena kebetulan hari ini adalah hari Sabtu jadi semua orang berada di rumah.


Lagi lagi suara gaduh itu masih saja terdengar, semua pelayan yang ada di rumah sudah terbiasa dengan hal itu, bagi mereka kebisingan yang di ciptakan oleh si kembar merupakan hiburan tersendiri.


"Kakak, bisa gak sih kalo pinjam tuh bilang, jangan main ambil aja!" dumel Senja yang kini berada di kamar sang kakak.


"Apalagi sih, gue itu ambil apalagi?" Jingga bertanya heran dan bingung.


"CK, pura pura oon, nih apa! ini tuh flashdisk gue, kenapa ada di sini! gue cariin juga, mau apa lagi sekarang!" Senja memperlihatkan flashdisk yang sejak tadi dia cari ternyata ada di kamar kakaknya lagi.


"What! oh doang! heh Lo!" Senja hampir saja berteriak lagi tapi di urungkan karena mendengar suara yang sangat mereka kenali.


"Sudah berantemnya? sudah bikin seisi rumah berisik karena kalian? sudah bikin pusing semua orang? sudah belum?" tanya sang Ayah yang kini menyandarkan badannya di sisi pintu dan melipat tangannya di dada.


"Maaf ayah." ucap keduanya secara bersama sama.


"Hufth," sang Ayah menghela nafas panjang dan kini duduk di tepi ranjang sang anak.


"Sini duduk, Ayah mau bicara," ajak Ayah Devan dengan suara lembut dan menepuk sisi sebelah yang kosong, karena Senja masih saja berdiri, sedangkan Jingga yang sejak tadi memang sudah duduk hanya diam saja.


Akhirnya kedua bocah rusuh itu duduk anteng di antara sisi Devan, sang ayah kini duduk di tengah kedua putri yang sangat menggemaskan itu.


"Dengar, kalian boleh berantem, boleh ribut begini, boleh berdebat tapi ingat jangan menggunakan kata kata kasar, dan apa kalian lupa dengan peraturan Ayah dan Bunda, jika di rumah dilarang menggunakan panggilan gue elo?" tanya sang Ayah lembut sekaligus mengingatkan.

__ADS_1


"Iya Ayah, kami lupa, minta maaf," jawab keduanya kompak.


"Ayah tidak marah, begitu juga dengan Bunda kalian, hanya saja Ayah gemas dengan kelakukan kalian ini, udah besar lho masak mau gitu terus. Dan kamu Jingga, kamu itu sebagai kakak harus kasih contoh yang baik, kalo mau pinjam bilang sama Adikmu dan buat kamu Senja, jangan panggil kakak begitu, itu tidak sopan oke? kalian boleh marahan, boleh saling kesal, boleh tapi jangan ada kata kasar lagi, hem. Paham?" tanya Ayah Devan masih menggunakan suara yang lembut. Tak lupa usapan sayang di kepala sang anak.


"Paham Ayah, kita gak akan ulangi lagi," jawab keduanya lagi lagi dengan kompak.


"Bagus girls, itu baru namanya anak Ayah dan Bunda." ucap sang Bunda yang tiba tiba sudah ada di dalam kamar Jingga.


"Ya sudah sekarang baikan gih, jangan gini lagi," pinta sang Ayah dan langsung di laksanakan oleh keduanya.


"Maafin kakak ya Dek," ucap Jingga sambil mengulurkan tangannya.


"Maafin Senja juga ya kak." Senja menyambut uluran tangan sang kakak.


Mereka lantas berpelukan dan tertawa bersama, sedangkan sang ayah dan bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu.


"Dasar kalian ini," ucap Bunda dan berlalu keluar bersama sang suami.


Baru beberapa langkah mereka keluar dari kamar sang anak, hal yang sama sudah terjadi lagi.


"Senja!" teriak Jingga dengan kerasnya.


"Hahaha, apa?" tanya Senja dengan tawa yang keras dan berlari masuk ke kamarnya.


"Ya Allah, mas," desah Naya dan hanya di sambut tawa oleh sang suami.


*****®


Ada saja yang di ribut kan.


Nih anak dua emang kudu di apain ya 😅

__ADS_1


Kasih bunga, vote, bintang dan like kali ya hehehehe.


__ADS_2