
Happy reading yess...
*****®
Masih seputar Jingga dan Bintang ya.
Hari telah berlalu, tapi rasa merindu semakin gila. Ingin hati bertemu dan bertegur sapa, tapi ada daya ternyata nyali tidak sebesar gajah. Harapan kian di pupuk, meski ragu kadang meraja hati. Ada rasa yang tak sampai, dikala sang pujaan dekat dengan pandangan.
Hati berbisik lirih, memohon untuk bertemu sang tuan rumah, namun ego menghalangi jalan. Rasa malu akan masa yang telah lalu, menjadi momok yang mengerikan untuk melanjutkan langkah.
Bimbang, satu kata berjuta rasa. Ingin maju agar rindu tak semakin membelenggu, atau tetap diam di tempat hingga rindu kian merajai. Bibir bergetar kala raga melihat wajahnya, namun terasa kelu saat akan berucap.
"Melamun saja, hayo." Jingga terjengkang saking kagetnya, saat mendengar suara paling dia kenali merusak semua angannya.
"Bisa gak sih, gak usah ganggu? salah gue apa coba? gue udah diem lho!" dumel Jingga yang merasa malas meladeni si kembaran.
"Ah, sensi amat Bu..., lagi galon ya?" ejek Senja, yang seakan mendapatkan angin segar untuk membalas Jingga.
"Serah, males gue." bukanya menanggapi, Jingga memilih bersiap untuk ke studio musik miliknya.
Hari ini ada jadwal mengajar musik anak anak SMP, dan Jingga sangat menyukai itu. Baginya dengan mengajar musik, semua beban seakan sirna begitu.
"Lah lah, mau kemana?" tanya Senja yang memang tidak tau jadwal Jingga.
"Studio." jawab Jingga singkat dan langsung melenggang keluar kamar.
"Lah, gue di tunggal sendiri, terus ngapain ya?" gumam Senja yang tidak ada kegiatan hari ini.
Jingga, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena memang jam mengajarnya masih ada setengah jam lagi. Dengan bersenandung kecil menirukan lagu yang dia putar di mobil. Lagu yang ternyata mewakili dirinya.
"Anak anak sudah pada datang Rin?" tanya Jingga, begitu dia sampai di studio miliknya.
"Ada beberapa yang sudah sampai Bu," jawab Rindu sopa.
Rindu adalah asisten Jingga di studio musik, Usianya yang masih muda dari Jingga, menjadikan Jingga hanya memanggilnya dengan nama saja.
"Baiklah, saya keruangan dulu ya, nanti kalo udah datang semua kabari ya," meski di sini dia bosnya, tapi tetap saja Jingga menjadi pribadi yang ramah.
__ADS_1
"Baik Bu." jawab Rindu sopan.
Acar kelas di mulai, semua anak anak sangat antusias. Meski hanya ada sepuluh anak saja, tapi itu justru menjadi semangat untuk semua. Jingga memang tidak mau menerima murid terlalu banyak, karena takut jika tidak bisa efektif. Saat ini semua muridnya sudah pulang, sedangkan dirinya kembali ke ruangannya. Entah apa yang sedang dia kerjakan, hanya saja dia sangat fokus, hingga ketukan pintu mengalihkan fokusnya.
"Ada apa Rin?" tanya Jingga heran, dia kira Rindu sudah pulang.
"Ada yang nyari Bu, dia ada di depan, laki laki." jawab Rindu yang sebenarnya heran, karena tidak pernah melihat laki laki itu sebelumnya.
"Siapa ya? apa salah satu orang tua murid sini?" tanya Jingga yang ikut heran.
"Sepertinya tidak Bu, karena masih muda, jika di lihat seumuran sama Bu Jingga, dan dia bilang mau bertemu dengan Bu Jingga.
Deg
Seketika hati Jingga merasa deg degan yang tiba tiba, entah kenapa dia merasa gugup menyerang nya.
Ada apa dengan hatinya.
"Bu, Bu, bagaimana?" suara Rindu, menyadarkan dari lamunannya.
Setelah Rindu keluar, Jingga kembali tenggelam dengan lamunannya. Dia bahkan tidak sadar jika orang yang ingin menemuinya sudah duduk anteng di depannya. Laki laki itu hanya diam saja, menikmati pemandangan indah di depan matanya. Hingga sepuluh menit berlalu, akhirnya dia merasa gemas juga dengan gadis di depannya yang masih anteng dengan pandangan jauh.
"Hem," dehem laki-laki itu dengan keras dan mendekatkan wajahnya.
"Eh, hah!" Jingga menjengit kaget, saat dia mendengar deheman seseorang, dan bahkan wajahnya sudah berada di depannya hanya berjarak beberapa centimeter saja.
"Jangan melamun terus, melamun apa? apa lagi ngelamunin saya?" tanya laki laki itu iseng.
"Apaan sih, eh kok kamu ada di sini?" Jingga bertanya dengan berusaha mengurangi rasa gugupnya.
"Lah kan tadi saya udah bilang mau ketemu kamu, ada apa? mau lari lagi?" sindir sang laki laki di depannya.
"Bu bukan begitu. aku eh gue hanya bertanya saja." lagi lagi Jingga gagal menguasai rasa gugupnya.
"Kenapa gugup? apa saya terlalu tampan?" canda laki laki itu lagi.
"Gak, apaan sih Bin, Lo kesini mau ada perlu apa? dan kok bisa tau alamat ini?" berusaha dengan keras menutupi gugup nya.
__ADS_1
"Saya mau mengembalikan ini, bukankah di sana lengkap semua?" jawab Bintang dengan santai seraya mengeluarkan buku diary yang beberapa hari lalu dia temukan.
Wajah Jingga berubah pucat, dia benar benar mati kutu. Semua, semua tentang Bintang tertulis di sana, meski tidak pernah menulis secara langsung nama dia, tapi selalu ada inisal di setiap untaian kata yang dia tulis.
"Mati aku," batin Jingga, merasa malu dan juga bingung.
"Kenapa? gugup? atau kamu kenapa? kok tiba-tiba pucat gitu? sakit kah?" Bintang seolah tidak paham dan malah mendekatkan tangannya menyentuh kening Jingga.
"Gue gak apa apa, dan makasih udah di balikin," berusaha dengan keras agar tidak semakin gugup.
"Hem, ada imbalannya." tanpa rasa bersalah, Bintang mengatakannya dengan seringai di wajahnya.
"A apa?" Jingga jadi was was.
"Besok malam, saya jemput kamu, kita akan makan malam di salah satu restoran yang sudah saya pilih dan tidak ada penolakan!" kalo ini Bintang berkata dengan nada tegas dan tatapan mengintimidasi.
"I iya." jawab Jingga singkat.
"Oke, kalo gitu saya pamit." Bintang langsung berdiri dan berjalan keluar, tapi dia berhenti di ambang pintu, selanjutnya dengan cepat dia berjalan ke arah Jingga.
"Jangan lari lagi, sayang. Cup." dengan berbisik Bintang mengatakannya dan detik selanjutnya, perbuatan Bintang sukses bikin Jingga, diam mematung.
Hingga tanpa sadar, Bintang sudah tidak ada di depannya. Jingga masih saja diam mematung, mencerna semua yang terjadi dengan cepat nya.
"Bu, Bu Jingga kenapa?" Rindu menyadarkan Jingga kesekian kalinya.
"Ah iya, saya baik." Jingga menjawab dengan masih setengah sadar.
"Demi apa? tadi dia panggil gue sayang, dia cium gue? mimpi apa gue?" gumam Jingga yang refleks memegang pipinya.
******®
Cie cie yang dapat emmm.
Eh bang Bintang, main cium cium saja.
Key Gift nya yang buanyakkkk, besok biar up lagi yang banyak pula.
__ADS_1