Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
71. S. Part 1


__ADS_3

Happy reading yes...


*****®


Tanpa terasa kini kehidupan baru yang di jalani Devan dan Naya di tempat baru sudah memasuki tahun ke lima, banyak hal yang telah berubah, dan yang paling terlihat adalah keberhasilan Devan mengembangkan perusahaan, hingga kini dalam kurun waktu 5 tahun , perusahan sudah berkembang dengan pesat tanpa embel embel Angkasa di belakangnya.


Bahkan bukan hanya di. negara S saja, kini sudah merambah ke berbagai negara. Devan benar benar bekerja keras untuk itu semua, dan kini hanya tinggal 2 tahun saja, dia akan kembali ke negaranya. Devan berencana akan membuka kantor di sana dan akan menjadikan kantor utama.


Kehidupan yang di rasa semakin sempurna, dengan tumbuh kembang anak anak yang begitu bagus, Langit yang kini sudah berusia 8 tahun, dan si kembar yang sudah memasuki usia 5 tahun.


Langit tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas, baik, ramah, ya meski sikap dingin masih mendominasi nya.


Sedangkan si kembar, yang saat ini sudah memasuki sekolah TK terlihat sikap usilnya, bagaimana tidak setiap hari Devan dan Naya harus menerima laporan dari kejahilan sang anak.


"Ya Allah, kalian ini berbuat apa lagi sih?" tanya Naya dengan gemas, saat dirinya berada di ruang guru kelas anaknya. Seperti biasa, setiap hari Naya atau Devan akan datang ke sekolah karena mendapat laporan yang sama.


"Kami hanya main Bun, ya kak Senja?" jawab Jingga mencari dukungan.


"Yes Bun, kami cuma main, memang kenapa?" tanya Senja dengan wajah polosnya. Tapi berhasil membuat Naya semakin gemes saja.


"Main ya? hanya main ya?" Naya bertanya lagi dengan gemas dan menepuk keningnya.


"Yes Bun, memang kami ngapain sih Bun?ada yang salah ya?" tanya Jingga dan Senja secara bersama sama dengan mengerjap ngerjap matanya, dan hal itu sukses membuat Naya menghela nafas berat.


"Sayang, kenapa kalian tadi ngumpetin pensil dan kotak warna teman kalian?" Naya bertanya dengan nada yang dibuat selembut mungkin.


"Kita gak ngumpetin kok Bun, kan kita cuma pinjam terus lupa gak di kembalikan," Jingga menjawab dengan polosnya.

__ADS_1


"Iya kan cuma kita kasihkan di dekat rak sepatu, habisnya lupa," kini giliran Senja yang menjawab.


Sedangkan Naya dan sang guru menepuk keningnya tanda frustasi, mereka benar benar di uji dengan tingkah kedua anak cantik itu.


"Huft, sayang lain kali kalo pinjam bilang ya, dan terus di kembalikan dengan benar, jangan di taruh di sembarang tempat," Naya mencoba memberikan pengertian.


"Kita sudah bilang, ya kan Kak?" jawab Senja yang kini beralih menatap sang kakak.


"Iya kita tadi bilang dan minta ijin kok Bun," Jingga membenarkan ucapan adiknya.


"Lalu kalo kalian sudah bilang dan minta ijin, kenapa teman kalian tidak tau? kalian ijinnya bagaimana?" Naya masih mencoba terus bersabar.


"Kita bilang pas dia sedang makan jajan di luar Bun, kan pas itu istirahat, yang penting kan sudah bilang," dengan polosnya Jingga kembali menjawab dan di dukung dengan anggukan oleh sang adik.


"Ya Allah," desah Naya frustasi sedangkan sang guru berusaha untuk menahan tawa dan gemas yang datang bersamaan.


"Oh kita salah ya Bun," dan lagi lagi dengan wajah mengerjap lucu dan jawaban polos mereka membuat Naya gemas.


"Iya lain kali jangan di ulangi ya sayang," Naya masih mencoba memberikan pengertian.


"Eng..., ya Bun, lain kali kita tidak akan mengulangi lagi, tapi lain kali kami akan bilang," jawab keduanya dengan kompak.


Akhirnya Naya menghembuskan nafasnya lega, meski tidak sepenuhnya. Naya merasa sangsi pasalnya sang anak akan bilang tidak lagi, memang, tapi ganti yang lain lagi.


Hal itu membuat Naya dan Devan harus berulang kali meminta maaf kepada para orang tua yang anaknya di jahili oleh si kembar.


Sedangkan Langit yang sejak tadi ikut menyaksikan hanya diam dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah semua selesai, kini mereka bersiap untuk pulang, lagi lagi si kembar bikin ulah, mereka menarik sabuk pengaman yang di pakai oleh supir pribadi ibunya.


"Ya Allah Jingga Senja, bisa sopan tidak, kasihan pak Amir kaget!" kali ini Naya sedikit membentak mereka.


"Tidak apa apa nyonya, saya sudah biasa," pak Amir yang tidak tega berusaha menenangkan nyonya nya itu.


"Tidak bisa pak, sudah jangan bela mereka, mereka memang sudah kelewatan," Naya masih saja marah.


"Sudah Bun, jangan marah ya," Langit menenangkan.


"Iya bang, huh kalian ini," Naya masih merasa heran dengan sikap anak kembarnya.


"Hey kalian, bisa tidak sehari gak bikin ulah?" tanya Langit dengan nada rendah dan tatapan mengintimidasi sang adik kembar.


"Kami tidak bikin ulang Abang," masih mengelak jawaban mereka.


"Oh masih berani menjawab ucapan Abang? mau Abang kirim ke kak Aby?" tanya Langit dengan sedikit ancaman.


"Ampun Abang, gak lagi, janji deh," kini keduanya merasa takut jika harus berhadapan dengan sang kakak sepupu yang terkenal dingin dan tanpa ampun.


"Hem, maka bersikap baiklah," jawab Langit, yang langsung di patuhi keduanya. Sedangkan Naya hanya bisa menggeleng kepala sebagai tanda betapa pusing dirinya.


*****®


Wkwkwkkwk... masih awal udah bikin pusing, mari kita berpusing ria dengan ulah si kembar.


Nah mumpung hari Senin, saat nya kalian vote ya, gift, like, komen, rate bintang 5 ya semangat hehehehe.

__ADS_1


Terimakasih 🤗


__ADS_2